Masalah kejiwaan kerap disalahpahami sebagai sekadar “lemah mental”, “kurang bersyukur”, atau “tidak kuat menghadapi hidup”. Padahal, dalam dunia medis, gangguan kejiwaan memiliki tanda, pola, dan kriteria klinis yang jelas, sama seperti penyakit fisik lainnya.
Dokter dan psikiater menilai masalah kejiwaan bukan dari satu emosi sesaat, melainkan dari kombinasi gejala yang menetap, mengganggu fungsi hidup, dan memengaruhi pikiran, emosi, serta perilaku seseorang.
Bahkan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pernah bilang bahwa masalah kejiwaan ini juga dialami oleh masyarakat Indonesia. Kata dia, jumlah masyarakat Indonesia yang memiliki masalah kejiwaan diperkirakan mencapai puluhan juta orang.
“Karena WHO bilang, masalah kejiwaan itu satu dari delapan sampai satu dari sepuluh penduduk. Jadi kalau Indonesia 280 juta, ya minimal 28 juta punya masalah kejiwaan,” kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (19/1).
Advertisement
Lalu, apa saja masalah kejiwaan? Mengutip dari WHO Fact Sheets on Mental Disorders dan beberapa sumber terkait, berikut adalah contoh masalah kejiwaan.
Perubahan Pikiran dan Cara Berpikir
Salah satu tanda awal gangguan kejiwaan adalah perubahan cara berpikir. Penderitanya bisa mengalami kesulitan konsentrasi, pikiran terasa kacau, hingga muncul keyakinan yang tidak sesuai realitas. Pada kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa mengalami halusinasi atau delusi—meyakini sesuatu yang jelas tidak terjadi.
Gangguan Emosi yang Menetap
Sedih, marah, atau cemas adalah emosi normal. Namun secara medis, emosi mulai dianggap bermasalah jika berlangsung lama, muncul tanpa sebab jelas, atau sangat ekstrem. Depresi, misalnya, ditandai oleh rasa hampa, kehilangan minat hidup, dan kelelahan emosional yang bertahan setidaknya dua minggu atau lebih.
Sementara itu, gangguan kecemasan ditandai rasa takut dan khawatir berlebihan yang sulit dikendalikan, sering disertai keluhan fisik seperti jantung berdebar, sesak napas, dan gangguan tidur.
Perubahan Perilaku dan Fungsi Sosial
Masalah kejiwaan juga tampak dari perilaku sehari-hari. Menarik diri dari lingkungan, penurunan kinerja kerja atau sekolah, hingga mengabaikan perawatan diri merupakan tanda yang sering muncul. Pada kasus tertentu, penderita dapat bersikap impulsif, mudah meledak, atau mengambil keputusan berisiko tinggi tanpa pertimbangan matang.
Gangguan Tidur dan Energi
Gangguan tidur menjadi salah satu gejala paling umum. Ada yang sulit tidur berhari-hari, ada pula yang tidur berlebihan namun tetap merasa lelah. Energi yang menurun drastis tanpa sebab fisik sering menjadi sinyal awal gangguan depresi atau kecemasan.
Gejala Berat: Ketika Realitas Mulai Terganggu
Pada gangguan berat seperti skizofrenia atau gangguan psikotik, penderita bisa mengalami gangguan persepsi realitas. Halusinasi suara, keyakinan yang keliru, serta bicara yang tidak runtut menjadi tanda serius yang memerlukan penanganan medis segera.
Organisasi kesehatan dunia dan literatur psikiatri menegaskan bahwa gangguan kejiwaan bukan kelemahan pribadi, melainkan kondisi medis yang dipengaruhi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Diagnosis tidak bisa ditegakkan hanya dari satu gejala atau pengamatan singkat, melainkan melalui evaluasi profesional.
Meski begitu, tidak semua stres atau emosi negatif adalah gangguan kejiwaan. Diperlukan diagnosis melalui asesmen professional.