Sudah 488 Tahun ternyata Jakarta tak punya gapura bergaya Betawi
Merdeka.com - Kota Jakarta identik dengan etnis Betawi. Namun dalam perkembangannya, Jakarta menjadi kota dengan magnet yang sangat besar. Penduduk dari berbagai suku dan bangsa beramai-ramai mendatangi Jakarta.
Kota ini dianggap menjanjikan untuk kehidupan yang lebih layak dan pendapatan yang lebih besar. Jakarta pun tidak lagi hanya dihuni oleh masyarakat Betawi. Tidak ada lagi batas-batas wilayah Jakarta dengan kota-kota di sekitarnya.
Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi menilai, kondisi perbatasan di sekeliling kota Jakarta, sampai saat ini masih minim akan keberadaan gerbang penanda batas wilayah, antara Jakarta dengan provinsi-provinsi di sekitarnya.
"Pintu gerbangnya masuk ke Jakarta misalnya, tidak perlu jauh-jauh lah, misalnya di Jawa Tengah itu dari Cirebon ke Brebes itu kawasan perbatasan ada (gerbang) selamat jalan dengan bahasa daerah. Bahasa dan model seperti itu lah mungkin harus lebih diberdayakan lagi," ujar Prasetyo di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (16/6).
Prasetyo menyebut, keberadaan penanda batas wilayah ibu kota dengan menggunakan bahasa, atau simbol Betawi, dinilai akan mendorong pelestarian budaya Betawi, sesuai raperda yang diajukan oleh Pemprov DKI Jakarta tersebut.
"Budaya betawi kan banyak, nanti kalau hilang, tidak baik. Kita kan tidak tahu batasan Jakarta di sebelah mana. Sekarang banyak yang tidak tahu loh," pungkasnya.
Di bagian barat, DKI Jakarta diketahui berbatasan langsung dengan Provinsi Banten. Sementara di sebelah selatan dan timur Jakarta, ada Provinsi Jawa Barat, dan di bagian utara Jakarta merupakan Laut Jawa.
Pengamat perkotaan, Yayat Supriyatna menilai, yang dibutuhkan Jakarta bukanlah membangun sekat-sekat dengan simbol tertentu. Melainkan membangun karakter Kota Jakarta dengan kultur kehidupan perkotaan.
Yayat menjelaskan, kultur kehidupan perkotaan yang dimaksud adalah ketertiban, kebersihan dan universalitas seperti kebanyakan kota-kota dunia.
"Kita sudah kehilangan karakter kota ini. Apa yang dibanggakan dari Kota Jakarta? Banjir, kemacetan, bisa stop kendaraan di mana saja? Kita tidak menemukan sesuatu yang membuat kita bangga dengan kota ini, hanya Jakarta tempat kita mendapatkan sesuatu," tutur Yayat saat dihubungi, Rabu (17/6).
Yayat membandingkan Jakarta dengan Singapura di mana kota yang berkultur asal Melayu tersebut bisa menjadi kota yang berkarakter. Yayat menilai, ada kebanggaan saat seseorang berkunjung ke Singapura.
"Singapura semakin tua dia justru semakin muda. Masyarakatnya semakin langsing karena mau jalan, semakin tertib. Bukan semakin tua dia semakin osteoporosis, obesitas, semrawut," ungkap Yayat.
Oleh sebab itu, Yayat menekankan pentingnya membangun kultur wilayah perkotaan di Jakarta ketimbang membangun batas-batas wilayah dengan simbol-simbol Betawi. "Kita butuh simbol baru yang memiliki makna bersama," tegas Yayat. (mdk/siw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya