Debat Pilpres 2019 digelar 5 kali, KPU godok tema dan panelis

Senin, 22 Oktober 2018 19:26 Reporter : Hari Ariyanti
Debat Pilpres 2019 digelar 5 kali, KPU godok tema dan panelis komisioner KPU Wahyu Setiawan. ©2018 Merdeka.com/Hari Ariyanti

Merdeka.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI akan menyelenggarakan lima kali debat pasangan capres-cawapres pada 2019 mendatang. Saat ini KPU tengah menyusun format debat dan juga mengidentifikasi siapa saja panelis sampai moderator yang akan dilibatkan dalam debat nanti. Hal ini diungkapkan Komisioner KPU RI, Wahyu Setiawan, Senin (22/10).

Wahyu menyampaikan, lima kali debat itu yaitu ada jadwal untuk debat pasangan capres-cawapres, debat capres, dan debat cawapres. Saat debat capres, cawapres akan tetap dihadirkan. Begitu juga saat debat khusus cawapres, capres akan tetap hadir.

"Jadi saling hadir semua. Lima kali rencananya akan kita mulai di 2019. Kita juga sudah mulai mengidentifikasi isu-isu utama, panelis-panelis dan narasumber. Jadi nanti kita akan undang berbagai pihak untuk merumuskan isu-isu utama," jelasnya di Kantor KPU RI, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat.

Setelah isu utama dirumuskan, KPU akan membahasnya bersama para pakar. Berbagai rancangan itu mulai dibuat tahun ini sehingga tinggal dilaksanakan tahun depan.

"Nanti kita adakan godok bersama tim pakar. Jadi rancangan waktunya sudah, isunya sudah, tim pakar sudah, calon panelis sudah, calon moderator sudah. Jadi rancangan itu sudah. Hanya memang itu baru akan dilakukan di 2019, tapi rancangan-rancangan itu sudah ada," terangnya.

Terkait usulan debat di kampus, Wahyu mengatakan, usulan itu akan didiskusikan saat rapat pleno bersama komisioner KPU lainnya. Pihaknya akan tetap merujuk pada PKPU terkait sembilan metode kampanye, salah satunya debat.

"Kenapa kita masih berpikir debat itu dilaksanakan di luar kampus? Karena debat itu adalah salah satu dari sembilan metode kampanye. Berarti debat itu kampanye. Padahal ada aturan KPU kampanye tak bisa dilaksanakan di lembaga pendidikan," terangnya.

Jika kemudian audiens kampanye adalah para civitas akademika, Wahyu mengatakan, tak masalah asalkan lokasi debat tidak di dalam kampus. Menurutnya semakin banyak audiens dilibatkan, hal itu akan semakin baik.

"Golongan-golongan masyarakat di Indonesia yang berkepentingan kan banyak, ada kelompok profesi, pengajar, pelajar. Mahasiswa dan pelajar kan hanya salah satu kelompok dari ragam kelompok yang ada di Indonesia dan semua kelompok itu akan kita akomodir," pungkasnya. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini