Mengenal Cacat Tangan Spastisitas Pascastroke dan Penanganannya
Merdeka.com - Stroke memang bisa menyerang siapa saja dan kapan saja, bahkan tanpa memandang usia. Kondisi yang satu ini terjadi ketika pasokan darah ke otak terputus akibat terjadinya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Ada beberapa gejala dini stroke yang wajib diwaspadai, mulai dari bicara pelo atau bahkan tidak bisa sama sekali, mata dan mulut terlihat turun pada salah satu sisi wajah, kekuatan tangan dan kaki berkurang.
Pascaserangan stroke, proses pemulihan yang optimal pada pasien sangat penting untuk mencegah cacat. Spastisitas tungkai adalah sekuelae atau gejala sisa stroke yang dapat terjadi pada sekelompok pasien pascastroke. Spastisitas ini umumnya timbul dalam beberapa bulan pascaserangan, dan keberadaannya tentunya akan mengganggu fungsi tungkai yang berkaitan. Di sinilah pentingnya kontrol ke dokter secara berkala, monitoring, rehabilitasi yang baik, dan motivasi pasien dan keluarga. Nah, dr. Margareta Arianni, Sp.OT (K) Hand Surgery dari RS EMC Alam Sutera memberikan penjelasannya lebih lanjut lewat artikel ini.
Apa Itu Spastisitas pada Tangan yang Dialami Pasien Stroke?
Spastisitas merupakan salah satu akibat stroke, di mana otot terasa tegang sehingga sulit bergerak yang tentunya mengganggu aktivitas. Kondisi tersebut biasanya muncul beberapa bulan setelah serangan stroke.
Pada spastisitas,otot berkontraksi secara terus-menerus tanpa disadari, sehingga kaku, menegang, dan tidak fleksibel saat digerakkan.
Spastisitas pascastroke bisa membuat penderita bergerak sangat lambat atau bahkan seperti sedang membawa beban berat di ototnya. Sering juga otot terasa sakit saat sedang istirahat atau digerakkan. Kondisi ini tentunya membuat penderita tidak nyaman, terlebih bila diperhatikan otot berada dalam kondisi tidak biasa atau menekuk saat istirahat.
Beberapa masalah yang umum terjadi akibat spastisitas antara lain:
- Sulit berpakaian, siku yang spastik dalam posisi menekuk membuat pasien kesulitan saat memakai baju atau celana.
- Sulit merawat diri, misalnya saat sedang mandi, keramas, makan, dan kegiatan merawat diri lainnya karena siku sangat sulit diluruskan.
- Kesulitan mengambil atau memegang sesuatu.
Apakah Spastisitas Pasti Dialami Pasien Stroke?
Menurut American Stoke Association, setidaknya ada sekitar 25-43% dari pasien stroke yang mengalami spastisitas di tahun pertama setelah stroke. Jadi, tidak semua pasien stroke mengalami kondisi tersebut.
Apa yang Menyebabkan Spastisitas?
Ketika mengalami stroke, area otak yang melakukan kontrol terhadap kontraksi otot mengalami kerusakan. Hal ini menyebabkan tidak timbul inhibisi atau rem saat kontraksi otot, sehingga kontraksi otot tersebut terjadi secara terus-menerus.
Namun, spastisitas ternyata tak hanya bisa terjadi pada pasien stroke saja. Beberapa penyebab lainnya seperti cedera otak akibat kecelakaan, cedera tulang belakang leher, cerebral palsy, tumor otak, multiple sclerosis, bisa juga menyebabkan spastisitas.
Bagaimana Penanganan Spastisitas?
Kondisi otot yang kaku dan tegang karena spastisitas ini bisa ditangani secara multidispliner. Beberapa opsi yang bisa dilakukan antara lain:
1. Terapi Fisik dan Okupasi
Pasien stroke wajib menjalani terapi fisik, dengan atau tanpa spastisitas. Biasanya para terapis akan merekomendasikan latihan secara rutin yang bisa dilakukan untuk meregangkan dan memperkuat otot. Kemungkinan terapis juga akan menyarankan penggunaan gips atau brace yang membantu meregangkan otot yang tegang setelah stroke. Selain itu, stimulasi listrik juga bisa dilakukan jika mengalami kontraktur.
2. Obat dan Suntukan Toksin Botulinum
Ada beberapa obat yang direkomendasikan untuk mengurangi gejala spastisitas. Mulai dari Baclofen, Benzodiazepin, Natrium dantrolen, Imidazolin, hingga Gabapentin. Selain itu, suntikan toksin botulinum juga digunakan untuk melemaskan otot yang spastik. Toksin tersebut nantinya akan disuntikkan ke otot yang spastik. Meskipun cukup efektif untuk mengurangi spastisitas, namun toksin ini harus disuntikkan berulang (4-6 bulan sekali). Selain itu, toksin botulinum harganya mahal dan belum terwadahi oleh JKN.
3. Operasi
Beberapa prosedur bisa dilakukan untuk pasien yang memiliki spastisitas pascastroke. Tujuannya adalah mengurangi spastisitas, meregangkan sendi yang sudah kontraktur, dan menstabilkan tulang/sendi yang mengalami deformitas akibat spastisitas dan kontraktur.
Contoh kasus: seorang pasien lansia mengalami spastisitas otot-otot jari tangan pascastroke, sehingga jari-jari tangannya hampir selalu mengepal. Akibatnya, pasien tidak bisa membuka genggaman tangan untuk mengambil benda-benda, telapak tangan menjadi lembab, berbau tidak sedap, dan luka karena tertekan oleh kuku. Kadang-kadang timbul infeksi jamur. Dengan teknik operasi pemanjangan tendon-otot, otot-otot jari tangan menjadi lebih kendur sehingga telapak tangan bisa lebih terbuka, dapat menadah barang, dan hand hygiene menjadi lebih mudah dilaksanakan.
Operasi pada tangan spastik biasanya dilakukan paling cepat 1 tahun setelah serangan stroke, karena dalam tahun pertama biasanya ada perbaikan yang mungkin terjadi. Hasil operasi sendiri umumnya bisa memberikan hasil jangka panjang.
Itu tadi beberapa informasi penting tentang cacat tangan spastisitas pascastroke yang tak boleh dianggap remeh. Cari tahu lebih lanjut tentang penanganan spastisitas pascastroke dengan berkonsultasi langsung bersama dr. Margareta Arianni, Sp.OT (K) Hand Surgery dari RS EMC Alam Sutera supaya bisa mendapatkan informasi kesehatan yang lebih valid dan terpercaya.
(mdk/wri)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya