Video: A.Nairn sebut Prabowo malu dipimpin Gus Dur karena buta
Merdeka.com - Dalam sebuah wawancara "off the record", jurnalis investigasi Allan Nairn menyatakan Prabowo pernah menyatakan malu militer Indonesia dipimpin Presiden Gus Dur. Alasannya, Gus Dur adalah presiden buta. Prabowo juga lebih suka pemerintah diktaktor yang jinak.
Lihat videonya di sini:
Kabar bahwa Prabowo dimusuhi Amerika juga ternyata tidak benar. Justru sebaliknya, Prabowo adalah “anak manis” Amerika dan bahkan pernah meminta Amerika menginvasi Indonesia karena Gus Dur menjadi presiden. Fakta itu diungkap oleh wartawan Amerika Serikat, Allan Nairn, yang pernah wawancara khusus dengan Prabowo pada 21 Juni dan 2 Juli 2001.
Dalam wawancara dengan reporter Metro Tv, Andini Effendi, Allan menceritakan bahwa Prabowo mengaku bekerjasama dengan intijen AS. "Prabowo menceritakan kepada saya tentang bertahun-tahun dia bekerja dengan intelijen Amerika, bagaimana dia bekerja dengan pasukan khusus AS. Dan, Prabowo bahkan menceritakan kepada saya bagaimana dia membawa pasukan AS ke Indonesia. Dan, Prabowo mengatakan kepada saya bahwa pasukan Amerika yang datang ke sini menggunakan kesempatan itu untuk melihat kemungkinan, apa yang dia ungkap, sebagai kemungkinan rencana invasi AS ke Indonesia," kata Allan dalam wawancara tersebut.
Keterangan Prabowo tersebut oleh Allan telah dimintakan konfirmasi dengan markas besar angkatan bersenjata AS di Pentagon dan dibenarkan.
Dalam blognya yang beralamat di www.alannairn.org, wartawan AS tersebut juga mengungkap lebih detail kedekatan Prabowo dengan intelijen AS. Bahkan, menurut catatan Allan, Prabowo adalah perwira muda yang paling banyak mendapat pelatihan militer di Paman Sam.
Allan Nairn mengakui, sebenarnya wawancara dengan Prabowo tersebut bersifat "off the record" yang artinya tak boleh dipublikasi. Namun Allan beralasan terpaksa membuka wawancara tersebut untuk kepentingan yang lebih besar dan membongkar kebohongan publik. Selama ini Prabowo mencitrakan diri sebagai tokoh nasionalis dan musuh AS. Namun fakta sesungguhnya justru sebaliknya.
"Saya pikir kerugian melanggar janji anonimitas kepada Jenderal itu tidak seberapa dibandingkan kerugian rakyat Indonesia yang datang ke tempat pemungutan suara tanpa mendapat akses fakta-fakta yang relevan," katanya seperti dikutip pada blog pribadinya www.allannairn.org.
Keyakinannya itulah yang membawanya berani secara blak-blakan menuliskan obrolannya selama hampir empat jam di kantor perusahaan Prabowo di Mega Kuningan.
Pria berusia 58 tahun ini merupakan jurnalis asal New Jersey, Amerika Serikat (AS), yang telah dianugerahi sejumlah penghargaan atas kepiawaiannya menulis berita investigasi di berbagai negara.
Pada 1993, Nairn dan rekannya, Amy Goodman, menerima penghargaan Robert F Kennedy Memorial First Prize untuk laporan radio mengenai Timor Timur.
Pada 1994, dia mendapat George Polk Award atas artikel feature-nya dan juga menerima James Aronson Award atas tulisannya mengenai Haiti di majalah The Nation. (skj) (mdk/cza)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya