Samsung dan LG, dua chaebol terbesar Korea Selatan, memiliki sejarah panjang persaingan yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun. Meski keduanya adalah kebanggaan nasional, rivalitas mereka sering menjadi headline, mencakup produk elektronik, semikonduktor, hingga inovasi teknologi terbaru.
Rivalitas ini bermula dari pendiri mereka, Lee Byung-chull (Samsung) dan Koo In-hwoi (LG), yang awalnya memiliki hubungan harmonis sebagai keluarga besar.
Namun, hubungan itu retak ketika Samsung memutuskan masuk ke bisnis elektronik pada 1969, wilayah yang sudah dikuasai LG. Keputusan ini dianggap sebagai "pengkhianatan" oleh Koo, sehingga mengubah hubungan dekat mereka menjadi persaingan sengit.
Samsung dan LG berkompetisi dalam berbagai sektor, termasuk televisi, perangkat rumah tangga, dan smartphone. Di industri televisi, Samsung lebih unggul dengan layar QLED, sementara LG menjadi pelopor teknologi OLED.
Di pasar smartphone, Samsung Galaxy menjadi simbol global, sementara LG G Series tetap mempertahankan penggemarnya di pasar tertentu. Walaupun saat ini LG tak lagi merilis smartphone.
Advertisement
Langkah terbesar Samsung adalah memasuki bisnis semikonduktor pada 1983. Meski awalnya diremehkan, Samsung berhasil mengembangkan DRAM 64K di tahun yang sama dan terus memimpin pasar memori global sejak 1993. Semikonduktor menjadi kekuatan inti Samsung, membedakannya dari LG yang lebih fokus pada elektronik konsumen.
Samsung dan LG bukan hanya perusahaan teknologi, tetapi juga institusi ekonomi. Mengutip CNET, Selasa (20/1), pada 2013, pendapatan Samsung mencapai 334 triliun won, hampir 25% dari PDB Korea Selatan, sementara LG mencatat 150 triliun won pada 2024. Rivalitas ini telah mendorong inovasi, memperkuat posisi Korea sebagai superpower teknologi dunia.
Meski sering bersaing, ada momen langka ketika keduanya saling memuji, seperti pada Mobile World Congress 2015. Kala itu, Co-CEO Samsung JK Shin memuji LG Watch Urbane, sementara bos seluler LG Juno Cho memuji smartphone baru Samsung Galaxy S6 dan S6 Edge. Namun, di balik persaingan, hubungan mereka tetap profesional, saling mendorong untuk terus berinovasi.