Demokrat Duga Penurunan Suara karena Pemilih Pindah ke NasDem

Juru Bicara Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan penurunan elektabilitas tersebut hanya sementara. Sebab, Demokrat konsisten berada di urutan tiga atau empat besar alias di kelompok parpol papan atas sejak 2022 lalu.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Demokrat Duga Penurunan Suara karena Pemilih Pindah ke NasDem
Anies Baswedan Temui AHY. ©2022 Liputan6.com/Faizal Fanani

Partai Demokrat mengalami penurunan elektabilitas menjadi posisi empat dengan 8,7 persen atau turun dari angka sebelumnya yakni 14 persen. Tren tersebut terekam dalam survei Litbang Kompas.

Survei elektabilitas partai politik Litbang Kompas dilakukan melalui wawancara tatap muka pada 25 Januari-4 Februari 2023. Responden sebanyak 1.202 dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan bertingkat di 38 provinsi. Survei memiliki margin of error kurang lebih 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Juru Bicara Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan penurunan elektabilitas tersebut hanya sementara. Sebab, Demokrat konsisten berada di urutan tiga atau empat besar alias di kelompok parpol papan atas sejak 2022 lalu.

"Ada istilah, Class is permanent, Form is temporary. Karena itu, kami meyakini penurunan elektabilitas partainya hanya sementara. Begitu pula pergeseran suara pemilih Anies dari Demokrat ke NasDem," kata Herzaky dalam keterangannya, Selasa (21/2).

Dia mengungkapkan, salah satu alasan suara Demokrat turun karena pemilih pindah ke NasDem. Pihaknya meyakini suara Demokrat akan kembali terdongkrak naik setelah ikut pemenangan Anies.

"Bisa saja pemilih kami berpindah ke NasDem sebagai parpol pertama yang mengusung Anies, tetapi itu hanya sementara hingga kami menentukan sikap. Setelah Demokrat dan Anies kembali bersanding, elektabilitas kami akan naik lagi," sambungnya.

Zaky menambahkan, hal tersebut bakal dibarengi dengan kerja-kerja partai untuk mendekatkan diri dan bergerak selaras dengan aspirasi publik. Di antaranya, meminta bakal calon anggota legislatif dari Demokrat untuk semakin giat turun ke bawah dan membantu kebutuhan masyarakat.

"Aktivitas itu diminta ditingkatkan terutama mendekati masa pendaftaran bakal calon anggota legislatif pada awal Mei mendatang," sebutnya.

"Kami sudah lakukan apel siaga nasional kesiapan infrastruktur komunikasi strategis kampanye darat dan udara. Sebab, kekuatan serangan di darat harus diiringi dengan narasi di media sosial dari kader organik Demokrat," pungkasnya.

Sebelumnya, Litbang Kompas merilis hasil survei elektabilitas partai terbaru pada Selasa (21/2). Dalam survei ini, terlihat pergeseran suara cukup besar di antara koalisi perubahan yang mendukung Anies Baswedan. Elektabilitas NasDem naik, sementara Demokrat dan PKS turun.

Elektabilitas NasDem pada survei teranyar naik menjadi 7,3 persen dari sebelumnya 4,3 persen. Sementara, Demokrat turun menjadi 8,7 persen dari 14 persen. Seperti Demokrat, PKS mengalami penurunan menjadi 4,8 persen dari 6,3 persen.

Kenaikan elektabilitas NasDem sampai 3 persen karena faktor Anies Baswedan. NasDem berhasil mengonsolidasikan simpatisan Anies dari sejumlah partai politik.

"Langkah Nasdem yang bergeming dalam pencalonan Anies Baswedan sebagai bakal capres Pemilu 2024 tampaknya cukup berhasil mengonsolidasi simpatisan Anies yang selama ini tersebar di sejumlah parpol," tulis Litbang Kompas pada Selasa (21/2).

NasDem mendapatkan efek ekor jas dari mendukung Anies. Dalam catatan Litbang Kompas, NasDem pertama kalinya mengalami lonjakan elektabilitas sampai 3 persen.

Namun, keberhasilan NasDem mengonsolidasi pendukung Anies ini berdampak kepada penurunan Demokrat dan PKS yang memiliki basis pemilih Anies. Maka itu terlihat pada survei Januari-Februari ini elektabilitas Demokrat dan PKS mengalami penurunan.

"Hal ini terutama pada parpol dengan profil komposisi pilihan pemilihnya kepada Anies cukup besar, seperti Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)," tulis Litbang Kompas.

Berikut hasil lengkap elektabilitas partai politik versi Litbang Kompas:

PDIP 22,9 persen

Gerindra 14,3 persen

Golkar 9 persen

Demokrat 8,7 persen

NasDem 7,3 persen

PKB 6,1 persen

PKS 4,8 persen

Perindo 4,1 persen

PPP 2,3 persen

PAN 1,6 persen

Hanura 0,5 persen

PBB 0,5 persen

PSI 0,5 persen

Lainnya 0,5 persen

Tidak tahu/rahasia 16,8 persen.

Ikuti perkembangan terkini seputar berita Pemilu 2024 hanya di merdeka.com

Rekomendasi