Psikolog Sebut Bahwa Lelucon yang Keterlaluan Bisa Pengaruhi Rasa Percaya Diri Individu

Candaan yang tidak sopan sering kali ditandai dengan penghinaan terhadap fisik, kecerdasan, atau status sosial individu tertentu.

Tim Health
Oleh Tim Health - Reporter
Psikolog Sebut Bahwa Lelucon yang Keterlaluan Bisa Pengaruhi Rasa Percaya Diri Individu
Ilustrasi bullying, perundungan. (Image by Freepik) (© 2025 Liputan6.com)

Candaan yang berlebihan dapat memberikan efek psikologis negatif bagi orang yang menerimanya. Hal ini diungkapkan oleh psikolog klinis dari Universitas Padjajaran, Anggie Harmalia M.Psi. Ia menyatakan bahwa dampak dari candaan yang tidak pada tempatnya dapat berpengaruh pada kepercayaan diri seseorang dan bahkan menyebabkan stres. "Dampak pada penerima candaan jika candaan yang diterima melewati batas bisa menurunkan rasa percaya diri, memicu stres, kecemasan, dan atau tekanan psikologis lainnya," ungkap Anggie pada hari Kamis, seperti yang dilansir oleh ANTARA.

Anggie, yang merupakan bagian dari Tiga Generasi Psychology Center, menambahkan bahwa individu yang merasa tersinggung akibat candaan yang dilontarkan bisa mengalami perilaku menghindar dari orang lain. Hal ini dapat mengganggu hubungan sosial dan menimbulkan trauma dari pengalaman sebelumnya. Menurut Anggie, candaan yang berlebihan biasanya ditandai dengan penghinaan terhadap fisik, intelektual, atau status sosial seseorang. Selain itu, candaan yang tidak sesuai dengan konteks dan diucapkan kepada orang yang tidak akrab dengan pelaku juga termasuk dalam kategori candaan kelewat batas.

Di samping itu, Anggie juga menekankan bahwa penggunaan stereotip dalam bercanda, seperti yang berkaitan dengan gender, ras, agama, atau kondisi sosial tertentu, dapat dianggap sebagai bentuk candaan yang kurang empati. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku mengabaikan reaksi dari orang yang menjadi objek candaan, meskipun orang tersebut terlihat tidak nyaman. "Mengabaikan reaksi penerima, jika penerima candaan terlihat tidak nyaman tetapi pelaku tetap melanjutkan candaan," tuturnya.

Anggie mengingatkan pentingnya menetapkan batasan dalam bercanda agar tidak berujung pada penghinaan terhadap orang lain. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menghindari tema-tema sensitif yang dapat menyentuh trauma atau pengalaman buruk seseorang, serta tidak membahas isu-isu seputar ras, agama, atau kekurangan fisik. Selain itu, sangat penting untuk menyesuaikan jenis candaan dengan tingkat keakraban antara orang yang bercanda dan yang menerima candaan tersebut.

Individu yang ingin melontarkan lelucon sebaiknya selalu mengedepankan empati. Mereka perlu memahami konteks dan situasi di mana candaan tersebut disampaikan, serta peka terhadap reaksi yang ditunjukkan oleh penerima. Dengan cara ini, diharapkan candaan yang dilontarkan dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan perasaan negatif.

"Penggunaan situasi umum atau pengalaman pribadi sebagai obyek candaan akan lebih netral dan meminimalisasi menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain," saran Anggie. Untuk menghindari perasaan tersakiti, penerima candaan sebaiknya menegur pelaku dengan cara yang sopan jika candaan tersebut dirasa mengganggu. Anggie juga merekomendasikan agar seseorang mengalihkan perhatian dari candaan yang dilontarkan dan lebih fokus pada peningkatan rasa percaya diri serta pengembangan toleransi terhadap humor.

Rekomendasi