Siswa yang Orangtuanya Gugat Gonzaga Karena Tak Naik Kelas Pilih Pindah Sekolah

Senin, 4 November 2019 17:15 Reporter : Nur Habibie
Siswa yang Orangtuanya Gugat Gonzaga Karena Tak Naik Kelas Pilih Pindah Sekolah Sidang Gugatan Siswa SMA Kolase Gonzaga. ©2019 Merdeka.com/Nur Habibie

Merdeka.com - Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Kolase Gonzaga, inisial BB yang tidak naik kelas akhirnya memilih pindah sekolah. Diketahui, orangtua BB, tak terima anaknya tinggal kelas dan menggugat pihak sekolah.

Setelah pindah sekolah, BB pun naik kelas. BB melanjutkan ke tingkat berikutnya dari kelas XI menjadi kelas XII SMA.

"Yang bersangkutan minta surat keterangan pindah dan anak itu sendiri sudah sekolah di sekolah Bellarminus. Jadi sudah selesai masalahnya," kata Kuasa Hukum Sekolah Menengah Atas (SMA) Kolase Gonzaga, Edi Danggur di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (4/11).

Selain itu, Edi menjelaskan, selain BB, ada 16 siswa Gonzaga lainnya yang juga tidak naik kelas. Meski begitu, 16 siswa tersebut tak melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan seperti yang keluarga BB lakukan.

"Dia sudah sadar karena sudah disosialisasikan. Jadi di mata sekolah, kasus ini sudah selesai," ujarnya.

Sementara itu, Aria Andika selaku kakak kandung dari BB membenarkan terkait pindahnya BB dari sekolah Kolase Gonzaga ke sekolah lain.

"Naik kelas (BB), tetapi mohon maaf untuk menjaga sekolah yang bersangkutan dan menjaga kenyamanan BB dan teman-teman dia yang lainnya saya tidak enak untuk memberitahu ke media. Namun bisa ditanya ke pengacara Gonzaga," ujar Aria.

Diketahui, Orangtua siswa SMA Kolese Gonzaga Jakarta menggugat kepala sekolah, guru dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta ke pengadilan. Alasannya, sang anak tidak naik kelas.

Terkait hal itu, Kepala Seksi Peserta Didik dan Pengembangan Karakter Peserta Didik Disdik DKI Jakarta, Taga Radja Gah mengatakan, Permendikbud No 53 tahun 2015 memberikan kewenangan atas dewan guru untuk memberikan penilaian.

"Ada Peraturan Menteri Nomor 53 tahun 2015 tentang standar penilaian. Standar prosesnya itu bahwa rapat dewan pendidik itu adalah forum tertinggi memutuskan segala sesuatunya. Rapat dewan pendidik ya. Salah satunya adalah naik atau tidak naiknya siswa atau lulus tidak lulusnya siswa. Jadi di Gonzaga itu rapat dewan pendidik sudah memutuskan," kata Taga dikutip dari Antara, Jumat (1/11).

Lebih lanjut, Taga mengatakan, mendapatkan laporan ada persoalan masalah batas nilai murid yang berkaitan dan beberapa catatan buruk. Laporan dia terima murid tersebut pernah merokok dan makan kuaci di dalam kelas.

"Si siswa ini satu mata pelajaran nggak tuntas yaitu sejarah. Peminatan nilainya 68. KKM-nya 75. Nah kemudian ternyata jauh sebelumnya memang laporannya ada kasus saat live in program Katholik di Cilacap, dia kena tegur karena kasus disiplin," kata dia. [eko]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini