Ketokohan Ani Yudhoyono dinilai belum bisa saingi Jokowi & Prabowo

Hilary tidak sekadar istri Clinton tapi pernah jadi Menteri Luar Negeri, jabatan yang jauh lebih bergengsi dari Wapres.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Ketokohan Ani Yudhoyono dinilai belum bisa saingi Jokowi & Prabowo
Poster ani presiden. ©2016 merdeka.com/istimewa

Meski Pemilihan Presiden masih digelar 2019, namun iklimnya sudah mulai semarak. Bahkan kini gambar pencalonan Ani Yudhoyono sebagai calon presiden kedelapan mulai beredar di media sosial. Apalagi, Ani diketahui sering mendampingi SBY dalam setiap kunjungannya ke daerah.Entah siapa yang pertama kali mengedarkannya, tapi gambar tersebut telah menjadi perbincangan di dunia maya."Ini Yudhoyono, Calon Presiden Partai Demokrat 2019. Lanjutkan!" demikian isi poster tersebut.Tak hanya itu, poster tersebut juga memuat tagar #AniYudhoyono2019.Politikus Partai Demokrat, Ruhut Sitompul tak membantah peredaran gambar yang mengusung Ani sebagai calon presiden berikutnya. Sebab, permintaan untuk mengusung Ani maju dalam Pilpres merupakan permintaan dari kader partainya."Kader-kader meminta Pak SBY maju kembali. Tapi Pak SBY kita tahu beliau orang yang sangat terukur dan patuh aturan. Kader-kader juga melihat begitu, akhirnya mereka mendukung Ibu Ani," katanya.Bagi Ruhut, permintaan tersebut tidak ada salahnya. Namun, dia menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme partai dalam menentukan calon presiden pada Pilpres 2019 mendatang."Namanya kalau oleh rakyat apa salahnya (mengusung Ani)," ucapnya singkat.

Mantan Politikus Partai Demokrat Gede Pasek Suardika menyambut positif wacana Ani maju di 2019. Menurut dia, pertarungan 2019 akan seru karena Jokowi sebagai petahana akan melawan Ani yang mantan petahana."Karena petahana lawan mantan petahana, kita akan disuguhi sebuah kompetisi yang seru," kata Pasek saat dihubungi merdeka.com, Selasa (15/3).Pasek mengungkapkan, di era pemerintahan SBY, Bu Ani selalu mendampingi. Maka dari itu, ada beberapa keputusan pemerintahan yang bisa dipengaruhi Ani."Dulu kan boleh dikatakan secara politis Bu Ani is the real president. Nanti akan bisa jadi presiden real. Maknailah secara politik. Kalau dulu kan beda tipis sama ibu Tien," ujarnya.Anggota DPD perwakilan Bali ini menganggap bahwa Demokrat harus jauh hari memunculkan calon karena akan melawan petahana. Menurutnya memang SBY sangat ahli dalam merumuskan strategi politik."Dengan sistem Pemilu yang akan datang kan memang calon presiden sudah harus jalan lebih dulu. Itu kan menjadi pesaing berat Pak Jokowi nanti, kalau Pak Jokowi tidak hati-hati. Karena Bu Ani kan berpengalaman mendampingi Pak SBY dua periode," ujarnya.

Namun pengamat politik Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Edi Indrizal menilai langkah yang diambil Partai Demokrat untuk mempersiapkan Ani Yudhoyono sebagai calon presiden 2019 karena partai tersebut krisis figur."Berdasarkan sejumlah survei Demokrat kesulitan menampilkan figur yang kuat untuk menjadi calon presiden itulah sebabnya dimunculkan nama Ani Yudhoyono," kata dia di Padang, seperti dikutip dari Antara, kemarin.Menurutnya tidak ada yang luar biasa dengan langkah yang diambil Partai Demokrat ini, belajar dari pengalaman sebelumnya politik di Tanah Air ditandai dengan adanya beberapa pihak yang mencoba membangun dinasti."Akan tetapi tidak semua politik dinasti tersebut dapat terwujud apalagi pada tingkat nasional," ujarnya.Dia menilai faktor ketokohan seorang figur cukup penting dalam pemilu presiden, namun masih sulit bagi Ani untuk menyaingi tokoh yang pernah ikut pilpres lalu seperti Jokowi dan Prabowo Subianto.Apalagi jika hanya mengandalkan nama SBY jelas tidak memadai, pengalaman sebagai pejabat, politisi atau pimpinan pada organisasi sosial tergolong minim untuk jadi modal politik Ani Yudhoyono sebagai calon presiden, lanjut dia.

Dia mengingatkan secara gender preferensi masyarakat dalam menentukan pilihan masih tradisional karena itu berat bagi perempuan bisa menang pemilu presiden.Jika ada yang membandingkan dengan Hilary Clinton istri dari mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton yang juga mencalonkan diri sebagai presiden dia melihat terjadi perbedaan konteks. Hilary tidak sekadar istri Clinton tapi pernah jadi Menteri Luar Negeri, jabatan yang jauh lebih bergengsi dibandingkan wakil presiden, kata dia.Sebagai Menteri Luar Negeri Hilary relatif sukses ditambah latar sebagai politisi, pengacara serta masyarakat Amerika yang telah menganut kesetaraan gender, ujarnya.Ia menambahkan ini lebih tepat sebagai langkah sementara yang paling realistis Partai Demokrat sambil terus menjalani dinamika politik yang akan terus berlangsung.

Rekomendasi