Debat ketiga Pilpres 2019 akan mempertemukan dua cawapres yakni Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno. Tema debat kali ini adalah kesehatan, ketenagakerjaan, pendidikan, dan sosial budaya. Anggota Dewan Pembina Gerindra, Mulyadi mengingatkan, panggung debat jangan sampai diisi dengan janji-janji kosong dan program yang tidak masuk akal.
"Berita dan kegiatan pemilu di negeri ini sudah menyita perhatian sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk acara debat kandidat. Ini adalah hak publik yang harus dihormati karena publik berhak tahu kompetensi, program dan janji calon pemimpin mereka," ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (17/3).
"Namun jangan jadikan acara debat yang akan disiarkan sebagian besar stasiun TV ini menjadi sarana untuk menyampaikan janji kosong dan program yang tidak rasional ke masyarakat Indonesia," imbuhnya.
Hal ini penting, kata Mulyadi, sebab, janji kosong dan program yang tidak rasional tersebut akan menjadi perdebatan di antara kedua pendukung pasangan calon.
"Saat proses debat usai, besoknya akan menimbulkan kegaduhan. Yang perlu kita ingat bahwa ruang audiens media televisi saat janji dan program disampaikan pada saat debat, akan berbeda dengan ruang digital," tukasnya.
Mulyadi menjelaskan, siaran debat di televisi akan disaksikan hampir seluruh masyarakat di pelosok Indonesia, sedangkan ruang digital hanya ada di genggaman sebagian masyarakat yang memiliki sarana digital.
"Sementara pemilih kita terdiri dari pemilih berbasis digital dan pemilih tradisional yang tidak semuanya mendapatkan informasi bahwa ada janji dan program yang disampaikan adalah bohong dan tidak rasional."
"Jadi, jangan jadikan panggung debat menjadi sarana untuk menyampaikan janji bohong dan program tidak rasional hanya untuk memikat terutama pemilih tradisional yang besoknya tidak bisa mengakses info untuk mengcounter janji bohong dan program irasional tersebut," pungkasnya.