Tiga ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) membahas program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia dalam diskusi di Pojok Bulaksumur. Toto Sudargo, dosen dari Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM, menyatakan bahwa program MBG dapat berkontribusi pada peningkatan fungsi kognitif siswa jika dikelola dengan baik dan gizi yang seimbang. Ia menegaskan,
"Konsumsi makanan bergizi, seperti protein dari telur, sangat penting untuk mendukung perkembangan otak. Namun, penyajiannya juga harus diperhatikan agar anak-anak tertarik untuk mengkonsumsinya," ucapnya . Toto mencontohkan cara pengolahan telur menjadi dadar atau orak-arik yang dapat memberikan tambahan kalori, sehingga menekankan pentingnya kualitas gizi dibandingkan kuantitas makanan. "Yang penting anak-anak mau makan dan makanan tidak terbuang. Jangan sampai makanan hanya diacak-acak dan menjadi sampah," tambahnya.
Selanjutnya, Subejo, dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian, menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan bahan pangan lokal dalam program MBG. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada bahan impor seperti gandum dapat menjadi tantangan yang harus segera diatasi.
"Indonesia memiliki banyak sumber karbohidrat lokal seperti singkong, jagung, dan sagu. Dengan memanfaatkan bahan-bahan ini, kita tidak hanya mendukung ketahanan pangan tetapi juga memberdayakan petani lokal," jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa pemberdayaan desa sebagai pusat distribusi makanan bergizi dapat meningkatkan efisiensi dan mendekatkan menu berbasis bahan lokal kepada masyarakat. "Mekanisme ini juga dapat mengurangi risiko makanan basi karena perjalanan distribusi yang terlalu jauh," imbuhnya.
Sementara itu, Wahyudi Kumorotomo, dosen Manajemen Kebijakan Publik Fisipol UGM, menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan anggaran yang besar. Ia mengingatkan bahwa potensi korupsi harus diantisipasi dengan pengawasan yang ketat dari semua lapisan masyarakat. "Dana sebesar Rp71 triliun per tahun yang ditargetkan untuk 19,4 juta anak ini harus dipantau penggunaannya. Jangan sampai ada korupsi atau dana yang dialihkan untuk kepentingan lain," tegasnya. Mengenai program MBG, ketiga pakar UGM sepakat bahwa ini adalah investasi jangka panjang yang memerlukan komitmen berkelanjutan dari berbagai pihak.
Toto menekankan bahwa keberhasilan program serupa di India baru terlihat setelah lebih dari satu dekade. "Program ini harus berjalan terus-menerus dan tidak boleh berhenti hanya karena berganti pemerintahan. Jika konsisten, Indonesia bisa mencapai hasil yang signifikan, baik dalam hal kesehatan, kemampuan, maupun prestasi generasi mendatang," ungkapnya.
Para ahli ini mengajak semua elemen masyarakat untuk mendukung dan mengawasi pelaksanaan program ini agar dapat meningkatkan kualitas generasi bangsa. "Ini adalah investasi untuk generasi masa depan. Jika program ini berhasil, Indonesia akan memiliki generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap bersaing di kancah global," tutup Toto.
Advertisement