Jauh dari Fasilitas, Begini Suasana Anak Rimba Ujian Kenaikan Kelas di Tengah Pandemi

Minggu ini, anak-anak orang rimba yang tergabung di SDN 191 Air Panas, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, tengah melaksanakan ujian kenaikan kelas. Namun, suasana ujian yang mereka ikuti tampak berbeda karena dilaksanakan dalam kondisi yang serba terbatas.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Jauh dari Fasilitas, Begini Suasana Anak Rimba Ujian Kenaikan Kelas di Tengah Pandemi
Jauh dari Fasilitas, Begini Suasana Anak Rimba Ujian Kenaikan Kelas di Tengah Pandemi. liputan6.com ©2020 Merdeka.com

Pandemi Covid-19 berdampak pada dunia pendidikan di Indonesia. Sudah tiga bulan ini kegiatan belajar mengajar di sekolah ditiadakan. Sementara proses pembelajaran tatap muka diganti melalui online.

Namun, pada pelaksanaannya, belajar via online ini juga mengalami banyak kendala. Hal ini karena tidak semua anak memiliki akses dan fasilitas yang menunjang kegiatan tersebut. Seperti halnya yang dialami oleh anak-anak orang rimba di Jambi.

Minggu ini, anak-anak orang rimba yang tergabung di SDN 191 Air Panas, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, tengah melaksanakan ujian kenaikan kelas. Namun, suasana ujian yang mereka ikuti tampak berbeda karena dilaksanakan dalam kondisi yang serba terbatas.

Belajar Bersama Pengajar Khusus

Dalam menghadapi ujian kenaikan kelas, anak-anak rimba ini belajar bersama seorang pengajar khusus bernama Yohana Marpaung. Yohana sehari-hari mengajar anak-anak rimba dengan tatap muka.

Mereka terlihat akrab dengan Yohana. Kekariban mereka terlihat dari cara mereka menyapa gurunya sehari-hari.

Namun, mereka lebih senang menyapa nama Yohana dengan sebutan Juana karena dalam bahasa rimba untuk melafalkan ejaan Yo itu sulit, sehingga mereka mengganti dengan ejaan Ju.

Terhalang Akses dan Fasilitas Teknologi

Walau belajar dengan suasana yang seadanya, anak-anak ini terlihat seksama mencerna apa yang diajarkan. Itu adalah pemandangan beberap hari terakhir, sebagai persiapan menghadapi ujian kenaikan kelas.Ujian ini memang sedang diikuti oleh peserta didik di Indonesia. Jika di perkotaan ujian di tengah pandemi Covid-19 berlangsung dengan teknologi, namun tidak dengan anak-anak ini.Keterbatasan perangkat teknologi dan jaringan, pola ujian seperti itu tidak bisa dilakukan anak-anak orang rimba.

Pengajar Membawakan Soal ke Rumah Siswa

Pelaksanaan ujian kenaikan kelas ini, pengajar harus mendatangi rumah siswa. Teknis pelaksanaan ini merupakan peraturan yang telah dibuat oleh pihak sekolah. Pada Minggu (14/6), Yohana harus pergi ke sekolah untuk mengambil soal-soal ujian untuk kemudian dikerjakan anak-anak rimba yang menjadi asuhannya."Anak-anak kita akan melaksanakan ujian, tetapi tidak boleh tatap muka di sekolah. Jadi kami minta tolong bapak/ibu untuk mengambil soal anak-anak asuhnya di rumah," demikian bunyi pesan dari Kepala Sekolah SDN 191 Air Panas.

Sembilan Anak Rimba Mengikuti Ujian Kenaikan Kelas

Bagi anak-anak rimba, mereka mengikuti ujian kenaikan kelas ini tidak di rumah mereka, melainkan di kantor lapangan KKI Warsi di Desa Bukit Suban.Ada sejumlah anak rimba yang mengikuti ujian kenaikan kelas. Mereka adalah Besimbur, Nyeser, Nukik (kelas 1), Pengarang Gading dan Bepanau (kelas 2), Bepuncak (kelas 3), Bekaran (kelas 4), Besati, dan Cariap (kelas 5).

Fasilitator Membantu dalam Belajar, Ujian hingga Menyiapkan Keperluan Harian

Fasilitator pendidikan KKI Warsi, seperti yang ditekuni Yohana Marapaung itu tidak hanya membantu anak-anak mendapatkan materi ajar. Selain itu, fasilitator membimbing mereka ujian, termasuk menyiapkan keperluan harian seperti makan dan minumnya.

Tidak Belajar di Sekolah Sejak Pandemi

Sebelum ujian digelar, mereka terlebih dulu mendapatkan bimbingan belajar dari fasilitator pendidikan. Sejak pandemi Covid-19, pelajaran dilangsungkan di kantor lapangan KKI Warsi."Mereka belajar tidak di sekolah lagi sejak pandemi, untuk pelajarannya ada dikirimkan guru dari sekolah ke kami, dan kami membantu mereka untuk memahami materi pelajaran," ujar Yohana.Yohana yang bertugas untuk memberikan pelajaran dasar kepada anak-anak rimba yang belum masuk sekolah formal, bersama seorang fasilitator lainnya Jauharul Maknun bergantian memberikan materi pelajaran kepada mereka.

Satu Anak Tak Dapat Mengikuti Ujian Kenaikan Kelas

Ada satu anak rimba yang tidak bisa mengikuti ujian kenaikan kelas. Hal ini karena anak tersebut pulang ke rumah orang tua nya di rimba. Namun pihak sekolah tetap mengupayakan agar anak tersebut bisa mengikuti ujian."Ada satu anak, namanya Nukik, karena pandemi dan tidak sekolah, dia pulang ke rumah orang tuanya di rimba. Saat ini sedang kami upayakan agar Nukik bisa keluar rimba dan ikut ujian kenaikan kelas," ujar Yohana.

Rekomendasi