Jakarta, 9 Januari – Industri fashion Tanah Air diperkirakan akan mengalami pergeseran signifikan pada tahun 2026. Prediksi ini datang dari Ashila Ramadani, pendiri jenama busana modest Taza, yang melihat adanya peningkatan permintaan terhadap pakaian dengan kain berbahan natural. Tren ini diproyeksikan akan menjadi kekuatan utama yang membentuk arah industri mode di masa depan.
Ashila Ramadani mengungkapkan bahwa permintaan akan kain berbahan natural atau natural fabric akan semakin tinggi seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pelestarian lingkungan. Peningkatan kesadaran ini menjadi faktor pendorong utama di balik perubahan preferensi konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen semakin selektif dalam memilih produk yang ramah lingkungan.
Pergeseran tren ini bukan tanpa alasan kuat, dengan Generasi Z (Gen Z) menjadi salah satu pendorong utamanya. Generasi muda ini menunjukkan kepedulian yang lebih besar terhadap isu-isu lingkungan, sehingga mendorong industri untuk berinovasi dan menyediakan pilihan yang lebih berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Kesadaran Lingkungan Gen Z Mendorong Tren Berkelanjutan
Peningkatan permintaan terhadap kain berbahan natural pada tahun 2026 sangat dipengaruhi oleh pemahaman Generasi Z yang semakin tinggi terhadap isu lingkungan. Ashila Ramadani menjelaskan bahwa arus informasi yang deras mengenai upaya pelestarian lingkungan untuk masa depan telah membentuk pandangan generasi ini. Isu lingkungan memang telah menjadi sorotan utama dalam beberapa tahun terakhir, dan Gen Z dikenal lebih 'melek' serta peduli terhadap hal-hal semacam itu.
Menurut Ashila, tingkat kepedulian Gen Z terhadap nilai lingkungan jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Seiring dengan pertumbuhan dan kedewasaan Gen Z, mereka akan menjadi pasar utama di berbagai industri, termasuk fashion. Pendekatan keberlanjutan (sustainability) yang masif di industri fashion menjadi respons terhadap tuntutan pasar dari generasi ini.
Kain berbahan natural sendiri merupakan serat yang berasal dari tumbuhan atau hewan, seperti katun, linen, wol, atau sutra, yang dikenal lebih ramah lingkungan dibandingkan serat sintetis. Serat alami ini menawarkan kenyamanan, sirkulasi udara yang baik, dan seringkali bersifat hipoalergenik, menjadikannya pilihan yang menarik bagi konsumen yang sadar lingkungan dan kesehatan.
Advertisement
Advertisement
Taza Merespons Tren dengan Koleksi Berbahan Natural
Untuk menjawab tren yang berkembang ini, jenama busana Taza berkomitmen untuk selalu menghadirkan koleksi yang menggunakan bahan dasar natural. Salah satu contohnya adalah penggunaan bahan nubuck fabric yang aman untuk kulit dan berasal dari benang yang sudah tersertifikasi. Nubuck adalah jenis kulit top-grain yang permukaannya dihaluskan sehingga memiliki tekstur lembut seperti beludru, mirip suede namun lebih kuat dan tebal karena berasal dari bagian luar kulit.
Fokus Taza tidak hanya terbatas pada proses produksi yang berkelanjutan, tetapi juga mencakup perhatian terhadap kesejahteraan pekerja di balik sebuah jenama. Keberlanjutan dalam konteks ini berarti memastikan aspek ekonomi dan produktivitas para pekerja juga diperhatikan secara adil. Pendekatan holistik ini mencerminkan komitmen terhadap etika dan tanggung jawab sosial dalam rantai pasok fashion.
Dengan mengedepankan bahan-bahan alami dan praktik yang bertanggung jawab, Taza berupaya memenuhi ekspektasi konsumen yang semakin peduli terhadap dampak lingkungan dan sosial dari produk yang mereka beli. Langkah ini sejalan dengan visi industri fashion yang lebih etis dan berkelanjutan di masa depan.
Advertisement
Advertisement
Prediksi Tren Warna dan Pola Fashion 2026
Selain dominasi kain berbahan dasar dari alam, Ashila Ramadani juga memprediksi bahwa tahun 2026 akan didominasi oleh koleksi fashion dengan warna cerah dan penuh warna. Tren ini mengindikasikan keinginan untuk ekspresi diri yang lebih berani dan optimis melalui pilihan busana. Palet warna yang kaya akan memberikan variasi yang menyegarkan dalam dunia mode.
Mengenai pola pada pakaian, Ashila menambahkan bahwa desain di tahun 2026 akan lebih disesuaikan dengan preferensi masing-masing individu. Hal ini akan menghasilkan keragaman desain yang lebih luas, memungkinkan setiap orang untuk mengekspresikan gaya pribadi mereka tanpa batasan. Fleksibilitas dalam pola ini menunjukkan pergeseran menuju personalisasi dalam fashion.
Secara keseluruhan, industri fashion 2026 akan ditandai oleh perpaduan antara kesadaran lingkungan yang mendalam, inovasi dalam bahan natural, serta kebebasan berekspresi melalui warna dan pola. Tren ini mencerminkan evolusi selera konsumen yang semakin matang dan bertanggung jawab.
Advertisement
Sumber: AntaraNews