Munculnya Perubahan Perilaku Jadi Tanda Adanya Stres Remaja yang Butuh Intervensi Orangtua

Kondisi stres bisa dialami oleh siapa saja, termasuk pada anak remaja kita. Sejumlah tekanan dalam kehidupan mereka bisa menimbulkan munculnya stres ini.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Munculnya Perubahan Perilaku Jadi Tanda Adanya Stres Remaja yang Butuh Intervensi Orangtua
Munculnya Perubahan Perilaku Jadi Tanda Adanya Stres Remaja yang Butuh Intervensi Orangtua (Merdeka.com)

Kondisi stres bisa dialami oleh siapa saja, termasuk pada anak remaja kita. Sejumlah tekanan dalam kehidupan mereka bisa menimbulkan munculnya stres ini.

Menurut Dr. Fransiska M. Kaligis, dokter spesialis kesehatan jiwa di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), perubahan perilaku yang terjadi pada remaja akibat stres merupakan sebuah isyarat bagi orang dewasa untuk memberikan perhatian dan bantuan kepada mereka.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

"Itu mungkin suatu tanda bahwa kita perlu memberikan perhatian kepada remaja tersebut. Perhatiannya dalam bentuk apa, mungkin kita dekati dan ajak komunikasi dulu,” kata Fransiska beberapa waktu lalu dilansir dari Antara.

Ia menjelaskan bahwa remaja sering mengalami stres, terutama saat mereka mengalami perubahan signifikan dalam tubuh, mental, serta hormon mereka. Periode ini sering kali bertepatan dengan saat mereka berhadapan dengan orang-orang dan lingkungan baru ketika mereka memasuki tahap kedewasaan.

Tekanan yang dihadapi oleh remaja selama masa pertumbuhan ini pada dasarnya bisa memberikan dampak positif, karena stres dapat memotivasi mereka untuk mencapai berbagai tujuan, seperti mempersiapkan ujian, berkompetisi, atau mengasah kemampuan mereka dalam mengatasi stres.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Namun, saat seorang remaja mengalami stres yang tidak bisa mereka tangani dan mulai mempengaruhi produktivitas mereka, termasuk dalam hal prestasi akademis dan perubahan perilaku, bantuan dari orang dewasa menjadi sangat penting.

Fransiska, yang juga seorang pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menegaskan bahwa jika perubahan perilaku tersebut tidak membaik dalam dua minggu, maka kondisi ini dapat dianggap sebagai gangguan stres yang, jika tidak ditangani, berpotensi berubah menjadi depresi.


Remaja yang mengalami kesulitan dalam mengatasi stresnya perlu didengarkan dan diajak untuk berkomunikasi. Jika kondisi mereka tidak membaik, mereka perlu berkonsultasi dengan tenaga profesional yang dapat merencanakan tindakan pemulihan yang sesuai.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Fransiska juga mengingatkan bahwa dalam membantu remaja, orang dewasa harus membangun kepercayaan dan menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah untuk memberikan bantuan. Pendekatan ini harus dilakukan melalui persuasi, dan bukan melalui paksaan atau tindakan keras.

Peran orang dewasa dalam membantu remaja yang mengalami gangguan stres menjadi semakin penting jika remaja tersebut sudah menunjukkan tanda-tanda ide-ide gelap, perencanaan, atau bahkan upaya untuk mengakhiri hidup.

“Jika dari omongannya menunjukkan rasa putus asa atau ada keinginan mengakhiri hidup, jangan kita anggap itu adalah omongan yang mencari-cari perhatian belaka,” kata Fransiska.

Orangtua bisa memiliki peran yang sangat besar dalam membantu mengatasi stres yang dialami oleh anak remaja ini.
Dok. Istimewa
Rekomendasi