Sudah sebulan, 5 kapal cepat Dishub rusak di Pelabuhan Kali Adem
Merdeka.com - Minimnya perawatan kapal cepat milik Dinas Perhubungan DKI Jakarta, membuat lima kapal yang tengah sandar di Pelabuhan Kali Adem Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara mengalami kerusakan di bagian mesin. Kapal yang rusak itu adalah empat kapal Kerapu dan satu kapal Catamaran III.
Samsir (43) petugas teknisi kapal Dishub, mengatakan, rusaknya kelima kapal sudah terjadi hampir satu bulan lamanya. Menurut Samsir, pemicu kerusakan tersebut karena kapal jarang dirawat dan juga penggunaannya terlalu over time.
"Empat Kapal Kerapu rusak di bagian lower gear, pompa, as propheler dan baling-balingnya bengkok, sementara Kapal Catamaran III di as propheler nya patah," kata Samir pada Selasa (24/6).
Lebih lanjut Samir mengatakan, selain minimnya perawatan dan penggunaan yang terlalu over timer, rusaknya mesin kapal juga dipicu akibat benturan dengan balok kayu dan sampah ketika kapal beroperasi di tengah laut. Meski demikian, kata Samir, dirinya mengaku sudah melaporkan kejadian ini ke instansi berwenang.
"Saya sudah laporkan dan membuat berita acara terkait kerusakan ini. Tapi sampai sekarang belum ada tanggapan," katanya.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana UPT Aaangkutan Perairan dan Kepelabuhan Dishub DKI Jakarta, Kamaru Zaman, membenarkan hal tersebut. Menurut pria yang akrab dipanggil KZ itu, Kapal Paus belayar hanya dengan tiga mesin kapal saja karena satu mesin lain mengalami kerusakan.
"Terpaksa diberangkatkan karena penumpang sudah menunggu dan membeli tiket. Satu mesin rusak karena mengalami masalah di bagian sensor," jelas Kamaru.
Kamaru menjelaskan, pihaknya selalu melakukan perbaikan rutin di kapal tersebut setiap tahunnya. Namun, lantaran biaya perawatan yang sangat tinggi, belum lagi biaya perawatannya belum turun, maka kapal tersebut jadi mudah rusak. Menurut Kamarun, sebetulnya kapal-kapal tersebut bisa saja beroperasi melebihi standar operasional yakni tiga jam per hari, dengan catatan mesti dirawat setiap bulan.
Kamaru menjelaskan, lambatnya pencairan dana perawatan ini, karena untuk operasional kapal tersebut masih menggunakan swa kelola sejak Januari 2014. Artinya kegiatan transportasi tidak menggunakan pihak ketiga sebagai operator, melainkan dikelola sendiri oleh Dishub. Sementara bila menggunakan operator, maka biaya perawatan akan ditanggung oleh pihak ketiga tersebut.
"Kalau dari Seksi Sarpras, sesuai program sudah kita lakukan perbaikan pada Desember lalu dan untuk perawatan rutin kita tidak ada pos itu. Seharusnya perawatan rutin ditanggulangi dari swa kelola," kata Kamaru yang mengklaim swa kelola memakan anggaran sekitar Rp 9 miliar.
Sementara itu, Tri Hendro Kepala Angkutan Perairan dan Kepelabuhanan Dishub DKI Jakarta, mengatakan pihaknya tengah menyusun anggaran perawatan dan perbaikan. Dengan begitu kapal tersebut akan segera diperbaiki.
Menurut Hendro, pengoperasian kalap menggunakan swa kelola memang memberikan kesulitan kepada pihaknya. Hal ini justru berbanding terbaik apabila pengelolaan ditangani operator. "Itulah ribetnya swa kelola, kami harus menyiapkan anggaran sendiri untuk merawat dan memperbaikinya," kata Hendro.
"Intinya saat ini sedang kita persiapkan anggaran. Jumlahnya berapa sedang kita hitung, nanti setelah itu selesai, sesegera mungkin kita perbaiki," kata Hendro lagi. (mdk/did)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya