Tragedi Sidoarjo Renggut 67 Jiwa, Pemkot Surabaya dan ITS Luncurkan Audit Struktur Pesantren
Pasca-tragedi robohnya bangunan di Sidoarjo, Pemkot Surabaya gandeng IKA ITS untuk lakukan audit struktur pesantren demi cegah insiden serupa. Bagaimana langkah selanjutnya?
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bekerja sama dengan Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) meluncurkan program audit struktur pesantren. Inisiatif ini diambil menyusul insiden tragis robohnya bangunan pesantren di Sidoarjo, Jawa Timur, yang menewaskan puluhan orang. Langkah proaktif ini bertujuan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di lembaga pendidikan Islam lainnya.
Program audit ini akan melibatkan tim khusus yang terdiri dari insinyur alumni ITS. Mereka akan diterjunkan untuk memeriksa integritas struktural bangunan-bangunan pesantren di seluruh Jawa Timur, dimulai dari Surabaya. Fokus utama adalah memastikan setiap bangunan memenuhi standar keselamatan yang berlaku.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa upaya ini merupakan bentuk tindakan preventif. Beliau berharap tidak ada lagi korban jiwa akibat bangunan yang tidak layak huni, sehingga lingkungan belajar para santri tetap aman dan nyaman.
Langkah Proaktif Pemkot Surabaya dan IKA ITS
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa inisiatif audit struktur pesantren ini merupakan cerminan dari upaya proaktif kota. Tujuannya adalah mencegah insiden serupa terjadi di sekolah-sekolah lain, khususnya pesantren. "Kami melakukan tindakan preventif. Sebagai Ketua IKA ITS Jawa Timur, saya meminta bantuan ITS, dan rektor setuju untuk membantu menilai kekuatan struktural setiap bangunan pesantren," kata Eri di Surabaya pada Selasa.
Sebuah tim gabungan khusus yang terdiri dari insinyur alumni ITS akan segera dibentuk dan ditugaskan. Tim ini akan memeriksa pesantren-pesantren di seluruh Jawa Timur untuk menilai integritas struktural bangunan mereka. IKA ITS juga akan memberikan dukungan teknis langsung untuk penilaian struktural dan arsitektur di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, tempat keruntuhan terjadi.
Dukungan teknis ini memastikan bahwa konstruksi di masa depan memenuhi standar keselamatan. "Tujuan kami adalah memastikan bahwa setiap konstruksi di masa depan—siapa pun yang membangunnya—dapat menerima bantuan teknis kami dalam desain dan perhitungan. Ini penting untuk mencegah tragedi lain," tambah Eri.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan jaminan keamanan bagi para santri dan pengelola pesantren. Dengan adanya audit struktur pesantren yang komprehensif, risiko kecelakaan akibat bangunan yang tidak layak dapat diminimalisir secara signifikan.
Peta Jalan Peninjauan dan Prioritas Nasional
Program pemetaan pesantren ini akan dimulai di Surabaya sebelum diperluas ke kabupaten/kota lain di Jawa Timur. Wali Kota Eri Cahyadi menyatakan, "Pemetaan ini akan dilakukan bersama IKA ITS. Kami akan memulai dengan mengorganisir semua pesantren di Surabaya, kemudian memperluas program ini ke seluruh Jawa Timur. Sebuah tim khusus akan memimpin implementasinya."
Tragedi robohnya bangunan empat lantai di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, pada 29 September lalu saat salat Ashar, menewaskan 67 orang. Kejadian memilukan ini menjadi pemicu utama bagi pemerintah untuk bertindak cepat. Presiden Prabowo Subianto, pasca-kejadian tersebut, telah memerintahkan evaluasi nasional terhadap integritas struktural pesantren untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, turut menyampaikan bahwa peningkatan standar keselamatan di pesantren dan tempat ibadah kini menjadi prioritas nasional. Beliau mencatat bahwa dari 42.369 pesantren di seluruh Indonesia, sebagian besar dioperasikan secara swasta. Hanya sekitar lima persen madrasah atau sekolah Islam yang dikelola oleh negara.
Data ini menunjukkan urgensi dari program audit struktur pesantren yang digagas Pemkot Surabaya dan IKA ITS. Dengan melibatkan para ahli, diharapkan seluruh bangunan pesantren dapat diverifikasi kelayakannya. Hal ini untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi jutaan santri di Indonesia.
Sumber: AntaraNews