Yusril Ungkap Alasan Abu Bakar Ba'asyir Tolak Teken Setia pada NKRI

Sabtu, 19 Januari 2019 14:26 Reporter : Merdeka
Yusril Ungkap Alasan Abu Bakar Ba'asyir Tolak Teken Setia pada NKRI Cerita Yusril Melobi Jokowi Demi Bebasnya Abu Bakar Baasyir. ©Liputan6.com/Ditto Radityo

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo ( Jokowi) memberikan kebebasan kepada terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir dengan alasan kemanusiaan. Meski demikian, Ba'asyir menolak untuk menandatangani surat pernyataan untuk setia pada Pancasila dan NKRI sebagai salah satu persyaratan kebebasan.

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengungkap alasan penolakan Ba'asyir meneken surat tersebut karena kepercayaan dan pendirian Ba'asyir hanya untuk hal diyakininya dalam agama Islam.

"Pak Yusril kalau suruh tanda tangan itu saya tak mau bebas bersyarat, karena saya hanya patuh dan menyembah-Nya, inilah jalan yang datang dari Tuhan mu," kata Yusril menirukan perkataan Ba'asyir saat di Lapas Gunung Sindur, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Mendengar jawaban Ba'asyir, Yusril berusaha meyakinkan namun tidak memperdebatkannya lebih jauh.

"Kan Pancasila ini falsafah negara Islam, kalau sejalan kenapa tidak jalani Islamnya saja? Tapi saya tidak mau berdebat soal ini," kata Yusril.

Lantas, ia langsung melaporkan penolakan Ba'asyir kepada Presiden Jokowi yang kemudian direspons serupa. Aturan dari PP itu pun dikesampingkan.

"Jadi saya cari jalan keluarnya, bagaimana kalau kita lunakan syaratnya. Jadi beliau bebas dengan syarat yang dimudahkan," ungkap Yusril.

Peran Yusril dalam Pembebasan Ba'asyir

Dalam jumpa pers yang digelar di Kantor Hukum Mahendradatta, Fatmawati, Jakarta Selatan, Yusril menceritakan proses pembebasan Ba'asyir mulai dari tahap melobi Jokowi.

Menurut dia, alasan kemanusiaan membuat Jokowi mengambil langkah kebijakan dengan mengesampingkan peraturan pemerintah (PP) No. 99 tahun 2012 tentang syarat pemberian hak pada narapidana tertentu, termasuk terorisme.

"Pertimbangannya adalah kemanusiaan dan penghormatan terhadap ulama yang uzur, sudah sakit. Pak Jokowi minta cari jalan keluarnya, Pak Jokowi tak tega ada ulama dipenjara lama-lama karena sudah dari zaman SBY," kata Yusril yang kini menjabat sebagai Kuasa hukum pasangan calon presiden Jokowi-Ma'ruf, Sabtu (19/1).

Sebelum perhelatan debat Pilpres, 17 Januari 2019, Jokowi memintanya untuk berkoordinasi dengan Menkumham Yasona Laoly untuk mempertemukan Yusril dengan Ba'asyir pada Jumat 18 Januari 2019.

"Pada saat debat Capres, saya ketemu dengan Pak Yasona, beliau bilang ke saya apa mau Jumatan di Gunung Sindur? Lalu saya datang ketemu tim Pengacara Muslim Ahmad Mikhdan, untuk membantu pembebasan ini," terang Yusril.

Bersedia Pasang Badan jika Penolakkan Ba'asyir Digugat

Yusril bersedia pasang badan jika ada yang menggugat pembebasan bersyarat Ba'asyir. hal itu lantaran tidak adanya bubuhan tanda tangan Ba'asyir yang menyatakan bakal setia pada NKRI usai diberi pembebasan bersyarat.

"Karena (megesampingkan) bertentangan dengan undang-undang tapi ini yang ambil keputusan Jokowi, dan (jika) akan menghadapinya di peradilan TUN, saya akan hadapi dan saya mengatakan ini peraturan menteri yang bisa dikesampingkan oleh presiden," kata Yusril.

Reporter: Muhammad Radityo
Sumber : Liputan6.com [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini