Kasad Jenderal Dudung Abdurachman memberi kesempatan pemuda asal Banten lompat pendidikan ke Bintara TNI.
Advertisement
Berkat kemampuan berbahasa asing, Ravi mampu memikat hati Kasad Jenderal Dudung Abdurachman hingga memberikan kesempatan untuk langsung ikut pendidikan Bintara TNI AD.
Sebelumnya Ravi gigih dalam mengikuti tes masuk TNI dengan berbagai tingkatan dari Tamtama hingga Bintara.
Namun keberuntungan belum memihak padanya karena selama 6 kali ikut tes dirinya selalu gagal.
Ravi sempat 'surati' Kasad Dudung untuk memohon bertemu. Kasad akhirnya mengabulkan permintaannya hingga Ravi bertemu langsung dengan sang jenderal.
Keduanya sempat berbincang termasuk latar belakang keluarga Ravi Atqiyah. Diketahui Ravi saat ini berstatus sebagai anak yatim seusai ditinggal oleh sang Ayah pada tahun 2017 lalu.
Advertisement
Advertisement
Namun rencana Jenderal Dudung berubah saat ia mengetahui Ravi bisa berbicara dalam berbagai bahasa asing.
Dudung meminta Ravi mempraktekan kemampuan bahasa asingnya dengan memperkenalkan diri lewat beberapa bahasa yang berbeda.
Seusai berhasil membuktikan, Kasad Jenderal Dudung memintanya langsung ikut pendidikan Bintara TNI tanpa tes dan tak perlu ikut pendidikan Tamtama.
Advertisement
Mendengar hal itu, Ravi langsung terharu dan menangis. Dia langsung sujud sukur dan mencium tangan Jenderal Dudung.
"Sudah, tak usah tes lagi. Langsung pendidikan," tegas Dudung.
Advertisement
Ravi Atqiyah menjelaskan latar belakang keluarganya termasuk kedua orang tuanya dan sang adik.
Ayahnya saat ini sudah meninggal dunia karena sakit struk selama bertahun-tahun. Sementara sang Ibu hanya bekerja sebagai buruh harian lepas di pabrik pengolahan ayam di Boyolali.
"Bapak Almarhum ya, pengen jadi Tentara? Tamtama mau?," kata Kasad.
"Siap apapun pangkatnya yang penting pengabdian jenderal," balas Ravi.
"Terus ibu kerja di mana?," lanjut Jenderal Dudung Abdurachman.
"Siap izin ibu buruh harian lepas di rumah pengolahan ayam bagian pembersihan organnya jenderal. Pabrik khusus di Boyolali jenderal," jawab Ravi.
Advertisement
"Siap izin adik dua cuma yang satu gugur di kandungan ibu saat usia 4 bulan. Adik nomor satu sekarang kerja di percetakan, adik nomor dua perempuan sekarang SMK Negeri 1 Mojosongo," jelas Ravi.
Advertisement
Ravi mengaku cita-citanya untuk menjadi seorang Tentara sudah ada sejak masih kecil. Ditambah wasiat ayahnya sebelum meninggal yang meminta dirinya untuk menjadi prajurit TNI di masa depan.
"Untuk menjadi TNI cita-cita saya sejak kecil. Ditambah pada saat tahun 2017 tepatnya pada bulan November tanggal 23 hari kamis bertepatan pagi hari saat itu saya menemani almarhum bapak berjalan pagi karena bapak mengalami sakit struk saat itu," jelas Ravi.
"Setelah kami berjalan-jalan di sekitar rumah bapak mengajak berbicara dengan saya dan bapak berpesan bahwasanya Ravi suatu saat nanti kamu harus jadi TNI," kata Ravi.
Sepeninggal sang Ayah, tekad Ravi untuk menjadi seorang prajurit TNI semakin kuat hingga akhirnya ia berusaha keras untuk ikut tes masuk TNI.
"Setelah itu saya berangkat ke sekolah di jam istirahat saya dapat telepon dari ibu bahwasanya bapak kepeleset di kamar mandi dan beliau dibawa ke rumah sakit. Saat malam jumat tepat pukul 10 malam bapak menghembuskan napas terakhir dan gugur dalam perjuangannya melawan sakitnya serta perjuangannya dalam keluarga. Berangkat dari situ saya tekadkan diri mewujudkan harapan cita-cita dan wasiat untuk menjadi anggota TNI," tambahnya.
Advertisement