Warga Protes Penutupan Jalan Kompleks TNI Tembus Permukiman Padat di Makassar

Selasa, 30 Juli 2019 19:35 Reporter : Salviah Ika Padmasari
Warga Protes Penutupan Jalan Kompleks TNI Tembus Permukiman Padat di Makassar Warga Kampung Kokolojia protes penutupan akses jalan. ©2019 Merdeka.com/Salviah Ika Padmasari

Merdeka.com - Ratusan warga Kampung Kokolojia, Kelurahan Kunjung Mae, Kecamatan Mariso, Makassar, Sulawesi Selatan, memprotes upaya penutupan akses jalan Garuda Buntu menuju kompleks pemukimannya, Selasa (30/7).

Jalan yang hendak ditutup dengan cara dipagari itu berada dalam kompleks TNI, bersebelahan dengan pemukiman padat penduduk. Ditutup agar tidak lagi menjadi jalan umum. Di sisi kiri kanan jalan ini ada puluhan unit rumah dinas TNI yang sementara direnovasi.

Pukul 11.00 WITA, personel gabungan dari Kodim 1408/BS dan Kodam XIV/Hasanuddin tiba dengan dua truk. Di antaranya memuat balok-balok dan kayu-kayu yang rencananya dijadikan pagar untuk menutup terusan jalan Garuda Buntu itu. Namun warga setempat membuat perlawanan sehingga kegiatan pemagaran pun ditunda.

"Jalan Garuda Buntu ini adalah akses warga keluar masuk dari pemukiman. Itu satu-satunya jalan yang luas sehingga jika terjadi kebakaran atau kematian, mobil Damkar atau ambulans bisa leluasa. Tapi kalau ditutup maka satu-satunya akses jalan adalah jalan sempit yang tembus ke jalan Rajawali, hanya motor yang bisa melintas," kata Nurlinda Nassa (61), salah seorang warga yang juga pengurus majelis taklim dan panti asuhan di kampung itu.

Dia menyebut, sebelumnya memang jalan Garuda itu tertutup sehingga namanya melekat jadi jalan Garuda Buntu. Namun kesepakatan dengan para tentara yang tinggal di kompleks kala itu sepakat untuk memberikan akses jalan sehingga dibuka.

"Saat itu zaman orang tua kami. Anggota TNI ikut berbaur dengan warga, ikut jadi pengurus masjid, pembina pemuda dan lain-lain. Tapi kenapa ini mau ditutup lagi padahal selama ini hubungan dengan warga baik-baik saja," kata Nurlinda Nassa.

Dia menambahkan, kalau memang tidak respek dengan anak-anak yang kerap main bola di jalan atau memanjat pohon mangga dalam kompleks itu, bisa dilakukan pelarangan dan warga akan ikut mengawasi sehingga akses jalan tetap terbuka.


Abdul Azis Laja, juga salah seorang warga mengatakan, kalau para tentara itu datang lagi lakukan penutupan, warga tetap akan lakukan perlawanan.

Sementara itu, Dandim 1408/BS Makassar, Kolonel Inf Andrianto yang dikonfirmasi mengatakan, jalan itu adalah tanah negara dan pihaknya bertugas amankan salah satu aset negara tersebut.

Sebenarnya, lanjut Andrianto, rencana penutupan jalan itu telah disosialisasikan beberapa kali ke warga melibatkan ketua-ketua RT, RW, Sekretaris Lurah, Lurah dan Camat.

"Jadi tadi personel gabungan di bawah Kodam XIV termasuk Kodim turun untuk melakukan penutupan atau pemagaran. Kita tahu banyak sekali penyerobotan atas aset-aset negara dan itu salah satu tugas kita untuk amankan jangan sampai statusnya tidak jelas," beber Kolonel Inf Andrianto.

Dikonfirmasi terpisah, Kapendam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Maskun Nafik juga menyampaikan hal senada. Kata dia, jalan yang akan dipagari itu di dalam kompleks TNI. Saat ini sementara direnovasi untuk ditinggali para perwira pangkat kolonel yang menjabat Kabalak atau Kepala Badan Pelaksana.

"Jadi sebelumnya, kompleks itu dikuasai masyarakat umum cucu-cucu eks TNI, orang-orang yang tidak berhak. Ada yang ditinggali, ada pula yang dipersewakan padahal itu adalah aset negara. Kemudian dilakukan penertiban. Setelah semuanya keluar, rumah-rumah itu kemudian dibangun kembali untuk ditinggali para kabalak sekaligus untuk mengamankan aset tersebut. Supaya perwira kolonel ini tinggalnya nyaman maka jalan yang bersebelahan pemukiman itu akan dipagari. Soal apakah ditutup full atau bagaimana, saya belum tahu," jelas Kolonel Inf Maskun Nafik. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. TNI
  2. Makassar
  3. Sengketa Lahan
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini