Perselingkuhan dan asusila buat rakyat makin muak pada parpol

Mayoritas rakyat menilai partai politik adalah lembaga tak berintergritas.

Muhammad Sholeh
Oleh Muhammad Sholeh - Reporter
Perselingkuhan dan asusila buat rakyat makin muak pada parpol
Maharani diperiksa KPK. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Lembaga Survei Nasional (LSN) merilis tingkat kepercayaan publik terhadap integritas institusi-institusi demokrasi secara umum belum cukup memuaskan.Peneliti LSN Dipa Pradipta menyatakan, salah satu institusi demokrasi yang integritasnya paling kurang dipercaya publik adalah partai politik (parpol)."Tingkat kepercayaan publik terhadap integritas parpol hanya sebesar 42.6 persen. Sebanyak 53.9 persen mengaku kurang percaya, 3.5 persen menjawab tidak tahu," ujar Dipa Pradipta dalam paparannya di Hotel Grand Menteng, Jakarta, Selasa (16/7).Survei LSN ini dilakukan tanggal 1 hingga 10 Mei 2013 di 33 provinsi di Indonesia, yang berusia minimal 17 tahun. Jumlah sampel sebesar 1.230 responden diperoleh melalui teknik pengambilan sampel secara acak bertingkat (multistage random sampling).Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara tatap muka dengan bantuan kuesioner. Yang dilengkapi riset kualitatif berupa media analisys dari sejumlah surat nasional dan daerah.Dipa memaparkan, empat faktor penyebab rendahnya kepercayaan publik terhadap integritas parpol karena saat ini banyak terlibat dalam berbagai kasus korupsi."Publik mempersepsikan parpol-parpol yang ada saat ini kurang memiliki kepedulian terhadap berbagai problema rakyat," tegas Dipa.Alasan selanjutnya kata Dipa, para pengurus partai dipersepsikan cenderung berperilaku pragmatis dalam menghadapi berbagai isu nasional yang bersifat strategis."Banyaknya kasus bersifat amoral dimata publik yang melibatkan kader-kader partai seperti perselingkuhan, beristri banyak, narkoba merupakan alasan rendahnya tingkat kepercayaan publik," tambahnya.Oleh karena itu, partai-partai yang diduga banyak terlibat kasus korupsi dan kurang peduli terhadap problem rakyat, menurut Dipa, tidak memperoleh elektabilitas yang cukup signifikan.

Rekomendasi