Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Rapat Komisi II DPR dengan Pansel KPU-Bawaslu berjalan panas

Rapat Komisi II DPR dengan Pansel KPU-Bawaslu berjalan panas Rapat paripurna DPR RI. ©twitter.com/DPR_RI

Merdeka.com - Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) antara Komisi II DPR dengan Panitia Seleksi (Pansel) anggota KPU-Bawaslu berjalan panas. Sejak awal rapat anggota Komisi II memang terus mencecar proses dan mekanisme seleksi yang diterapkan Pansel.

Salah satu persoalan yang disoroti DPR yaitu soal tidak lolosnya 5 anggota Bawaslu petahana. Sementara, seluruh anggota KPU petahana yang kembali mencalonkan diri diloloskan. Komisi II pun meragukan 14 nama calon anggota KPU dan 10 calon anggota Bawaslu yang diseleksi Pansel.

Mayoritas anggota Komisi II tak puas dengan jawaban Pansel. Salah satu yang paling vokal mencecar pansel adalah anggota Fraksi PDIP Arteria Dahlan. Arteria sempat bersitegang dengan anggota Pansel Valina Singka.

Valina mengatakan, Pansel telah bekerja maksimal dalam memilih para calon anggota KPU-Bawaslu periode 2017-2022. Dia mengakui Pansel memiliki tugas berat menentukan penyelenggara pemilu demi suksesnya pesta demokrasi.

"Pengalaman saya yang cukup 7 tahun sebagai anggota KPU, 5 tahun ini di DKPP untuk bisa memberi kontribusi buat bangsa melalui pemilu. Sebab pemilu pintu gerbang demokrasi. Mulainya dari penyelenggara pemilu, luar biasa berat tugas negara yang diberikan kepada kita ber-11 ini," kata Valina di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/3).

Pansel dinilainya telah melakukan seleksi sesuai UU dengan menjalankan 5 parameter terhadap calon anggota KPU-Bawaslu. Valina mengklaim hasil seleksi yang dilakukan bisa dipertanggungjawabkan. Adapun 5 parameter itu di antaranya integritas, independensi, kompetensi, leadeship, dan kesehatan.

"Ini kan tergantung dari input yang masuk. Yang kami lakukan adalah hasil maksimal, melalui suatu proses yang bisa dipertanggungjawabkan," kata Valina.

Jawaban Valina pun mendapat kritik keras dari Arteria. "Ibu tidak bisa mempertanggungjawabkan," jawab Arteria.

Tak merespon tanggapan Arteria, Valina pun melanjutkan pemaparannya. Di tengah rapat, sebagian anggota Komisi II meninggalkan ruangan rapat karena memiliki agenda rapat lain. Pimpinan rapat Fandi Utomo meminta anggota Komisi II lain untuk menunggu hingga penjelasan Pansel selesai.

"Mohon maaf saya ingin berbicara sedikit saja, sebab berjam-jam saya sudah mendengarkan. Kami tidak bisa sempurna. Ada persoalan dalam kelembagaan penyelenggaraan pemilu yang harus terus menerus ditingkatkan yang pintu masuknya melalui rekruitmen," tegas Valina.

Setelah itu, Valina langsung menyebut nama Arteria. Anggota DKPP itu mengingatkan politikus PDIP itu soal sikap toleransi menyikapi perbedaan pendapat dalam negara demokrasi.

"Kalau kita menutup mata kepada semua ini, artinya kita tidak mau melihat apa yang sedang berkembang di negara kita, yang saya katakan kebebasan akademik, boleh sependapat, boleh berbeda, tidak setuju juga tidak apa-apa, tapi ini sebuah dinamika," ujarnya.

Merasa tidak terima, Arteria menegaskan sebagai anggota DKPP, Valina tidak bekerja dengan baik. Dari 7 anggota Pansel yang hadir, Arteria mengaku tidak menemukan kekurangan berarti, namun tidak demikian untuk Valina.

"Bu Valina yang terhormat, anggota Komisi II RI kali ini luar biasa hebatnya, saya sebelum datang saya kuliti satu-satu termasuk Prof Haryono yang saya hormati, saya cari semua kesalahannya, ternyata tidak ada Prof. Saya ingin sampaikan Bu Valina, Anda berbicara integritas, tapi waktu Anda menjabat sebagai anggota DKPP, Anda tidak berlaku sebagai mahkamah, bahkan mencari-cari temuan," timpalnya.

Sindiran Arteria membuat Valina geram. Adu mulut antar keduanya pun tak bisa terelakan. Suasana di dalam ruang rapat menjadi gaduh. Pimpinan sidang berulangkali mencoba menenangkan. Arteria dan Valina saling melontarkan kritikan pedas.

"Tidak ada itu, saya bisa jelaskan. Pak Arteri yang terhormat, kasus saya punya data di DKPP. Ini di luar konteks," teriak Valina.

"Politik itu ada etika ada moral. Apa yang di luar konteks? Saya juga punya data bu," jawab Arteria.

Fandi Utomo meminta keduanya untuk tenang dan mengendalikan diri. Fandi mengetukkan palu sidang beberapa kali memberikan peringatan agar tetap tenang. "Pak Arteri tolong mengendalikan diri, Pak Arteri. Bu Valina cukup ya. Mohon kita tidak mengurangi integritas," tutup Fandi.

Untuk diketahui, 7 anggota Pansel KPU-Bawaslu yang hadir di antaranya, Ramlan Subakti, Soedarmo, Harjono, Valina Singka, Betti Alisjahbana, Nicolas TB Harjanto dan Komaruddin Hidayat. (mdk/rnd)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP