Hanny Felle, seorang perempuan adat dari pesisir Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, telah memprakarsai sebuah Gerakan Literasi Papua yang unik. Gerakan ini berfokus pada budaya lokal dan diwujudkan melalui pendirian Rumah Baca Yoboy. Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian mendalam terhadap masa depan generasi muda di kampungnya.
Inisiatif ini muncul dari keprihatinan Hanny Felle melihat anak-anak yang kini lebih akrab dengan gawai dibandingkan buku. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengikis daya pikir kritis serta jati diri mereka di tengah arus modernisasi. Minimnya akses bacaan juga menjadi pendorong utama bagi Hanny untuk bertindak.
Melalui Rumah Baca Yoboy, Hanny tidak hanya ingin menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini. Lebih dari itu, ia berupaya agar anak-anak Papua, khususnya di pesisir Danau Sentani, dapat mengenal cerita rakyat, bahasa daerah, dan nilai-nilai adat mereka. Budaya dipandang sebagai identitas penting yang harus dijaga dan dilestarikan.
Advertisement
Advertisement
Rumah Baca Yoboy telah berdiri sejak tahun 2012 dan kini berfungsi sebagai ruang belajar serta tempat berkumpul yang vital bagi anak-anak dan remaja Kampung Yoboy. Selain menyediakan beragam buku bacaan, tempat ini juga menjadi pusat interaksi sosial dan budaya yang positif. Kehadirannya menjadi oase di tengah gempuran teknologi.
Kegiatan literasi yang dilakukan di Rumah Baca Yoboy tidak sekadar mengarahkan anak-anak untuk membaca dan menulis. Lebih jauh, program-program yang dijalankan bertujuan untuk menanamkan rasa bangga terhadap budaya Papua yang kaya dan beragam. Hal ini dilakukan melalui berbagai pendekatan yang kreatif dan menarik.
Melalui buku-buku dan aktivitas interaktif, anak-anak diajak untuk mengenal kembali tradisi leluhur mereka. Mereka belajar tentang cerita asal usul Danau Sentani, mendengarkan kisah-kisah para tetua adat, hingga menyanyikan lagu-lagu rakyat yang kini hampir punah. Ini adalah upaya konkret untuk menjaga warisan budaya.
Advertisement
Hanny Felle menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya soal membaca buku pelajaran di sekolah. Pendidikan juga mencakup pemahaman mendalam tentang siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Pemahaman ini krusial untuk membentuk karakter dan identitas yang kuat pada generasi muda.
Advertisement
Hanny Felle menyadari betul pentingnya menumbuhkan kebiasaan membaca sejak usia dini. Kebiasaan ini diyakini dapat mencegah anak-anak Papua kehilangan daya pikir kritis dan jati diri mereka. Di tengah arus globalisasi, literasi menjadi alat penting untuk memfilter informasi dan mempertahankan nilai-nilai luhur.
Ia menekankan bahwa budaya membaca itu penting, namun yang lebih utama adalah mengenalkan anak-anak pada cerita rakyat, bahasa daerah, dan nilai-nilai adat. Ini adalah fondasi kuat yang akan membentuk identitas mereka. Penanaman nilai-nilai ini menjadi bagian integral dari Gerakan Literasi Papua.
Rumah Baca Yoboy menjadi bukti nyata bahwa literasi dapat berpadu harmonis dengan pelestarian budaya. Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kaya akan pengetahuan lokal dan bangga akan warisan leluhur mereka. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Papua.
Advertisement
Inisiatif seperti Gerakan Literasi Papua yang dipelopori Hanny Felle menunjukkan bahwa perubahan positif dapat dimulai dari komunitas kecil. Dengan semangat kepedulian dan inovasi, generasi muda dapat dibekali dengan literasi yang kuat serta pemahaman mendalam tentang akar budaya mereka.
Sumber: AntaraNews