Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo (Rudy) membantah tudingan yang mengatakan sejumlah pasar yang dibangun pada masa kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) mangkrak. Bagi Rudy, tuduhan tersebut ngawur dan tak berdasar, serta tak disertai data kongkrit."Kalau ada yang bilang mangkrak itu keliru. Dilihat dulu, dari 37 pasar tradisional, sekarang jumlahnya menjadi 43," ujar Rudy, di Solo, Selasa (8/7).Rudy menjelaskan bertambahnya jumlah pasar tersebut lantaran beberapa pertimbangan. Pasar Pucangsawit misalnya, dibangun dari hasil musyawarah perencanaan pembangunan tingkat kelurahan. Pada awalnya, di pasar tersebut hanya ada 3 pedagang, namun saat ini sudah ada belasan. Kemudian pasar Panggung Rejo, yang dibangun untuk merelokasi PKL di sekitar lokasi."Jadi kalau pasar itu dianggap mangrak itu, berarti pasar lama
yang direvitalisasi terus mangkrak. Padahal pasar lama kan nggak ada yang mangkrak. Kalau masih ada los pasar baru atau lama yang kosong, itu bukan mangkrak. Karena pembangunan pasar baru selalu menambah jumlah los baru pula," ujarnya.Dari jumlah pedagang di pasar tradisional, kata Rudy, juga mengalami peningkatan. Saat belum direvitalisasi, jumlah pedagang yang tercatat sebanyak 12 ribu, setelah revitalisasi naik menjadi 16 ribu. Sedangkan jumlah PKL dari 5.817 yang tercatat, saat ini sudah lebih dari 3 ribu yang tertata atau masuk ke pasar tradisional."Yang dikatakan mangkrak yang mana. Kalau warga dikasih kios belum dipakai, itu akan kita berikan pada warga atau pedagang lain. Setelah pilpres, saya yakin semua kios akan terisi," tandasnya.Menurut Rudy, tuduhan bahwa banyak pasar tradisional yang mangkrak di Solo adalah salah besar."Kalau pasar lama yang direvitalisasi kemudian pedagangnya pergi semua, itu baru dikatakan mangkrak. Kalau di Solo kan tidak, setiap kita revitalisasi pasar, kita justru selalu menambah jumlah kios. Kios yang masih kosong ini butuh waktu. Pedagang yang akan menempati perlu dilatih untuk bisa berdagang atau penyaluran modal," tandasnya.Sebelumnya, Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP-IKAPPI) Imam Hadi Kurnia, dalam siaran persnya di Jakarta, Minggu (6/7), menyebut capres Joko Widodo gagal merevitalisasi pasar saat menjabat menjabat sebagai Wali Kota Solo. Imam mengatakan, hingga saat ini, banyak pasar yang dibangun Jokowi sepi aktivitas perdagangan."Pasar Pucang Sawit dan Panggungrejo contohnya. Pasar tersebut hingga detik ini masih sepi oleh pedagang maupun pembeli. Ada juga Pasar Windu Jenar atau Tri Windu yang juga bernasib sama. Pasar Ngarsopuro, Pasar Klitian, Pasar Nusukan semua juga mengalami nasib yang sama banyak kios kosong tidak ada pedagang," katanya.
Rudy nilai tuduhan bahwa pasar Jokowi mangkrak itu salah besar
"Dilihat dulu, dari 37 pasar tradisional, sekarang jumlahnya menjadi 43," ujar Wali Kota Solo, Rudy.
Advertisement
Rekomendasi