Tahukah Anda? Kemenkeu Gelar Lelang Sasirangan Sindrom Down, Wujudkan Kesetaraan Hak Lewat Karya Istimewa
Kementerian Keuangan sukses menggelar Lelang Sasirangan Sindrom Down, menunjukkan komitmen pada kesetaraan hak. Karya anak-anak istimewa ini laku terjual, menarik perhatian publik.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng) baru-baru ini menggelar kegiatan lelang yang istimewa. Mereka melelang kain motif sasirangan hasil karya anak-anak dengan sindrom down. Acara ini merupakan bagian dari Lelang Serentak Harat Banar (LSHB) 10.10 yang diselenggarakan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Jumat.
Lelang unik ini bertujuan utama untuk mewujudkan kesetaraan hak bagi setiap warga negara di Indonesia. Ini adalah bentuk nyata apresiasi terhadap potensi dan kreativitas anak-anak berkebutuhan khusus. Kepala Kanwil DJKN Kalselteng, Tetik Fajar Ruwandari, menegaskan pentingnya inklusi sosial dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan.
Sebanyak 10 lembar kain sasirangan dengan beragam motif berhasil dilelang dan laku terjual seluruhnya. Harga jualnya bervariasi, mulai dari Rp400.000 hingga Rp1.000.000 per lembar. Keberhasilan ini menunjukkan dukungan dan antusiasme tinggi dari masyarakat serta pejabat yang hadir dalam acara tersebut.
Wujud Nyata Inklusi Sosial dan Apresiasi Karya Istimewa
Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kalselteng, Tetik Fajar Ruwandari, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dukungan. "Kita menghadirkan lelang sasirangan hasil karya anak-anak hebat kita yang memiliki keistimewaan," ujarnya saat LSHB 10.10 di Banjarbaru.
DJKN Kalselteng secara khusus melelang 10 lembar kain sasirangan yang dibuat oleh anak-anak sindrom down di Kalsel. Seluruhnya berhasil terjual, menunjukkan nilai dan apresiasi tinggi terhadap karya mereka. Lelang ini menjadi simbol kuat dari inklusi sosial yang diusung oleh Kemenkeu.
Tetik Fajar Ruwandari menambahkan, "Kegiatan ini menjadi simbol nyata dari inklusi sosial dalam panggung lelang negara. DJKN ingin menegaskan bahwa setiap karya sekecil apa pun layak mendapat ruang, apresiasi, dan kesempatan yang sama." Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen untuk memberikan platform yang setara bagi semua.
Salah satu anak sindrom down, Zaidan, menunjukkan kegembiraannya dengan mengacungkan jempol ketika kain sasirangan karyanya dibeli seharga Rp1 juta. "Alhamdulillah, senang sekalilah," ungkapnya, mencerminkan kebahagiaan atas pengakuan terhadap hasil karyanya.
Sinergi Kemenkeu Satu dan Transparansi Aset Daerah
Setelah sukses dengan lelang sasirangan sindrom down, DJKN melanjutkan lelang dengan total 493 kelompok atau lot barang. Barang-barang ini berasal dari berbagai kategori dengan nilai limit mulai dari Rp75 miliar. Kegiatan ini adalah wujud nyata dari semangat Kemenkeu Satu Kalsel.
Sinergi antara DJKN, DJP, DJBC, DJPb, dan seluruh unit Kementerian Keuangan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi kunci. Mereka bersama-sama menggerakkan ekonomi lokal melalui mekanisme lelang yang sehat, terbuka, dan modern. Keterbukaan dalam setiap proses lelang bukan hanya kewajiban administratif, melainkan fondasi menumbuhkan integritas dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Bupati Tabalong, Muhammad Noor Rifani, turut serta dalam acara ini dengan melelang 100 sepeda motor dan 10 mobil. Aset-aset tersebut merupakan aset desa yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Langkah ini adalah upaya mewujudkan transparansi pengelolaan aset daerah.
Muhammad Noor Rifani menegaskan, "Selama ini desa belum pernah melelang aset yang sudah tidak dimanfaatkan lagi, padahal sudah tidak efisien dan efektif lagi." Lelang ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola aset secara transparan dan efisien.
Harapan dan Dukungan untuk Kesempatan Berkelanjutan
Ketua Pusat Informasi dan Kegiatan (PIK) Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) Provinsi Kalsel, Sigit Bayuadhi, menyambut baik inisiatif ini. Ia mengaku senang pemerintah melibatkan anak-anak sindrom down untuk menghargai karya anak bangsa tanpa diskriminasi.
Sigit Bayuadhi mengungkapkan, "Kami senang anak-anak istimewa ini punya kesempatan yang sama, bahkan harga karya mereka baik ratusan persen saat dilelang." Pengakuan ini memberikan motivasi besar bagi anak-anak dan orang tua mereka. Ini menunjukkan bahwa karya mereka memiliki nilai yang diakui secara luas.
POTADS berharap bahwa kegiatan ini tidak hanya berhenti pada lelang sasirangan sindrom down kali ini. "Kami berharap ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut di kegiatan lain yang serupa," tambahnya. Harapan ini mencerminkan keinginan untuk menciptakan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di masa depan.
Sumber: AntaraNews