Digitalisasi Aksara Sunda Stagnan, Filolog Kirim Surat Terbuka untuk Ridwan Kamil

Rabu, 16 Desember 2020 12:14 Reporter : Syakur Usman
Digitalisasi Aksara Sunda Stagnan, Filolog Kirim Surat Terbuka untuk Ridwan Kamil Program digitalisasi aksara daerah oleh PANDI. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Pegiat aksara Sunda, Ilham Nurwansah dan Dadan Sutisna, mengirimkan surat terbuka di laman Facebook untuk Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada Selasa (15/12). Karena pemerintah provinsi tidak merespons surat mereka yang meminta dukungan untuk pendaftaran aksara Sunda ke lembaga internet dunia, Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN).

Rupanya beberapa upaya yang dilakukan Ilham dan Dadan terhambat birokrasi di Pemprov Jawa Barat.

“Karena surat kami tak berbalas, pada 22 Juni 2020 kami berkunjung ke Dinas Pariwisata dan Budaya Pemprov Jawa Barat. Namun, belum ada tindak lanjut yang diharapkan. Pada bulan kemarin pun Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) yang mendukung inisiatif kami mengirimkan surat lagi, tapi masih belum ada kabar baik,” kata Ilham dalam rilisnya, Rabu (16/12).

Menurut Ilham yang juga Filolog Sunda, pihaknya tidak mengharapkan dukungan materi dari pemprov, melainkan hanya surat dukungan sesuai format dari ICANN. Faktanya, dalam beberapa urusan, birokrasi sering memperlambat sehingga dia menyakini upaya digitalisasi aksara Sunda ini belum sampai kepada gubernur.

Di suratnya, Ilham juga menulis, kami ingin mengabarkan bahwa mulai tahun ini, atas inisiatif PANDI, tengah berlangsung upaya digitalisasi aksara daerah di Indonesia. Ya, ini tentang teknologi informasi dan internet. Tentang bagaimana aksara di belahan dunia bisa bercengkerama dalam perangkat-perangkat digital, termasuk seharusnya aksara Sunda juga ikut terlibat.

Dadan menambahkan, pengurus PANDI sering berkunjung ke Bandung untuk merealisasikan digitalisasi aksara Sunda dan meluangkan waktu serta anggaran. Namun, program aksara Sunda seperti jalan di tempat.

Kekecewaan Dadan memuncak ketika lomba website aksara Sunda yang diumumkan sejak beberapa bulan lalu terpaksa harus diperpanjang durasinya hingga 31 Januari 2021, karena minimnya dukungan pemerintah daerah.

"Kami bersama Ilham yang ikut membantu merasa malu, jika menyaksikan antusiasme provinsi lain. Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, selain menyelesaikan kegiatan lomba, mereka juga mendapat dukungan penuh dari gubernurnya. Mereka beberapa kali beraudiensi dengan PANDI dan menyusun dokumen-dokumen yang diperlukan. Mungkin bapak (gubernur) pernah menyaksikan pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X pada acara Selebrasi Digitalisasi Aksara Jawa, seperti itulah sambutan mereka terhadap indentitas budayanya,” ucap Dadan.

Ilham menegaskan PANDI tentu bukan pemilik aksara Sunda. Namun, untuk meluluskan rencana digitalisasi aksara Sunda, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi. Pertama, aksara Sunda terbukti digunakan di laman web, yang ini bisa diupayakan melalui lomba website aksara Sunda.

Kedua, mendapat dukungan dari lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat. Padahal PANDI sudah menyurati setiap daerah, tapi respons dari pemerintah Jawa Barat nyaris tak terdengar. PANDI melakukan itu karena perhatian pada pengembangan budaya di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan dunia digital.

"Melalui program ‘Merajut Indonesia’, PANDI ingin melakukan digitalisasi semua aksara di Indonesia, antara lain dengan mendaftarkan enkripsi aksara ke ICANN. Ini sepertinya sederhana, tapi sangat penting. Melalui pendaftaran ke ICANN, aksara Sunda dapat dijadikan nama domain atau URL,” tuturnya.

Baca Selanjutnya: Dukungan Pemerintah Rendah...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini