Momen Seru Ganjar Blusukan di Banda Neira, Diberi Warga Buku Sejarah Karya Des Alwi hingga Diminta Turunkan Beras

Kedatangan Ganjar disambut antusias warga setempat.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Momen Seru Ganjar Blusukan di Banda Neira, Diberi Warga Buku Sejarah Karya Des Alwi hingga Diminta Turunkan Beras
Momen Seru Ganjar Blusukan di Banda Neira, Diberi Warga Buku Sejarah Karya Des Alwi hingga Diminta Turunkan Beras (© 2024 merdeka.com)

Kedatangan Ganjar disambut antusias warga setempat.

Calon presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo mengunjungi Pulau Banda Neira, Maluku Tengah, Selasa (30/1) pagi waktu setempat. Ganjar tiba menaiki pesawat Susi Air yang berada di kawasan Teluk Ambon tersebut.


Kedatangan Ganjar disambut antusias warga setempat. Mantan Gubernur Jawa Tengah ini diberi buku mengenai sejarah Banda Neira karya salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia; Des Alwi Abubakar atau biasa dikenal sebagai Des Alwi.

Warga berharap buku tersebut dapat menjadi modal Ganjar mengembangkan Banda Neira  apabila menjadi presiden<br>
© 2024 merdeka.com

"Tolong bapak mempelajarina sehingga bisa mengembangkan Banda di masa depan, terutama situs-situs yang ada di banda," kata perwakilan warga saat memberikan buku kepada Ganjar.

Banda Neira diketahui memiliki sejumlah situs sejarah perjuangan kemerdekaan seperti Benteng Belgica, rumah pengasingan Sutan Sjahrir dan rumah pengasingan Bung Hatta.

Ganjar kemudian mengunjungi Pasar Sandar yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Bandara Banda Neira. Lokasi pasar tradisional itu di dermaga Pelabuhan Banda Neira.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Sepanjang jalan menuju Pasar Sandar, warga heboh menyambut kedatangan Ganjar.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu hingga anak-anak meneriaki dan bersalaman dengan politikus PDI Perjuangan tersebut.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Setiba di Pasar Sandar, Ganjar sempat menanyakan mengenai hasil tangkapan ikan kepada salah satu nelayan bernama Labainuru.

Labainuru mengatakan, nelayan di Pelabuhan Banda Neira terkenal hasil penangkapan ikan tuna. Jumlah tangkapan bisa mencapai 10 hingga 11 per hari. Ikan tuna itu kemudian dijajakan di dermaga Banda Neira.

Namun Labainuru mengeluhkan kesulitan memperoleh bahan bakar minyak untuk perahu digunakan nelayan menangkap ikan. Jenis bahan bakar itu minyak tanah. Sebab perahu digunakan jenis perahu tempel.

"Itu kendalanya juga buat nelayan," kata Labainuru.

Labainuru juga mengeluhkan minimnya pasokan listrik di Banda Neira kepada Ganjar. Sebab, menurut dia, pembangkit listrik yang ada saat ini kurang mencukupi kebutuhan untuk penampungkan ikan.

"Pembangkit listrik di Banda harus ditingkatkan, diperbesar supaya hasil tangkapan nelayan itu bisa terakomodir secara keseluruhan. Kendalanya di listrik yang tidak mampu membakitkan penampungan ikan," ujar Labainuru.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Ganjar juga menyempatkan berdialog petani pala. Salah satu rempah itu menjadi salah satu komoditas utama pendapatan warga selain nelayan.

Bunga dari buah pala itu salah satunya diolah menjadi bahan campuran minuman bersoda. Namun harga buah pala itu tak setinggi ketika zaman Belanda. <br>
© 2024 merdeka.com

"Pala itu panennya setahun tiga kali pak," kata salah satu petani kepada Ganjar.

Usai berdialog dengan nelayan dan petani, Ganjar menyusuri rumah-rumah warga.<br>
© 2024 merdeka.com

Dalam salah satu kesempatan, Ganjar berhenti di rumah warga berjualan sayur mayur.

Warga mengeluh harga bahan pokok seperti beras yang meroket. Warga pun meminta Ganjar memberikan solusi untuk menekan harga bahan pokok tersebut.

"Beras ada yang sampai Rp20 ribu, BBM sampai Rp40 ribu per jerigen per lima liter. Jadi kalau seandainya bapak menang Banda ini tolong dipikirkan. Murah bahagia," kata warga.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Menurut Ganjar, solusi mengatasi harga bahan pokok yang tinggi itu yakini pembenahan sistem transportasi.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Ganjar mengakui selama ini sistem transportasi di Indonesia bagian timur, khususnya di Kepulauan Maluku, masih jauh dari ideal.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Ganjar mengatakan, banyak pulau di Indonesia bagian timur tersebut, namun aksesibilitas antarpulau masih sulit dan mahal lantaran keterbatasan armada.

Ganjar menekankan tata kelola transportasi di pulau harus asimetris karena wilayahnya memiliki ciri berbeda-beda dari yang lainnya.


"Maka yang bercirikan kepulauan itu rasanya moda transportasinya tinggal dua saja, apakah ambil dari air laut, sungai, tapi kalau ada cuaca tidak bagus maka udara. Hanya dua itu," kata Ganjar.

Rekomendasi