Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) menunjukkan kontribusi nyata dalam upaya penguatan ketahanan pangan nasional dengan keberhasilan panen kedelai di sejumlah daerah. Program ini merupakan bagian dari pemanfaatan lahan tidur yang diinisiasi oleh TNI AL, sejalan dengan perintah dari Kementerian Pertahanan. Keberhasilan panen ini diharapkan dapat mendukung ketersediaan kedelai lokal dan mengurangi ketergantungan impor.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul mengungkapkan bahwa pihaknya mampu memanen kedelai sebanyak dua hingga empat ton per hektare. Hasil panen yang signifikan ini menjadi bukti efektivitas program pengolahan lahan tidur yang digalakkan oleh prajurit TNI AL. Masyarakat sekitar pun turut merasakan manfaatnya, baik untuk konsumsi pribadi maupun untuk diperjualbelikan kembali.
Program penanaman kedelai ini masih terus berjalan di berbagai wilayah di Indonesia, menegaskan komitmen TNI AL dalam menjaga stabilitas pasokan pangan. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi kedelai, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Dengan demikian, kedelai hasil pengelolaan TNI AL berperan penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah dan menggerakkan roda perekonomian.
Advertisement
Advertisement
Keberhasilan Panen dan Potensi Lahan Tidur
Laksamana Pertama TNI Tunggul memaparkan beberapa contoh keberhasilan panen kedelai yang telah dicapai oleh TNI AL. Sebagai gambaran, di Lampung, panen pada Oktober 2025 dari lahan seluas 30 hektare berhasil menghasilkan empat ton kedelai per hektare. Angka ini menunjukkan potensi besar lahan tidur yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.
Selain Lampung, panen juga sukses dilakukan di Nganjuk, Jawa Timur, pada pekan lalu. Dengan luas lahan 400 hektare, estimasi hasil panen mencapai 1,5 hingga 2 ton per hektare. Keberhasilan di Nganjuk ini menambah daftar panjang kontribusi TNI AL dalam program ketahanan pangan.
Tunggul menegaskan bahwa keberhasilan panen kedelai ini adalah implementasi dari arahan Kementerian Pertahanan. TNI AL secara spesifik ditugaskan untuk fokus pada penanaman kedelai, sementara TNI AD fokus pada pertanian jagung dan padi. Pembagian tugas ini dirancang untuk memaksimalkan upaya ketahanan pangan nasional.
Advertisement
Aktivitas penanaman kedelai oleh prajurit TNI AL masih terus berlanjut di berbagai daerah. Hal ini memastikan pasokan kedelai dari lahan yang dikelola TNI AL dapat terus memperkuat ketahanan pangan daerah. Selain itu, program ini juga berupaya menciptakan perputaran ekonomi di kalangan masyarakat.
Advertisement
Mengurangi Ketergantungan Impor dan Kualitas Bibit
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan alasan di balik penugasan TNI AL untuk menanam kedelai. Indonesia selama ini sangat bergantung pada impor kedelai, dengan kebutuhan mencapai dua juta ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan nasional. Ketergantungan ini menjadi salah satu pendorong utama program ketahanan pangan oleh TNI.
Sjafrie juga mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai kedelai impor yang masuk ke Indonesia. Menurut informasinya, sebagian besar kedelai yang diimpor sebenarnya merupakan bahan dasar untuk makanan ternak. Kondisi ini menyoroti urgensi untuk memproduksi kedelai berkualitas tinggi secara mandiri di dalam negeri.
Dengan program ini, TNI AL tidak hanya berupaya memenuhi kebutuhan kedelai, tetapi juga meningkatkan kualitas bibit. Sjafrie menyatakan bahwa setelah dua kali panen, TNI AL telah memiliki kualitas bibit kedelai yang tidak lagi dikategorikan sebagai "makanan ternak." Ini merupakan langkah maju dalam upaya swasembada kedelai.
Advertisement
Inisiatif ini diharapkan dapat mengubah paradigma ketergantungan impor kedelai. Dengan produksi kedelai lokal yang berkualitas, Indonesia dapat mengurangi pengeluaran devisa dan memastikan ketersediaan pangan yang lebih baik bagi masyarakat. Program ini juga menjadi bagian integral dari strategi pertahanan negara dalam aspek non-militer.
Sumber: AntaraNews