Komentar Telak Donald Trump saat DeepSeek AI China Jadi Sorotan Perusahaan AS
Donald Trump mengungkapkan pandangannya mengenai ancaman ini dan mendorong Silicon Valley untuk meningkatkan daya saingnya.
DeepSeek, sebuah model AI yang dikembangkan oleh laboratorium asal China, kini membuat perusahaan-perusahaan teknologi di Silicon Valley merasa terancam. Hal ini disebabkan oleh klaim bahwa lab AI yang didirikan oleh Liang Wenfeng ini lebih cepat dan lebih terjangkau dibandingkan dengan ChatGPT yang dibuat oleh OpenAI.
DeepSeek AI menarik perhatian banyak pihak karena mampu menciptakan model AI dalam waktu hanya dua bulan dengan biaya kurang dari USD 6 juta, serta dikembangkan menggunakan chip Nvidia H800. Kehadiran DeepSeek ini pun memicu respons dari Presiden Amerika Serikat ke-47, Donald Trump.
Dalam pernyataan yang dikutip dari South China Morning Post pada Selasa (28/1), Trump menyatakan bahwa kehadiran AI asal China ini merupakan peringatan serius bagi sektor teknologi di Amerika.
"Belakangan ini, saya banyak membaca tentang China dan beberapa perusahaan di sana, terutama satu perusahaan yang menemukan metode AI yang lebih cepat dan jauh lebih murah," ungkap Trump.
Ia juga menambahkan, "Peluncuran DeepSeek AI seharusnya menjadi sinyal bagi industri kita untuk lebih fokus bersaing demi memenangkan persaingan ini, karena kita memiliki ilmuwan-ilmuwan terbaik di dunia."
Dengan demikian, persaingan antara Amerika Serikat dan China dalam bidang AI semakin memanas. Dengan investasi yang besar, perusahaan teknologi China berhasil menyaingi inovasi yang sebelumnya didominasi oleh AS.
Kini, pertanyaan yang muncul adalah langkah apa yang akan diambil oleh OpenAI atau Google terkait dengan semakin populernya DeepSeek AI?
Gelontorkan Duit Besar
Perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat saat ini sedang bersaing untuk menginvestasikan dana yang besar guna menciptakan kecerdasan buatan (AI) terbaik, lengkap dengan pusat data yang mendukungnya.
Dalam serangkaian pengujian yang dilakukan oleh pihak ketiga, model AI bernama DeepSeek berhasil menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan dengan model AI lainnya seperti Meta, Llama 3.1, GPT-4o dari OpenAI, serta Claude Sonnet 3.5 dari Anthropic.
Keunggulan ini terlihat dari akurasi dalam menyelesaikan masalah yang kompleks, termasuk dalam bidang matematika dan pengkodean.
Sebelumnya, DeepSeek juga telah meluncurkan model DeepSeek r1, yang menunjukkan kemampuan penalaran yang lebih unggul dibandingkan dengan model penalaran o1 milik OpenAI dalam berbagai pengujian yang dilakukan oleh pihak ketiga.
Menjadi Ancaman Perusahaan-perusahaan di AS
CEO Microsoft, Satya Nadella, memberikan pernyataan di Forum Ekonomi Dunia yang berlangsung di Davos, Swiss, pada hari Rabu lalu mengenai inovasi DeepSeek.
"Melihat model AI baru DeepSeek, sangat mengesankan dalam hal bagaimana mereka membuat open source yang melakukan komputasi secara efektif dan efisien," kata Nadella.
Nadella juga menekankan pentingnya bagi perusahaan teknologi asal Amerika Serikat untuk merespons perkembangan AI di Tiongkok dengan serius.
Walaupun DeepSeek memiliki kemampuan yang dianggap dapat melampaui teknologi dari perusahaan-perusahaan AS, mereka masih dihadapkan pada tantangan terkait pembatasan semikonduktor dan chip yang diterapkan oleh AS terhadap Tiongkok.
Aturan ini mengakibatkan Tiongkok kehilangan akses terhadap chip canggih seperti H100 dari Nvidia. Namun, kemajuan yang ditunjukkan oleh Tiongkok dengan DeepSeek AI menunjukkan bahwa laboratorium tersebut mulai menemukan cara untuk mengatasi kendala yang ada. Ini seolah menjadi bukti bahwa pembatasan ekspor bukanlah hambatan yang tidak bisa dilalui.