Arkeolog Dikejutkan dengan Temuan Keju di Kepala dan Leher Mumi Kuno Sekitar 20 tahun lalu, sekelompok arkeolog menemukan sesuatu yang tidak biasa di kepala dan leher beberapa mumi di pemakaman Xiaohe, yang terletak di Cekungan Tarim, Tiongkok Barat Laut.
Zat berwarna keputihan tersebut terlihat sangat tua, namun tidak ada seorang pun tahu persis apa itu. Kini, sebuah penelitian baru menemukan bahwa apa yang sedang dilihat adalah keju tertua di dunia. Mumi-mumi di Cekungan Tarim ini berasal dari periode sekitar 3.300 hingga 3.600 tahun yang lalu, atau pada masa Zaman Perunggu.
Mengutip IFLScience, Jumat (27/9), dengan kemajuan teknologi analisis DNA selama lebih dari satu dekade, tim arkeolog mampu mengidentifikasi bahwa zat putih tersebut adalah sejenis keju. Mereka berhasil mengekstraksi DNA mitokondria dari sampel itu, menemukan jejak DNA sapi dan kambing, serta materi genetik dari mikroorganisme lainnya.
Keju kuno ini adalah keju kefir, mirip dengan yogurt namun lebih asam dan memiliki konsistensi yang lebih kental. Menariknya, bakteri dan jamur yang ada dalam keju tersebut ternyata sama dengan yang ditemukan dalam biji kefir saat ini, memberikan wawasan baru tentang bagaimana bakteri Lactobacillus kefiranofaciens telah berevolusi selama 3.600 tahun terakhir.
Saat ini, ada dua jenis utama L. kefiranofaciens, satu berasal dari Rusia, dan satu lagi dari Tibet. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa bakteri dalam keju tertua di dunia ini lebih mirip dengan varietas yang ditemukan di Tibet, menenggelamkan anggapan bahwa kefir berasal dari pegunungan Kaukasus di Rusia.
“Penelitian kami mengindikasikan bahwa budaya kefir telah dilestarikan di wilayah Xinjiang, Tiongkok Barat Laut sejak zaman Perunggu,” kata Qiaomei Fu dari Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok.
“Ini adalah studi yang sangat unik, memungkinkan kita mempelajari bagaimana bakteri telah berevolusi selama lebih dari 3.000 tahun. Selain itu, melalui penelitian produk susu, kita mendapatkan pengetahuan baru tentang kehidupan manusia purba dan bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungannya. Ini baru permulaan, dan kami berharap teknologi ini akan membantu mengungkap artefak lain yang sebelumnya tak terdeteksi," jelasnya.
Adapun alasan keju ini dioleskan pada kepala dan leher mumi, kemungkinan besar karena keju tersebut merupakan sumber daya yang sangat berharga di masa hidup mereka.
“Yang menjadi perhatian utama adalah betapa pentingnya keju ini bagi kehidupan mereka. Keju ini ditemukan di 10 makam dan pada beberapa mumi,” kata Fu.
Reporter magang: Nadya Nur Aulia