Sudahkah Mengenal Mioma Uteri atau Tumor Jinak di Rahim? Begini Cara Penanganannya!
Ada beberapa hal yang dapat menjadi pemicu munculnya mioma, antara lain hormon, kehamilan, serta riwayat keluarga yang pernah mengalami mioma.
Kesehatan tubuh, termasuk bagian rahim memang perlu diperhatikan. Termasuk di antaranya memahami beberapa penyakit yang berkaitan dengan organ kewanitaan tersebut. Salah satunya adalah mioma uteri. Sudahkah mengenalinya? Menurut dr. Dian Burhansah, Sp.OG, M.Kes, FMAS, Spesialis Kebidanan dan Kandungan di RS EMC Pekayon, mioma uteri adalah tumor jinak yang tumbuh pada otot atau jaringan ikat di rahim.
dr. Dian melanjutkan jika gejala yang dirasakan oleh penderita mioma uteri bisa bervariasi tergantung pada ukuran dan lokasi mioma. Beberapa gejala umum yang mungkin dirasakan oleh pasien mioma uteri, antara lain perdarahan menstruasi yang berat dan lebih lama dari biasanya, nyeri panggul atau punggung, kemudian tekanan pada kandung kemih atau rektum, sehingga menyebabkan sering buang air kecil atau sembelit.
Selain itu, dr. Dian menambahkan jika gejala yang dirasakan penderita mioma uteri lainnya bisa berupa peningkatan ukuran perut serta rasa kembung, infertilitas, komplikasi pada kehamilan. Walau begitu, penyebab munculnya mioma sendiri masih belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa hal yang dapat menjadi pemicu munculnya mioma, antara lain hormon, kehamilan, serta riwayat keluarga yang pernah mengalami mioma.
Lantas, Bagaimana Cara Menangani Mioma Uteri Ini?
Menurut dr. Dian, cara penanganan mioma uteri dapat bervariasi tergantung pada keparahan gejalanya dan kondisi kesehatan pasien. Jika mioma belum menyebabkan gejala yang parah, pasien dapat melakukan kontrol rawat jalan rutin untuk pemantauan perkembangan miom. Apabila sudah muncul gejala pada pasien dokter dapat meresepkan obat untuk membantu mengurangi gejala mioma, seperti nyeri dan perdarahan menstruasi yang berat.
Selain itu, dr. Dian menjelaskan jika mengatur kadar hormon juga bisa menjadi solusi untuk menghambat pertumbuhan mioma, dengan tujuan menurunkan kadar hormon estrogen dan juga progesteron. Jika mioma menyebabkan gejala yang parah atau pertumbuhannya sangat besar, maka operasi dapat dilakukan untuk mengangkat mioma atau bahkan seluruh rahim dalam kasus yang ekstrem.
Adapun pilihan tindakan operasi untuk penanganan mioma sering kali menjadi momok menakutkan bagi pasien. Hal ini dikarenakan tindakan operasi akan meninggalkan bekas luka yang besar dan masa pemulihan yang panjang. Namun saat ini telah ada operasi dengan minimal invasif, yaitu tindakan operasi dengan luka sayatan lebih kecil, hanya 0,5 sampai 1 cm saja. Dengan bekas luka yang sangat kecil, maka masa pemulihan pasien juga menjadi lebih cepat.
Tindakan operasi minimal invasif ini dikenal juga dengan tindakan laparoskopi. Dengan Tindakan ini dokter akan mendapat gambaran dengan lebih jelas melalui alat dan kamera yang digunakan. Selain itu, perdarahan selama tindakan akan menjadi lebih sedikit dan kejadian infeksi luka operasi semakin minim.
Sementara itu, pilihan pengobatan akan disesuaikan dengan kondisi penderita dan tingkat keparahan gejalanya. Maka dari itu, jika khawatir tentang mioma uteri, langkah terbaiknya adalah berkonsultasi dengan dokter kandungan atau ahli bedah untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat, seperti dr. Dian Burhansah, Sp.OG, M.Kes, FMAS selaku Spesialis Kebidanan dan Kandungan di RS EMC Pekayon.