Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengumumkan rencana modernisasi 20 unit pesawat angkut C-130 Hercules tipe H milik TNI Angkatan Udara. Proyek strategis ini akan dilaksanakan oleh dua perusahaan aviasi dalam negeri, yaitu PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia. Langkah ini diambil untuk memperkuat kemampuan pertahanan udara nasional dan mendukung kemandirian industri.
Modernisasi pesawat C-130 Hercules ini menjadi krusial mengingat usia operasional pesawat yang telah mencapai lebih dari 40 tahun. Pesawat-pesawat ini berasal dari pengadaan tahun 1980-1982 dan telah memiliki jam terbang mendekati 45.000 jam. Pembaharuan ini diharapkan dapat memperpanjang masa pakai pesawat hingga 15 tahun ke depan.
Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Modernisasi C-130, Kolonel Arif Djoko, menjelaskan bahwa pengerjaan proyek telah dimulai. Unit pertama pesawat C-130 Hercules telah tiba di hanggar Aircraft Services (ACS) PTDI Bandung pada Rabu (26/11). Total nilai kontrak modernisasi ini diperkirakan mencapai sekitar 150 juta dolar AS atau sekitar Rp2,4 triliun.
Advertisement
Advertisement
Program modernisasi pesawat C-130 Hercules tipe H ini mencakup dua aspek utama. Pertama adalah pergantian Center Wing Box Replacement (CWBR), komponen vital yang telah habis masa pakainya. Kedua adalah Avionic Upgrade Program (AUP), yaitu peningkatan perangkat avionik dari sistem analog menjadi digital.
Kolonel Arif Djoko menegaskan pentingnya pergantian CWBR untuk semua tipe H. Ia menyatakan, "Sehingga nanti diharapkan untuk tipe H ini semuanya bisa diganti center wing box-nya karena rata-rata usianya sudah habis semua. Sehingga nanti ke depannya tipe H bisa ada perpanjangan usia sampai 15 tahun lagi untuk bertugas dalam operasi baik dalam dan luar negeri."
Sebanyak sembilan pesawat C-130 Hercules tipe H akan dikerjakan oleh PTDI, dan sembilan unit lainnya oleh GMF Aero Asia. Pembagian ini menunjukkan komitmen Kemhan dalam memberdayakan kapasitas industri pertahanan dalam negeri secara merata. Sisa unit pesawat akan dikontrakkan kembali setelah fase pertama modernisasi C-130 ini rampung.
Advertisement
Advertisement
Pelibatan PTDI dan GMF Aero Asia dalam proyek modernisasi C-130 Hercules ini merupakan langkah strategis pemerintah. Hal ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada fasilitas luar negeri untuk pemeliharaan dan peremajaan alutsista. Kemandirian nasional dalam sektor pertahanan menjadi prioritas utama.
Dengan kemampuan dan fasilitas yang sepenuhnya berbasis di Indonesia, program ini memperkuat kemandirian nasional. Ini juga mempercepat siklus pemeliharaan pesawat angkut berat strategis TNI AU. Pesawat-pesawat ini memiliki peran krusial dalam misi logistik, operasi kemanusiaan, dan pertahanan negara.
Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyatakan bahwa program ini adalah investasi jangka panjang. Ia menjelaskan, "Bagi PTDI, program ini merupakan investasi jangka panjang dalam pengembangan kompetensi teknis, peningkatan kemampuan produksi komponen, serta penguatan ekosistem industri pertahanan dirgantara nasional."
Advertisement
Peningkatan kemampuan produksi komponen dan pengembangan kompetensi teknis di PTDI akan berdampak positif. Ini tidak hanya untuk modernisasi C-130 Hercules, tetapi juga untuk proyek-proyek pertahanan lainnya di masa depan. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi antara pemerintah dan industri dalam negeri dalam mendukung pertahanan negara.
Sumber: AntaraNews