Tak punya biaya persalinan, Legiah pontang panting cari pinjaman

Tak punya biaya persalinan, Legiah pontang panting cari pinjaman. Keluarga ini tinggal di gubuk pinggir hutan bakau Lingkungan Asri, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Jembrana. Dan kini Legiah harus merawat empat anaknya yang masih kecil-kecil dan seorang bayi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tak punya biaya persalinan, Legiah pontang panting cari pinjaman
penduduk miskin di bali. ©2017 Merdeka.com/gede nadi jaya

Hidup serba kekurangan dan tinggal di gubuk yang reyot tidak membuat Legiah (35) dan Karim (41) pasutri asal Jembrana, Bali, menyetop kehamilan, dengan alasan tidak cukup biaya untuk menggunakan alat kontrasepsi.Bahkan saat anak keenamnya lahir pada 5 Desember 2016 lalu, ibu ini harus ke sana kemari memohon bantuan pinjaman untuk melunasi biaya persalinannya. Syukurnya saat itu ada warga yang memberikan pinjaman untuk menebus biaya persalinan ke rumah sakit sebesar Rp 4 juta."Waktu itu kami sudah bawa surat miskin dari kelurahan tapi tidak berlaku katanya. Tapi suami saya yang tahu dan simpan semua kwitansi rumah sakit. Kalau tidak ada uang untuk tebus bayi saya dititipkan dulu di rumah sakit," ujarnya Legiah.Dirinya juga mengaku tidak bisa mengikuti program KB, karena kembali lagi soal dana. Namun, Legiah mengatakan, pasca melahirkan putra keenamnya dia akan ber KB karena tidak ingin menambah beban lagi.Keluarga ini tinggal di gubuk pinggir hutan bakau Lingkungan Asri, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Jembrana. Dan kini Legiah harus merawat empat anaknya yang masih kecil-kecil dan seorang bayi. Sementara dua anaknya sudah sejak kecil diasuh oleh kerabatnya. Suaminya hanya bekerja sebagai buruh dengan pendapatan tidak menentu. Di dalam gubuk tersebut mereka tidur berenam dalam kasur kapuk yang lembab.

Rekomendasi