Yogyakarta – Tim relawan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil langkah proaktif dalam penanganan pascabencana di Aceh. Mereka memasang sistem penjernih air bertenaga surya di berbagai lokasi terdampak. Inisiatif ini bertujuan utama untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak bencana.
Pemasangan sistem penjernih air ini menjadi solusi krusial di tengah keterbatasan infrastruktur. Air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang seringkali terganggu pascabencana. Dengan demikian, keberadaan alat ini sangat vital bagi kelangsungan hidup dan kesehatan warga.
Dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Adhy Kurniawan, menjelaskan bahwa sistem yang dipasang memiliki kapasitas besar. Alat ini mampu menghasilkan 500 hingga 1.000 galon per hari (GPD), setara dengan 1.900 sampai 3.800 liter air bersih setiap hari.
Advertisement
Advertisement
Adhy Kurniawan menekankan pentingnya air bersih dan listrik sebagai kebutuhan dasar yang harus terpenuhi. Sistem penjernih air bertenaga surya ini dirancang untuk meminimalisir ketergantungan pada pasokan listrik konvensional atau bahan bakar minyak (BBM). Hal ini menjadikan sistem tersebut sangat ideal untuk daerah yang mengalami kerusakan infrastruktur energi pascabencana.
Kapasitas produksi air bersih yang mencapai ribuan liter per hari memastikan kebutuhan ratusan warga dapat terpenuhi. Terutama di posko pengungsian, alat ini menjadi tulang punggung penyediaan air minum dan air bersih. Keberadaan sistem ini sangat membantu dalam menjaga sanitasi dan kesehatan lingkungan pengungsian.
Program pemasangan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat UGM. Proyek tanggap darurat bencana ini dilaksanakan secara lintas disiplin ilmu. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen UGM dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Kegiatan ini tidak hanya melibatkan dosen dari Sekolah Vokasi UGM. Tim relawan juga menggandeng dukungan dari Universitas Teuku Umar (UTU) dan Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL). Keterlibatan berbagai institusi pendidikan ini memperkuat sinergi dalam penanganan bencana.
Sebagai langkah awal, tim UGM telah berhasil memasang sistem penjernih air sederhana di satu titik. Lokasi pertama yang mendapatkan manfaat adalah RSUD Bener Meriah. Pemasangan ini merupakan upaya penguatan layanan kesehatan di wilayah yang terdampak bencana.
Berdasarkan hasil asesmen awal, beberapa lokasi lain telah diprioritaskan untuk pemasangan alat penjernih air. Prioritas utama termasuk Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, serta Polindes di wilayah Simpur, Kabupaten Bener Meriah. Adhy menyatakan bahwa penempatan alat penjernih air bertenaga surya akan terus dilakukan di titik prioritas lainnya.
Advertisement
Advertisement
Selain penguatan layanan air bersih, tim relawan juga turut mendampingi pelayanan kesehatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Di Puskesmas Bandar dan RSUD Muyang Kute, tim melakukan pengecekan menyeluruh terhadap fasilitas kamar operasi dan kamar bersalin. Hal ini termasuk memastikan ketersediaan air bersih yang memadai untuk operasional medis.
Ketua Tim Cadangan Kesehatan-Emergency Medical Team Academic Health System (TCK-EMT AHS) UGM, Muhammad Nurhadi Rahman, menyoroti tantangan utama dalam penanganan bencana kali ini. Akses yang terputus menjadi kendala signifikan, meskipun fasilitas kesehatan masih beroperasi dengan kondisi terbatas. Kondisi ini sangat memengaruhi kualitas layanan.
Nurhadi mengungkapkan bahwa pasokan air sempat mati dari pukul 10 pagi hingga sekitar jam 7 malam. Situasi ini tentu sangat berdampak pada layanan kesehatan yang memerlukan air bersih secara terus-menerus. Koordinasi juga dilakukan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan gambaran kondisi infrastruktur air bersih yang lebih jelas.
Advertisement
Informasi dari BNPB menunjukkan bahwa empat dari delapan sumber PDAM di Bener Meriah mengalami kerusakan parah. Fasilitas perbaikan belum dapat menjangkau lokasi-lokasi tersebut. Akibatnya, masyarakat saat ini hanya dapat mengandalkan empat sumber PDAM secara bergantian.
Sumber: AntaraNews