Wali Nanggroe Aceh selaku pemangku adat dan pemersatu seluruh rakyat Aceh akhirnya angkat bicara terkait kekerasan di Aceh. Pada Jumat (4/4), Wali Nanggroe menggelar jumpa pers menyikapi kekerasan yang terjadi menjelang pemilu legislatif 2014 di Aceh. Dalam konferensi pers di kantor Majelis Adat Aceh (MAA) itu, Wali Nanggroe Aceh Malek Mahmud Al Haitar mengatakan kekerasan yang terjadi di Aceh yang notabena daerah bekas konflik biasa terjadi.Menurut Malek Mahmud, kekerasan di Aceh merupakan dinamika politik yang terjadi di alam demokrasi saat ini. Ada sedikit kekerasan dan gesekan menjadi wajar. "Biasa itu terjadi di daerah bekas konflik, kalau di luar Aceh, katakanlah di negara tetangga kita di Asia, bahkan lebih parah lagi terjadi, bahkan ada puluhan korban jiwa," ujar Malek Mahmud dalam konferensi.Kendati demikian, Malek Mahmud mengatakan bukan berarti di Aceh bisa terjadi kekerasan. Malek Mahmud malah meminta kepada seluruh stakeholder untuk tetap menjaga perdamaian dan keamanan menjelang pileg yang akan berlangsung pada 9 April 2014 mendatang."Akan tetapi tetap harus rawat perdamaian ini untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh," ujarnya.Oleh karena itu, Malek Mahmud dalam kesempatan itu meminta kepada partai politik dan pemangku kepentingan lainnya agar berkampanye secara santun. Selain itu, dia juga meminta untuk menjaga keharmonisan antar partai politik di Aceh.
Wali Nanggroe: Kekerasan biasa terjadi di daerah bekas konflik
Menurut Malek Mahmud, kekerasan di Aceh merupakan dinamika politik yang terjadi di alam demokrasi saat ini.
Rekomendasi