Kerap Diawali Sindiran, Ketahui Bahaya Dilakukannya Tindakan Gaslighting dari Orangtua pada Anak

Gaslighting oleh orang tua merupakan kekerasan emosional yang berdampak buruk pada kesehatan mental anak, simak penjelasannya.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Kerap Diawali Sindiran, Ketahui Bahaya Dilakukannya Tindakan Gaslighting dari Orangtua pada Anak
Kerap Diawali Sindiran, Ketahui Bahaya Dilakukannya Tindakan Gaslighting dari Orangtua pada Anak (Merdeka.com)

Gaslighting adalah istilah yang mungkin masih asing di telinga sebagian orang, tetapi dampaknya sangat nyata, terutama bagi anak-anak. Tindakan ini, yang dilakukan oleh orang tua, dapat menjadi bentuk kekerasan emosional yang berbahaya. Gaslighting merupakan manipulasi psikologis di mana orang tua secara sistematis membuat anak meragukan ingatan, persepsi, dan kewarasannya sendiri. Dengan kata lain, tindakan ini tidak hanya merugikan secara fisik, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

Ketika orang tua melakukan gaslighting, anak dapat mengalami berbagai masalah, baik secara mental, emosional, kognitif, maupun perilaku. Dalam konteks ini, penting untuk memahami dampak yang ditimbulkan agar orang tua dapat lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan anak-anak mereka.

Menurut para ahli, dampak gaslighting pada anak dapat terlihat dalam beberapa aspek. Secara mental, anak bisa mengalami kebingungan, kecemasan, dan depresi. Secara emosional, mereka mungkin menghadapi harga diri yang rendah, ketidakstabilan emosi, serta kesulitan mempercayai orang lain. Dalam aspek kognitif, anak-anak yang mengalami gaslighting sering kali kesulitan dalam membuat keputusan sendiri dan meragukan ingatan mereka. Akhirnya, perilaku anak pun dapat terpengaruh, seperti ketergantungan pada orang lain, isolasi diri, dan kesulitan membangun hubungan yang sehat.

Gaslighting yang dilakukan oleh orang tua dapat berakibat fatal bagi kesehatan mental anak. Dampak ini bisa bersifat jangka panjang dan mengubah cara anak berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka. Anak-anak yang menjadi korban gaslighting sering kali tumbuh menjadi pribadi yang penakut dan tidak bertanggung jawab. Mereka berpotensi mengalami gangguan kecemasan, bahkan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) di kemudian hari.

Beberapa dampak yang dapat muncul akibat gaslighting antara lain:

  1. Secara Mental: Kebingungan yang berkepanjangan, kecemasan berlebih, dan depresi.
  2. Secara Emosional: Harga diri yang rendah, keraguan diri, dan ketidakstabilan emosi.
  3. Secara Kognitif: Kesulitan dalam membuat keputusan dan keraguan terhadap ingatan sendiri.
  4. Secara Perilaku: Ketergantungan pada orang lain dan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat.

Orang tua yang melakukan gaslighting biasanya tidak menyadari perilaku mereka yang merugikan. Berikut adalah beberapa contoh perilaku gaslighting yang sering terjadi:

  1. Menyangkal pengalaman anak: Mengabaikan atau menyangkal pengalaman subjektif anak, seperti pengalaman perundungan.
  2. Menyalahkan anak: Selalu menyalahkan anak atas masalah yang terjadi dan menolak untuk bertanggung jawab.
  3. Membuat anak merasa buruk: Justru membuat anak merasa lebih buruk tentang kesalahan atau stres yang mereka hadapi.
  4. Mengendalikan anak: Menanamkan keraguan pada anak sehingga mereka merasa tidak mampu membuat pilihan sendiri.
  5. Membandingkan anak: Membandingkan anak dengan saudara atau teman-teman, sehingga anak merasa tidak berharga.
  6. Membicarakan fisik anak kepada orang lain: Tanpa persetujuan anak, orang tua membicarakan kekurangan fisik anak kepada orang lain.
  7. Berbohong dan menyangkal: Sering berbohong kepada anak dan menyangkalnya ketika anak mempertanyakannya.
  8. Tidak menepati janji: Menjanjikan sesuatu kepada anak tetapi tidak menepatinya.
  9. Sikap overprotective: Terlalu protektif sehingga membatasi aktivitas anak.
  10. Playing victim: Bertindak seolah-olah orang tualah yang selalu dirugikan dalam setiap masalah.
  11. Mendiskreditkan ingatan anak: Menantang atau mempertanyakan ingatan anak tentang suatu peristiwa.
  12. Mengecilkan perasaan anak: Meremehkan emosi anak dan menuduhnya bereaksi berlebihan.

Penting untuk diingat bahwa gaslighting bisa terjadi secara sadar maupun tidak sadar. Banyak orang tua mungkin tidak menyadari bahwa perilaku mereka merugikan anak. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk meningkatkan kesadaran tentang gaslighting dan berusaha menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak-anak mereka.

Jika Anda merasa menjadi korban gaslighting, carilah bantuan dari profesional kesehatan mental. Dengan dukungan yang tepat, anak dapat belajar untuk mengenali dan mengatasi dampak negatif dari gaslighting. Menciptakan komunikasi yang baik dan saling mendukung di antara anggota keluarga adalah langkah awal yang penting untuk menghindari perilaku merugikan ini.

Dengan memahami bahaya gaslighting, diharapkan orang tua dapat lebih bijaksana dalam berinteraksi dengan anak-anak mereka. Ingat, anak adalah investasi masa depan kita. Mari kita jaga kesehatan mental mereka agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan bahagia.

Rekomendasi