Ratusan kera di kawasan Gua Kreo Kecamatan Gunungpati, Semarang 'berpesta' menikmati hasil bumi yang disuguhkan warga Kampung Talun Kacang, Kelurahan Kandri, dalam tradisi Sesaji Rewanda, Sabtu (28/3).
Momen tersebut menjadi bagian dari tradisi syawalan yang rutin digelar masyarakat setempat.
Tradisi sakral diawali dengan arak-arakan atau kirab budaya. Dalam arak-arakan, warga membawa tujuh gunungan berisi aneka hasil bumi, mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, ketupat, hingga sego kethek.
Tak hanya itu, sejumlah warga juga turut membawa replika kayu jati. Replika tersebut melambangkan perjalanan Sunan Kalijaga saat mengantarkan kayu dari Gua Kreo untuk pembangunan Masjid Agung Demak.
Advertisement
Sesampainya di kawasan Gua Kreo, prosesi inti berupa pembagian hasil bumi dimulai. Sebelum dibagikan kepada para monyet, doa-doa terlebih dahulu dipanjatkan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan warga.
Ketua Pengelola Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori, mengatakan tradisi Sesaji Rewanda merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas berbagai nikmat yang telah diterima. Mulai dari kelancaran rezeki, kesehatan, hingga upaya menjaga dan melestarikan warisan leluhur.
"Monyet-monyet ini konon membantu Sunan Kalijaga, warga di sini diberi tugas dan amanah untuk melestarikan Gua Kreo dan Waduk Jatibarang, termasuk menjaga kera - kera yang ada," kata Saiful di Semarang.
Monyet yang berada di Gua Kreo tidak hanya sebagai satwa liar, selain itu juga bagian dari warisan budaya yang wajib dijaga turun-temurun oleh warga. Interaksi harmonis antara manusia dan monyet menjadi komitmen masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
"Maka warga di sini tidak berani menangkap atau membunuh monyet di Gua Kreo. Kami hidup berdampingan dengan mereka satu sama lainnya," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari mengatakan bahwa sebelum prosesi Sesaji Rewanda digelar, Pemkot Semarang terlebih dahulu menghadirkan pertunjukan Mahakarya Gua Kreo pada Jumat 26 Maret 2026 malam.
"Jadi sejak tadi malam ada Mahakarya Gua Kreo, yang ditampilkan secara kolosal dengan lebih dari 150 penari dan pemusik," kata Iin.
Dua agenda budaya tersebut dirancang untuk merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap syiar Islam yang dilakukan Sunan Kalijaga dalam pembangunan Masjid Agung Demak. Tradisi Sesaji Rewanda pun dinilai sarat akan nilai kebersamaan.
"Ini simbol semangat gotong royong dan persatuan. Kami ingin menyeimbangkan kehidupan manusia dengan flora, fauna, dan alam sekitarnya. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat hidup, di sini semuanya hidup berdampingan dengan rukun," katanya.