Cabup Teluk Bintuni: Kemenangan Tak Berarti Jika Ada Korban Covid-19 di Pilkada

“Ini suatu pandemi yang secara global mendunia, dan saya berharap di dalam Pilkada ini kita ingin menang, tetapi kemenangan itu tidak ada artinya, kalau terjadi korban jiwa, akibat Covid-19 atau akibat-akibat yang lain,” ungkapnya melanjutkan imbauan.

Randy Ferdi Firdaus
Oleh Randy Ferdi Firdaus - Reporter
Cabup Teluk Bintuni: Kemenangan Tak Berarti Jika Ada Korban Covid-19 di Pilkada
Petrus Kasihiw. ©2020 Merdeka.com/istimewa

Pilkada serentak 2020 dikhawatirkan bakal menjadi klaster baru Covid-19. Sebab, dalam pilkada, akan mengumpulkan massa saat kampanye nantinya.

Namun, Calon Bupati Petahana Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw mengungkap komitmennya untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan. Dia telah mewanti-wanti kepada para pendukung tentang pentingnya protokol kesehatan.

“Saya mewakili pasangan Piet-Matret, Kandidat 02, PMK2, Jilid II, mengimbau kepada seluruh tim, simpatisan dan warga masyarakat Teluk Bintuni, agar senantiasa, kita mematuhi protokol kesehatan yang berkaitan dengan pandemi Covid-19 yang sedang melanda Teluk Bintuni,” kata Petrus dalam siaran pers, Senin (28/9).

Menurut Piet (panggilan Petrus), tidak ada satupun kemenangan pada kontestasi Pilkada ini yang bisa dihargai dengan nyawa, terutama karena virus Covid-19.

“Ini suatu pandemi yang secara global mendunia, dan saya berharap di dalam Pilkada ini kita ingin menang, tetapi kemenangan itu tidak ada artinya, kalau terjadi korban jiwa, akibat Covid-19 atau akibat-akibat yang lain,” ungkapnya melanjutkan imbauan.

Tak Mau Datang Jika Tidak Patuh Protokol Kesehatan

Piet juga mengimbau perihal strategi pemenangan yang dilakukan para timnya. Protokol kesehatan merupakan hal yang bersifat mandatory.

Piet menginginkan agar semua posko PMK2 yang tersebar di Teluk Bintuni menyediakan tempat untuk cuci tangan sebagai fasilitas standar, agar bisa juga dipergunakan oleh masyarakat sekitar, sebagai bagian dari sosialisasi pentingnya menjaga kebersihan selama masa pandemi.

“Di setiap pertemuan, di posko-posko, agar kita melakukan pembatasan jumlah orang. Jumlah orang dibatasi dengan tetap mematuhi protokoler covid. Saya berharap di setiap posko itu ada tempat cuci tangan, ada sabun, bahkan juga kita siapkan masker, kita siapkan masker untuk semua yang datang,” tegas dia.

Piet bahkan tak segan memberikan konsekuensi kepada posko dan tim jika ditemui posko tersebut tidak melaksanakan imbauan perihal protokoler kesehatan ini.

“Dan kalau tidak ada yang pakai masker, mohon maaf saya tidak akan datang di tempat tertentu, kalau tidak ada protokoler covid, dilakukan di posko-posko, atau di tempat pertemuan lain, saya dengan Pak Matret tidak akan hadir,” tegas dia lagi.

Piet menutup imbauan tersebut dengan mengajak para pengurus tim PMK2 dan posko agar keberadaan posko selama masa pandemi ini bisa bersifat lebih partisipatif dalam mengajak masyarakat untuk menerapkan protokoler kesehatan.

Bahkan nantinya posko-posko tersebut akan diberikan bimbingan untuk dapat membuat hand sanitizer sendiri, agar dengan swadaya, hal ini bisa diteruskan ke masyarakat sekitar.

Rekomendasi