Fajar di 17 Agustus 1945 mulai menyingsing. Hari itu bertepatan pada hari Jumat, 9 Ramadan 1364 H. Matahari perlahan muncul dari ufuk timur, para pemimpin bangsa dan tokoh pemuda meninggalkan rumah Laksamana Tadashi Maeda. Seorang tokoh militer Jepang yang dekat dengan tokoh bangsa.
Mereka baru saja melewati malam panjang dan penuh gejolak. Di rumah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang itu, teks Proklamasi dirumuskan hingga dini hari. Setelah melalui perdebatan panas, mereka mencapai satu kesepakatan: kemerdekaan Indonesia akan diproklamasikan hari itu juga.
Sebelum meninggalkan rumah Maeda, Mohammad Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja di kantor pers dan kantor berita. Naskah Proklamasi harus diperbanyak dan disebarkan agar kabar kemerdekaan Indonesia segera diketahui dunia.
Perdebatan menentukan lokasi proklamasi tak kalah panas. Menurut Soebardjo dalam bukunya Lahirnya Republik Indonesia (1978), Sukarni menyerukan rakyat Jakarta berbondong-bondong ke Lapangan IKADA 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan. Usulan itu ditolak mentah-mentah oleh Soekarno.
"Tidak," kata Soekarno.
"Lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya di Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden?," tegas Soekarno.
Karena waktu makin mendesak, lokasi proklamasi kemerdekaan Indonesia ditentukan: Rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Waktunya pukul 10.00 pagi.
Jalan Pegangsaan Timur 56 mulai dipadati rakyat. Menjelang pukul 10.00, persiapan dilakukan di rumah Soekarno. Soewirjo, Wakil Wali Kota Jakarta, meminta Mr. Wilopo menyiapkan mikrofon dan pengeras suara. Sementara itu, Sudiro meminta S. Suhud menyiapkan tiang bendera.
Dalam suasana yang serba tegang, Suhud justru tidak teringat bahwa dua tiang bendera dari besi masih berdiri di depan rumah Soekarno. Ia memilih mencari sebatang bambu di belakang rumah.
Bambu itu kemudian dibersihkan dan diberi tali. Tiang sederhana tersebut ditanam beberapa langkah dari teras rumah.
Bendera Merah Putih yang akan dikibarkan juga telah tersedia. Bendera pusaka yang dijahit tangan istri Soekarno, Fatmawati. Bentuk dan ukurannya tidak sepenuhnya standar karena kain yang digunakan memiliki ukuran terbatas, yang memang bukan disiapkan khusus sebagai bendera.
Sementara persiapan berlangsung, rakyat terus berdatangan. Halaman rumah Soekarno dipenuhi pemuda dan warga yang berdiri dalam barisan. Di tengah kerumunan, suasana tidak sepenuhnya tenang. Sebagian orang gelisah dan khawatir tentara Jepang akan mengacaukan jalannya Proklamasi.
Waktu terus berjalan. Matahari semakin tinggi, tetapi Proklamasi belum juga dimulai. Di dalam rumah, Soekarno masih beristirahat. Kondisinya tidak sedang prima. Malam sebelumnya, ia mengalami demam hingga 40 derajat dan baru tidur setelah perumusan teks Proklamasi selesai.
Sementara itu, rakyat yang telah menunggu sejak pagi mulai tidak sabar. Para pemuda bahkan mendesak agar Soekarno segera membacakan Proklamasi. Namun, Soekarno tidak bersedia memulai tanpa Mohammad Hatta.
Lima menit sebelum acara dimulai, Hatta akhirnya tiba. Mengenakan pakaian putih-putih, ia langsung menuju kamar Soekarno. Kedatangan Hatta membuat Soekarno bangkit dari tempat tidurnya. Ia kemudian mengenakan pakaian putih dan bersiap menuju tempat upacara bersama Hatta.
Advertisement
Lima Menit yang Mengubah Indonesia
Di luar, rakyat masih menunggu. Menurut gambaran Marwati Djoened Poesponegoro dalam Sejarah Nasional Indonesia, upacara itu berlangsung sederhana. Tidak ada protokol yang rumit.
Tidak ada panggung kenegaraan seperti yang dikenal Indonesia sekarang. Tidak ada seremoni panjang. Latief Hendraningrat, anggota PETA, memberikan aba-aba kepada barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi. Serentak mereka berdiri tegak.
Soekarno dan Mohammad Hatta kemudian maju beberapa langkah menuju mikrofon. Di hadapan rakyat yang memenuhi halaman rumahnya, Soekarno berdiri dan mulai berbicara.
Dengan suara mantap dan jelas, Bung Karno menyampaikan pidato pendahuluan singkat. Beberapa saat kemudian, teks yang telah dirumuskan sepanjang malam itu akan dibacakan.
Dia mengingatkan perjuangan panjang bangsa Indonesia dan mengatakan bahwa saatnya telah tiba bagi bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri.
"Sekarang tiba lah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya," kata Soekarno dalam pidatonya dengan lantang.
"Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita," ujar Soekarno melanjutkan.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia pun dimulai. Setelah pembacaan Proklamasi, acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih.
Hanya selama itu pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung. Harry Poeze dan Henk Schulte Nordholt mencatat durasi singkat tersebut dalam Merdeka: The Struggle for Indonesian Independence and the Republic’s Precarious Rise, 1945–1950.
“Pembacaan Proklamasi, beserta beberapa kalimat pengantar dan penutup, hanya memakan waktu lima menit.”
Soekarno dan Mohammad Hatta melangkah maju beberapa langkah, menuruni anak tangga terakhir dari serambi rumah. Keduanya berdiri sekitar dua meter di depan tiang bendera yang telah disiapkan secara sederhana.
S. K. Trimurti sempat diminta untuk mengibarkan bendera. Namun, dia menolak. Menurutnya, tugas tersebut lebih baik dilakukan seorang prajurit. Tanpa menunggu perintah, Latief Hendraningrat, anggota PETA yang mengenakan seragam hijau, bergerak menuju tiang bendera.
Suhud mengambil bendera Merah Putih dari atas baki yang telah disiapkan. Ia kemudian mengikatkan bendera pada tali dengan bantuan Latief.
Bendera mulai dinaikkan perlahan. Tidak ada yang memimpin nyanyian. Namun, begitu Merah Putih bergerak naik, hadirin secara spontan menyanyikan Indonesia Raya.
Bendera dikerek dengan sangat perlahan, mengikuti irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Merah Putih pun terus bergerak ke atas hingga akhirnya berkibar di tiang sederhana di halaman rumah Soekarno.
Poeze mencatat lima menit itu dengan sangat sederhana. Tetapi dari halaman rumah di Pegangsaan Timur 56, lima menit tersebut menjadi pintu masuk bagi sebuah Republik yang sangat rapuh. Tidak ada kerangka pemerintahan yang terorganisasi dengan baik dan belum tersedia rencana matang mengenai masa depannya.
Advertisement
Setelah Proklamasi, Berita Kemerdekaan Segera Disebar
Proklamasi telah dibacakan. Namun, bagi para pemuda yang menyaksikannya, pekerjaan belum selesai. Kabar tentang kemerdekaan Indonesia harus segera disebarkan.
Dalam buku Catatan BM Diah: Peran "Pivotal" Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-'45 (2018), BM Diah mengisahkan salah satu momen penting yang terjadi setelah perumusan teks Proklamasi. Ia menyaksikan langsung proses pengetikan naskah oleh Sayuti Melik.
Setelah teks selesai diketik, masih ada satu lembar kertas berisi coretan rumusan Proklamasi yang tertinggal. BM Diah menyadari nilai sejarah kertas tersebut dan segera mengambilnya.
”Secepat kilat, saya ambil kertas sepotong yang bercorat-coret itu, yang bernilai sejarah, yang tidak boleh dilupakan oleh bangsa Indonesia dari angkatan ke angkatan. Ia ditinggalkan, terlupakan oleh Sayuti Melik,” kenang BM Diah.
Tak berhenti di sana, BM Diah segera bergerak menuju kawasan Pecenongan. Tujuannya satu, mencari percetakan yang bisa membantu menyebarkan kabar kemerdekaan.
Di kawasan tersebut terdapat percetakan Siliwangi milik Ili Sasmita, seorang warga Indonesia yang telah dikenal BM Diah. Di tempat itulah lembaran berisi berita Proklamasi kemudian dicetak.
Bersama seorang sopir truk bernama Boos, BM Diah membawa hasil cetakan itu untuk disebarkan ke berbagai kawasan di Jakarta. Sekitar 1.000 lembar informasi mengenai Proklamasi dicetak dan diedarkan.
"Tidak ada orang lain yang dapat mencetak sebaran sepagi itu. Indah sekali perkataan proklamasi di atas kertas putih," kenang BM Diah.
Bendera akhirnya berkibar.
Indonesia Raya terdengar.
Dan lima menit proklamasi itu mengubah arah bangsa.
Tapi selepas momen itu, perjuangan Indonesia justru baru dimulai.