Jangan Kaget, Penjelasan Ilmuwan Psikologi Ini tentang Orang-orang yang Suka Selfie

Tak dimungkiri kini banyak orang suka selfie. Setelah itu, mereka akan memostingnya di laman media sosial seperti Instagram. Di dalam persepsi sebagian orang, foto selfie dengan beragam background kerap dipandang sebuah kesombongan. Benarkah?

Rita
Oleh Rita - Reporter
Jangan Kaget, Penjelasan Ilmuwan Psikologi Ini tentang Orang-orang yang Suka Selfie
Ilustrasi selfie. ©2018 Merdeka.com/Pixabay

Tak dimungkiri kini banyak orang suka selfie. Setelah itu, mereka akan memostingnya di laman media sosial seperti Instagram. Di dalam persepsi sebagian orang, foto selfie dengan beragam background kerap dipandang sebuah kesombongan.

Namun ada sebuah riset yang membantah anggapan tersebut. Riset ini diterbitkan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science yang dilakukan oleh para peneliti Ohio State University di AS. Riset tersebut menyebut bahwa orang melakukan selfie bukan hanya ingin menunjukan kesombongannya semata.

"Tidak harus mencerminkan kesombongan," kata Lisa Libby, seorang profesor psikologi dari The Ohio State University dilansir dari laman Independent, Sabtu (29/4).

"Foto-foto dengan Anda di dalamnya dapat mendokumentasikan makna yang lebih besar dari sebuah momen," tambah dia.

Lisa merupakan salah satu tim dari riset tersebut. Menurut Lisa, mereka melakukan selfie ingin menangkap makna yang lebih mendalam soal pengalaman. Misalnya, saat mereka menggunakan fotografi orang pertama, mengambil foto pemandangan dari sudut pandang sendiri, itu karena mereka ingin mendokumentasikan pengalaman fisik.

"Meskipun terkadang ada cemoohan tentang praktik pengambilan foto dalam budaya populer, foto pribadi memiliki potensi untuk membantu orang terhubung kembali dengan pengalaman masa lalu mereka dan membangun narasi diri mereka," ujar Zachary Niese seorang peneliti yang ikut juga dalam melakukan riset tersebut.

Sebagai bagian dari penelitian, para ahli melakukan enam percobaan yang melibatkan 2.113 peserta. Pada salah satunya, para peserta diminta untuk membaca skenario di mana mereka mengambil foto, seperti di pantai dengan seorang teman dekat, dan menilai pentingnya dan kebermaknaan dari pengalaman tersebut.

Para peneliti mengatakan bahwa semakin tinggi peserta menilai makna momen tersebut bagi mereka, semakin besar kemungkinan mereka akan mengambil foto dengan diri mereka sendiri di dalamnya.

Dalam percobaan lain, para peserta memeriksa foto yang mereka posting ke akun Instagramnya. Hasilnya menunjukkan bahwa jika foto tersebut menampilkan peserta dalam pengambilan gambar, mereka cenderung mengatakan bahwa foto tersebut membuat mereka memikirkan makna yang lebih besar dari momen tersebut.

Sementara itu, para peneliti menemukan bahwa foto-foto yang menampilkan pemandangan dari sudut pandang visual mereka sendiri membuat mereka berpikir tentang pengalaman fisik. Para ilmuwan kemudian meminta para peserta untuk kembali membuka postingan Instagram terbaru yang menampilkan salah satu fotonya.

"Kami menemukan bahwa orang tidak terlalu menyukai foto mereka jika ada ketidaksesuaian antara perspektif foto dan tujuan dalam mengambil foto," kata Libby.

Misalnya, jika mereka mengatakan bahwa tujuan untuk mengabadikan makna momen tersebut, mereka lebih menyukai foto tersebut diambil sebagai orang ketiga, dengan diri mereka sendiri di dalam gambar tersebut.

Rekomendasi