Krinok salah satu kesenian tradisional dari Provinsi Jambi tepatnya di Kecamatan Rantau Pandan, Kabupaten Muara Bungo.
Kesenian ini pada awalnya hanya berupa puisi lama yang dinyanyikan dengan nada-nada tinggi tanpa alat musik.
Mengutip dari situs warisanbudaya.kemdikbud.go.id, salah satu seniman Krinok mengungkapkan bahwa kesenian tersebut sudah ada sejak zaman pra-sejarah. Sampai saat ini eksistensi Krinok masih bertahan dan bahkan masih dilakukan.
Lantas, seperti apa kesenian Krinok dari Jambi? Simak ulasan informasi yang dirangkum dari beberapa sumber berikut ini.
Advertisement
Cikal Bakal Seni Suara
Keberadaan Krinok yang sudah berlangsung cukup lama ini konon menjadi cikal bakal lahirnya seni suara seperti yang kita ketahui sekarang. Bahkan, Krinok sudah muncul sebelum masuknya agama Buddha ke wilayah Jambi.
Sebelum masuknya pengaruh agama, seni vokal sudah digunakan untuk pembacaan doa ataupun mantra tertentu. Kemudian, seiring berjalannya waktu berubah menjadi suatu kesenian yang disebut Krinok.
Segi karakteristik, kesenian Krinok saat ini cenderung mengedepankan sisi personal dan juga pembawaan yang penuh emosi.
Ketika agama Islam tiba di Jambi, Krinok sempat mendapat pertentangan dari para tokoh Islam karena tidak sesuai dengan kaidah ajaran Islam.
Advertisement
Dari Menghibur sampai Menarik Hati
Krinok pada awalnya hanya dibawakan oleh seorang laki-laki saat sedang bekerja di ladang atau mencari kayu di hutan.
Selain itu, Krinok bisa dilantunkan sendiri dan saling berbalas dengan orang lain dalam jarak tertentu.
Sebuah budaya akan berubah atau beradaptasi dengan budaya lain yang mempengaruhinya. Akan tetapi, Krinok tetap bertahan meskipun sempat mendapat pertentangan.
Krinok, seni vokal tradisional masyarakat Jambi ini telah memiliki tempat istimewa di berbagai lapisan masyarakat setempat.
Saat ini, fungsi Krinok digunakan untuk penghibur diri, mengusir binatang liar, hingga untuk menarik hati perempuan yang hendak dinikahi.
Advertisement
Berpadu dengan Alunan Musik
Bagaimana dengan para wanita untuk menghibur diri? Mereka memiliki alat musik bernama Kelintang Kayu sebagai medianya. Biasanya akan dimainkan ketika istirahat saat bekerja di sawah.
Kelintang Kayu dimainkan menggunakan naluri si pemain alias mencari nada-nadanya sesuai imajinasi untuk menghasilkan suara yang merdu dan indah. Alat musik ini terdiri 6 kayu yang menghasilkan 6 nada, Kelintang Kayu dimainkan oleh dua orang.
Seiring berkembangnya waktu, seniman Krinok memadukan alat musik Kelintang Kayu dengan Krinok. Perpaduan dua unsur ini rupanya menjadi sebuah kesenian yang tak kalah indah dan menarik.
Krinok tak hanya diiringi oleh Kelintang Kayu, seiring berjalannya waktu dipadukan dengan instrumen lainnya seperti gong, gendang panjang dan biola.
Advertisement
Fungsi Krinok
Ketika Krinok dipadukan dengan Kelintang Kayu, biasanya akan dimainkan saat bekerja di sawah baik secara solo atau duet. Kesenian ini menjadi hiburan wajib bagi muda-mudi saat kegiatan Beselang atau gotong royong.
Bertambahnya zaman, Krinok mulai digemari oleh muda-mudi. Krinok mulai ditampilkan pada malam pesta pernikahan dan acara-acara lainnya.
Krinok berhasil menarik dan memikat para muda-mudi untuk menari secara bebas, saling berbalas pantun untuk mengungkapkan perasaan yang sedang kasmaran.