Tokoh Agama Husein Ja'far Serukan Etika Pertambangan Berkelanjutan: SDA Amanah untuk Kesejahteraan Bangsa

Tokoh agama Husein Ja'far Al Hadar mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menerapkan Etika Pertambangan Berkelanjutan, melihat SDA sebagai amanah demi kemaslahatan bangsa.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tokoh Agama Husein Ja'far Serukan Etika Pertambangan Berkelanjutan: SDA Amanah untuk Kesejahteraan Bangsa
Kementerian Agama terus menggaungkan Gerakan Sadar Pencatatan Nikah demi mencegah perkawinan anak dan menjamin perlindungan. Simak pentingnya pencatatan nikah! (AntaraNews)

Tokoh agama Husein Ja'far Al Hadar menyerukan pentingnya pengelolaan sumber daya alam (SDA) dengan amanah dan etika. Seruan ini disampaikan pada momentum Ramadhan, Sabtu (7 Maret), di Jakarta. Beliau berharap seluruh pemangku kepentingan tidak hanya melihat sektor industri pertambangan sebagai bisnis semata.

Husein Ja'far menekankan bahwa manusia adalah khalifah atau pemimpin di muka bumi, bukan penguasa. Oleh karena itu, tambang merupakan amanah yang harus dijaga secara etis, bukan sekadar komoditas ekonomi yang dieksploitasi tanpa batas. Pesan ini bertujuan agar kekayaan alam Indonesia dapat menjadi rahmat, bukan justru sumber kerusakan.

Untuk mewujudkan pengelolaan yang bertanggung jawab, Husein Ja'far memaparkan tiga prinsip utama. Prinsip-prinsip ini berlandaskan pada moral, rasa syukur, dan orientasi pada maslahat bersama. Penerapan Etika Pertambangan Berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dan kemaslahatan bagi bangsa, baik hari ini maupun di masa depan.

Moral dan Etika sebagai Fondasi Pengelolaan Tambang

Husein Ja'far menegaskan bahwa aktivitas pertambangan harus dijalankan dengan moral dan etika yang tinggi. Mineral halal tidak hanya menyangkut zatnya, tetapi juga proses mendapatkannya. Proses ini harus memastikan tidak ada kerusakan lingkungan yang terjadi.

Pengelolaan tambang juga tidak boleh mengabaikan nilai kemanusiaan serta melanggar tanggung jawab sosial. Mineral halal adalah hasil dari cara memperolehnya yang tidak merusak dan tidak melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Kesadaran ini menjadi kunci dalam mewujudkan Etika Pertambangan Berkelanjutan.

Hilirisasi Mineral: Wujud Syukur dan Kemandirian Bangsa

Prinsip kedua yang diutarakan adalah pengelolaan tambang harus dilandasi rasa syukur. Mengolah mineral dan mendorong hilirisasi dipandang sebagai bentuk syukur atas karunia Tuhan yang melimpah. Hilirisasi juga merupakan upaya strategis untuk menghadirkan nilai tambah yang signifikan bagi bangsa.

Ketika bangsa mampu mengelola sumber daya dari hulu hingga hilir, maka bangsa sedang menjaga amanah dan menjadi tuan di negeri sendiri. Langkah ini memperkuat kemandirian ekonomi. Hal ini sejalan dengan semangat Etika Pertambangan Berkelanjutan yang mengedepankan keberlanjutan dan kemanfaatan jangka panjang.

Maslahat Bersama: Tujuan Utama Etika Pertambangan Berkelanjutan

Terakhir, tujuan pengelolaan sumber daya alam haruslah maslahat atau kebaikan bersama. Orientasi pengelolaan harus berbasis ekologi, bukan egologi yang hanya mementingkan keuntungan pribadi atau segelintir pihak. Manfaat dari kekayaan alam harus dirasakan secara merata oleh seluruh elemen masyarakat.

Husein Ja'far menekankan bahwa prinsipnya adalah kebaikan bersama, di mana tambang harus memberi nilai tambah bagi masyarakat, bangsa, dan lingkungan. Seluruh aturan Tuhan pada dasarnya ditujukan untuk kebaikan manusia, sehingga pengelolaan SDA harus menjadi rahmat. Kesadaran bahwa sumber daya adalah amanah akan melahirkan tanggung jawab, bukan keserakahan, menjadikan kekayaan alam sebagai kemaslahatan bagi bangsa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi