Andrew Tulloch Teman Sekantor Mira Murati Pernah Kerja Bareng Mark Zuckerberg 10 Tahun Tolak Duit Rp24,6 Triliun Buat Jadi Anak Buahnya Lagi
Andrew Tulloch punya alasan sendiri mengapa ia mesti menolak tawaran Mark Zuckerberg itu.
Ilmuwan komputer asal Australia, Andrew Tulloch, disebut-sebut dibidik agar masuk tim AI Mark Zuckerberg.
Andrew ini merupakan satu tim dengan Mira Murati, pendiri Thinking Machines Lab. Dari laporan ini terungkap bahwa penawaran itu ternyata bukan hanya ke Mira yang sebelumnya ditawari menjual perusahaannya ke Zuckerberg, namun juga ke partnernya, Andrew Tulloch.
Menurut laporan The West Australian dan TheAmericanBazzar, Selasa (5/8), kepada Andrew, Meta menawarkan akuisisi USD1,5 miliar atau setara Rp24,6 triliun.
Namun ditolak mentah-mentah. Tulloch menegaskan bahwa ia lebih memilih mempertahankan visi dan misi startup-nya ketimbang mengejar keuntungan finansial.
Thinking Machines Lab, yang berdiri pada awal 2025, saat ini telah bernilai lebih dari USD12 miliar (sekitar Rp197 triliun). Startup ini berfokus pada pengembangan sistem AI yang lebih aman, dapat disesuaikan, dan transparan.
"Kami membangun masa depan di mana semua orang memiliki akses terhadap pengetahuan dan alat untuk membuat AI sesuai dengan kebutuhan dan tujuan mereka,” tulis Perusahaan.
Sementara itu, pihak Meta membantah adanya penawaran tersebut. Juru bicara Meta, Andy Stone, menyebut kabar tersebut sebagai “tidak akurat dan konyol.”
Namun, laporan The Wall Street Journal menyebut bahwa langkah Meta merupakan bagian dari strategi besar mereka dalam merebut talenta terbaik AI dari startup inovatif.
Rekam Jejak Andrew Tulloch
Tulloch sendiri memiliki rekam jejak mentereng. Ia sempat bekerja selama 11 tahun di Meta (dulu Facebook) dan dikenal sebagai Distinguished Engineer, berperan penting dalam pengembangan sistem machine learning berskala besar dan framework PyTorch. Ia kemudian bergabung dengan OpenAI pada 2023 dan terlibat langsung dalam pengembangan model GPT-4o dan GPT-4.5.
Setelah mendirikan Thinking Machines Lab bersama Murati, Tulloch memilih tetap fokus pada startup-nya, menempatkan kebebasan intelektual dan tanggung jawab etis di atas nilai akuisisi miliaran dolar.
Keputusan ini dianggap mencerminkan tren baru di dunia AI, di mana banyak peneliti dan teknolog kini lebih memilih bekerja di lingkungan yang mendukung inovasi dan memiliki nilai misi sosial yang kuat, ketimbang sekadar tergiur gaji dan saham besar dari korporasi raksasa.
Analis memandang bahwa langkah Tulloch menjadi sinyal bahwa pusat inovasi AI mulai bergeser dari perusahaan teknologi besar ke startup-startup gesit yang memiliki misi kuat dan etika pengembangan teknologi.