Sudinsos Jakbar Jaring 1.621 PMKS Sepanjang 2025, Ini Rincian Penjangkauan PMKS

Suku Dinas Sosial (Sudinsos) Jakarta Barat berhasil menjaring 1.621 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan komitmen dalam penanganan penjangkauan PMKS di wilayah tersebut.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sudinsos Jakbar Jaring 1.621 PMKS Sepanjang 2025, Ini Rincian Penjangkauan PMKS
Suku Dinas Sosial Jakarta Barat mengimbau warga tak mudah beri uang pada pengemis modus pemulung setelah kasus viral di Cengkareng, sebab mereka hanya mencari simpati. (Merdeka.com)

Suku Dinas Sosial (Sudinsos) Jakarta Barat mencatat penjangkauan terhadap 1.621 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sepanjang tahun 2025. Data ini merupakan hasil rekapitulasi komprehensif dari Januari hingga Desember 2025, yang meliputi berbagai upaya pelayanan, perlindungan, dan pengendalian PMKS di delapan wilayah kecamatan Jakarta Barat.

Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Barat, Fajar Laksono, mengungkapkan bahwa angka tersebut mencerminkan intensitas kegiatan penjangkauan yang dilakukan oleh timnya. Penjangkauan ini berfokus pada titik-titik rawan PMKS, seperti area lampu merah dan perempatan jalan, yang tersebar di seluruh Jakarta Barat.

Setiap PMKS yang berhasil dijangkau kemudian langsung dibawa ke Panti Sosial Kedoya untuk mendapatkan pembinaan awal. Langkah ini merupakan bagian dari prosedur standar Sudinsos Jakarta Barat dalam memberikan penanganan yang komprehensif kepada individu-individu yang membutuhkan bantuan kesejahteraan sosial.

Dari total 1.621 PMKS yang dijangkau sepanjang tahun 2025, gelandangan merupakan kategori terbanyak yang berhasil diamankan oleh Sudinsos Jakarta Barat. Sebanyak 629 orang teridentifikasi sebagai gelandangan, menunjukkan permasalahan tunawisma masih menjadi perhatian utama di wilayah tersebut.

Selain gelandangan, kategori psikotik juga menyumbang angka signifikan dengan 459 orang yang dijangkau. Kategori lain yang turut menjadi fokus penanganan meliputi pengamen sebanyak 99 orang, pengemis 74 orang, dan pak ogah 56 orang.

Data lebih lanjut menunjukkan bahwa pemulung sebanyak 26 orang, anak jalanan 19 orang, dan asongan 11 orang juga termasuk dalam daftar PMKS yang ditangani. Sebanyak 227 orang lainnya masuk dalam kategori PMKS lain-lain, mencakup berbagai masalah kesejahteraan sosial yang beragam.

Kegiatan penjangkauan PMKS oleh Sudinsos Jakarta Barat menunjukkan fluktuasi sepanjang tahun 2025. Bulan Agustus mencatat angka tertinggi dengan 188 orang yang berhasil dijangkau, diikuti oleh bulan Juli dengan 182 orang.

Pada pertengahan tahun, bulan Mei dan Juni juga menunjukkan angka penjangkauan yang cukup tinggi, masing-masing 167 dan 155 orang. Sementara itu, bulan Maret mencatat 145 orang PMKS yang dijangkau, menunjukkan konsistensi upaya di awal tahun.

Angka penjangkauan cenderung lebih rendah di akhir tahun, dengan Desember mencatat 97 orang, menjadi bulan dengan jumlah terendah. Bulan-bulan lainnya seperti Januari (107), Februari (121), April (113), September (112), Oktober (118), dan November (116) menunjukkan angka yang relatif stabil dalam upaya penjangkauan PMKS.

Sudinsos Jakarta Barat secara proaktif melakukan penjangkauan di berbagai titik rawan yang teridentifikasi sebagai lokasi berkumpulnya PMKS. Titik-titik ini meliputi area strategis seperti persimpangan jalan, lampu merah, dan lokasi publik lainnya yang sering digunakan oleh PMKS untuk beraktivitas.

Setelah dijangkau, para PMKS tidak langsung dilepaskan, melainkan dibawa ke Panti Sosial Kedoya. Di panti ini, mereka menerima pembinaan awal yang bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik dan memberikan dukungan dasar.

Panti Sosial Kedoya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara dan pusat pembinaan sebelum para PMKS dirujuk ke panti-panti sosial yang lebih spesifik sesuai dengan masalah yang mereka hadapi. Proses ini merupakan bagian penting dari upaya pemerintah daerah untuk memulihkan dan mengintegrasikan kembali PMKS ke dalam masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi