Puan Maharani menerima audiensi peserta Parlemen Remaja (Parja) di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Di hadapan para pelajar terpilih itu, Ketua DPR RI tersebut menyinggung maraknya hoaks yang kerap menyasar DPR.
Pertemuan berlangsung dengan pendampingan Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Irine Yusiana Roba Putri, Anggota Komisi XI DPR Diah Pikatan Orissa Putri Haprani atau Pinka Hapsari, dan Anggota Komisi V DPR RI Mochamad Herviano Widyatama.
Parja DPR RI merupakan program edukasi politik dan demokrasi tahunan bagi pelajar SMA, SMK, dan MA sederajat. Tahun ini, 12 peserta Parja Terbaik 2024 dan 2025 dijadwalkan mengikuti audiensi, satu peserta berhalangan hadir, sementara peserta lainnya akan menghadiri Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2026.
Program Parja memberi kesempatan kepada siswa terpilih untuk merasakan pengalaman menjadi anggota DPR, termasuk mengikuti simulasi sidang. Peserta melalui seleksi dan mayoritas merupakan siswa teladan dengan berbagai prestasi, seperti duta daerah dan pemenang kejuaraan.
Puan mengapresiasi capaian para pelajar yang hadir.
"Saya terinsipirasi dengan prestasi dan teladan kalian para peserta Parlemen Remaja di daerah masing-masing," kata Puan saat audiensi.
Ia kemudian mengajak peserta berdiskusi mengenai pengalaman selama mengikuti Parja dan pengetahuan yang mereka peroleh. Salah satu perwakilan Parja Terbaik 2025, Muhammad Fattan Faydzulhaq, menceritakan pernah dituding sebagai buzzer pemerintah usai mengikuti program tahun lalu.
Menanggapi pengalaman tersebut, Puan menyebut tidak mudah menjadi anggota DPR karena sering mendapat tudingan yang kurang baik. Menurutnya, DPR juga kerap menjadi sasaran hoaks dan serangan di media sosial, termasuk terhadap dirinya.
"Contohnya seperti RUU Perampasan Aset, kan hoaksnya disebutkan DPR tidak mau mengesahkan. Di konten-konten hoaks itu, foto Ketua DPR juga terus disebar," jelas Puan.
"Padahal yang sebenarnya adalah RUU Perampasan Aset sedang dibahas dan tahapannya saat ini DPR sedang meminta masukan masyarakat (meaningful participation). Begitu banyak masukan sedang didengar dari berbagai elemen masyarakat. Dan DPR juga sedang terus mengkaji agar RUU Perampasan Aset tidak tumpang tindih dengan UU lain yang sudah ada," lanjutnya.
Advertisement
Puan Singgung Hoaks dan Proses Legislasi di DPR
Dalam sesi tanya jawab, Fattan turut menyinggung kompleksitas pembahasan undang-undang yang ia rasakan saat simulasi Parja 2025. Ia kini tercatat sebagai Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Universitas Airlangga.
"Ternyata penyusunan UU tidak semudah membalik telapak tangan, karena saya merasakan sendiri saat simulasi di Parja. Saya menjelaskan mengenai hal ini ke teman-teman saya," ujar Fattan yang kini telah menjadi Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Universitas Airlangga tersebut.
Puan kemudian menerangkan alur penyusunan dan pembahasan RUU di DPR, termasuk perbedaan durasi antara RUU yang perubahannya terbatas dan RUU yang dibahas dari awal.
"RUU yang cepat pembahasannya biasanya yang perubahannya tidak terlalu banyak seperti satu ayat atau satu pasal). Kalau yang mulai dari nol itu yang bisanya lama. Proses pembahasan antara DPR dan Pemerintah memerlukan waktu," papar Puan.
Selain audiensi dengan Puan, Parja Terbaik 2025 dan 2026 juga berdiskusi dengan anggota DPR lain yang hadir untuk memperkaya pemahaman isu keparlemenan.
Advertisement
Anggota DPR Sampaikan Pesan Keterbukaan dan Aspirasi
Wakil Ketua BKSAP DPR RI Irine Yusiana Roba menyinggung keterwakilan perempuan serta capaian pimpinan perempuan di DPR.
"Saat ini DPR punya sejarah karena Ibu Puan adalah perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR di Indonesia. Dan dari kepemimpinan Ibu Ketua, lahir sejumlah UU yang ramah gender, keterwakilan perempuan di DPR juga naik. Ketika perempuan berdaya maka negara akan kuat," ucap Irine.
Anggota Komisi XI DPR, Pinka Hapsari, menekankan keterbukaan DPR terhadap aspirasi publik dan membagikan pengalamannya sebagai legislator dari kalangan muda.
"Decision making memang tidak mudah, tetapi di DPR tetap bekerja untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik bagi rakyat. DPR juga selalu terbuka, karena sidang-sidang komisi bisa dilihat secara live oleh masyarakat," terang Pinka.
Dari Komisi V DPR, Mochamad Herviano Widyatama menyatakan siap memperjuangkan aspirasi terkait infrastruktur yang disampaikan Parja.
"Aspirasi tentang infrastruktur akan terus diperjuangkan di komisi, terutama di Komisi V DPR yang memang membidangi soal urusan infrastruktur," sebut Herviano.
Di penghujung pertemuan, peserta Parja Terbaik 2024–2025 menyampaikan harapan agar DPR tetap menjadi wadah positif, transparan, dan berpihak kepada rakyat.
"Semoga DPR terus menjadi wadah bagi suara rakyat, serta menjalankan check and balances," ucap perwakilan Teladan Parja 2024, Jovanka Anabelle Garcia Silaban.
Kepada para peserta Parja Terbaik 2024–2026, Puan menitipkan pesan agar pengalaman yang diperoleh dapat disebarluaskan dengan bijak.
"Program Parlemen Remaja dimaksudkan untuk peserta memahami cara kerja parlemen. Peserta Parja bisa menjelaskan apa pengalaman dan pengetahuan yang didapat saat menjadi Parja, termasuk melalui medsos. Jangan sampai termakan hoaks," ungkap Puan.
"Kami berharap program Parja DPR dapat bermanfaat buat peserta. Semoga peserta Parja dapat melihat bahwa di DPR masih banyak yang bekerja, hanya saja tidak terliput di media," pungkasnya.