Tahukah Kamu? Situbondo Masuk Ring of Fire, Gubernur Jatim Dorong Pembentukan Desa Tangguh Bencana Situbondo untuk Mitigasi

Gubernur Khofifah mendesak pembentukan Desa Tangguh Bencana Situbondo pascagempa, mengingat Jatim berada di Ring of Fire. Langkah ini krusial untuk mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Kamu? Situbondo Masuk Ring of Fire, Gubernur Jatim Dorong Pembentukan Desa Tangguh Bencana Situbondo untuk Mitigasi
Gubernur Khofifah mendesak pembentukan Desa Tangguh Bencana Situbondo pascagempa, mengingat Jatim berada di Ring of Fire. Langkah ini krusial untuk mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat. (Merdeka.com)

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, secara langsung mendorong Pemerintah Kabupaten Situbondo untuk segera membentuk desa tangguh bencana. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi risiko bencana alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi di wilayah tersebut. Dorongan ini disampaikan setelah Khofifah mengunjungi lokasi terdampak gempa bumi di Desa Sumberwaru.

Kunjungan tersebut dilakukan pada Sabtu (27/9) setelah wilayah Situbondo diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,4. Gempa ini mengakibatkan kerusakan pada 145 rumah warga di empat desa di Kecamatan Banyuputih. Khofifah menekankan pentingnya kewaspadaan mengingat Jawa Timur merupakan bagian dari "Ring of Fire" yang rawan bencana.

Pembentukan desa tangguh bencana diharapkan dapat menjadi solusi konkret dalam menghadapi potensi bencana di masa depan. Melalui program ini, kader-kader desa akan dilatih khusus untuk melakukan mitigasi dan mencari solusi bersama. Pemerintah Provinsi Jatim juga siap mendukung dengan pelatihan dan penyediaan peralatan yang diperlukan.

Pentingnya Desa Tangguh Bencana di Zona Rawan

Gubernur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa wilayah Jawa Timur, termasuk Situbondo, berada dalam "Ring of Fire" atau Cincin Api Pasifik, yang menjadikannya rentan terhadap aktivitas geologi. Kondisi geografis ini menuntut adanya kewaspadaan tinggi dan upaya mitigasi bencana yang komprehensif. Oleh karena itu, pembentukan desa tangguh bencana menjadi prioritas utama untuk melindungi masyarakat.

Pascagempa yang melanda Situbondo, kebutuhan akan kesiapsiagaan semakin mendesak. Khofifah menyatakan, "Jawa Timur dan Indonesia ini masuk ring of fire, kita harus melakukan kewaspadaan dan mitigasi bencana. Oleh karena itu menyiapkan desa tangguh bencana menjadi penting." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi pembentukan tim respons cepat di tingkat desa.

Konsep desa tangguh bencana dirancang untuk memberdayakan komunitas lokal agar mampu mengidentifikasi risiko, merencanakan tindakan darurat, dan memulihkan diri pascabencana. Desa-desa yang terkonfirmasi memiliki risiko bencana akan menjadi target utama. Program ini akan melatih kader-kader lokal untuk menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen penuh untuk mendukung inisiatif ini. Khofifah menambahkan, "Nantinya kader desa yang dilatih untuk disiapkan desa tangguh bencana, jika disiapkan desa tangguh, Pemprov Jatim siap melakukan pelatihan termasuk menyiapkan peralatan di masing-masing desa tangguh." Dukungan ini mencakup pelatihan intensif serta penyediaan sarana dan prasarana mitigasi yang memadai.

Bantuan dan Dukungan Pemerintah Provinsi untuk Situbondo

Dalam kunjungannya, Gubernur Khofifah tidak hanya memberikan arahan strategis, tetapi juga menyerahkan bantuan logistik secara simbolis kepada korban gempa di Desa Sumberwaru. Beliau didampingi oleh Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Wakil Bupati Ulfiyah. Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian nyata pemerintah terhadap warga terdampak.

Bantuan yang diserahkan meliputi berbagai kebutuhan dasar dan material bangunan untuk perbaikan rumah. Rincian bantuan tersebut antara lain:

  • Sandang pria: 100 paket
  • Sandang wanita: 100 paket
  • Sandang lansia: 100 paket
  • Terpal: 200 buah
  • Makanan siap saji: 20 dos
  • Lauk pauk: 20 dos
  • Tambahan gizi: 10 dos
  • Family kids: 100 paket
  • Paket kebersihan: 75 paket
  • Selimut: 120 buah
  • Kids ware: 100 paket
  • Sembako: 100 paket
  • Semen: 500 sak
  • Bata merah: 10.000 buah
  • Galvalum: 300 batang
  • Genteng: 10.000 buah

Khofifah menjelaskan bahwa bantuan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan primer warga yang terdampak gempa, mencakup sandang, pangan, dan papan. "Bantuan yang diberikan ini adalah wujud kepedulian dan kehadiran pemerintah untuk mencukupi kebutuhan primer mencakup sandang, pangan dan papan pascagempa bumi, serta beberapa material seperti semen, batu bata serta galvalum," ujarnya. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam proses pemulihan.

Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian dan dukungan dari Gubernur Khofifah. "Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Khofifah atas kunjungannya, bantuan ini bukan hanya logistik, tapi juga semangat kebersamaan Jawa Timur yang membuat warga kami merasa tidak sendirian," kata Bupati. Kunjungan dan bantuan ini memberikan semangat baru bagi warga untuk bangkit kembali.

Dampak Gempa Bumi dan Kerusakan di Situbondo

Gempa bumi yang menjadi pemicu kunjungan Gubernur Khofifah terjadi pada Kamis (25/9) pukul 16.04 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) awalnya melaporkan magnitudo 5,7, yang kemudian dimutakhirkan menjadi magnitudo 5,4. Pusat gempa berada 18 kilometer tenggara laut Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, dengan kedalaman 12 kilometer.

Meskipun gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, dampaknya cukup signifikan terhadap infrastruktur permukiman warga. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo mencatat bahwa sebanyak 145 rumah mengalami kerusakan. Selain itu, beberapa fasilitas umum juga tidak luput dari kerusakan akibat guncangan gempa.

Kerusakan rumah dan fasilitas umum tersebar di empat desa di Kecamatan Banyuputih. Desa-desa yang paling terdampak meliputi Desa Sumberwaru, Desa Sumberanyar, Desa Sumberejo, dan Desa Wonorejo. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya rehabilitasi dan rekonstruksi yang cepat dan terkoordinasi untuk membantu warga kembali beraktivitas normal.

Peristiwa gempa ini semakin memperkuat argumen Gubernur Khofifah mengenai pentingnya mitigasi bencana yang proaktif. Dengan adanya desa tangguh bencana, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi kejadian serupa di masa depan, mengurangi risiko kerugian, dan mempercepat proses pemulihan. Ini adalah langkah antisipatif yang vital bagi daerah rawan gempa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi