Anggota Sub Bidang Tracing STPC-19, Retno Asti Werdhani mengatakan, penyebaran Covid-19 di Sulawesi Selatan sampai saat ini masih berada di posisi 10 besar. Meski demikian, beberapa hari terakhir trennya menurun, namun belum konsisten.
Dia menuturkan, tingkat positivity rate belum sampai dengan target pemerintah yaitu penekanan jumlah positivity rate di bawah sepuluh persen.
“Setiap provinsi saat ini berlomba-lomba untuk tidak masuk dalam list 10 besar rekor kasus baru Covid-19, Sulawesi Selatan (Sulsel) masuk ke dalam 10 besar dengan tambahan angka 685 pasien per hari,” ujarnya dalam webminar BNPB, Sabtu (21/8).
Menanggapi isu tersebut, Ketua umum PGIW Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara, Pdt. Adrie Massie mengatakan, Sulawesi Selatan masih bersyukur sudah bisa menempati angka sepuluh. Karena sebelumnya Sulawesi Selatan berada di urutan lima dalam penyebaran kasus harian Covid-19.
“Jadi itu tentunya ada kemajuan dan kemajuan ini tidak terlepas dari apa yang sudah kita kerjakan bersama. Bersama-sama tokoh agama, pemerintah, tenaga kesehatan, dan sebagainya. Misalnya kami dari FKUB sudah beberapa kali mensponsori vaksin,” ujarnya.
Dia menuturkan, vaksin di Sulawesi Selatan sudah mencapai kurang lebih 2,5 juta masyarakat. Walaupun belum menyentuh target kekebalan komunal.
Selain itu, ia menyebutkan daerah dengan PPKM level 4 zona merah ada di Makassar dan Toraja. Namun sudah mengalami perkembangan besar khususnya karena bantuan walikota yang membangun tempat isolasi hingga kerjasama dengan pemerintah.
Komunikasinya Harus Lancar
Ketua Sub Bidang Komunikasi Publik Satgas Covid-19, Troy Pantouw mengatakan, melawan pandemi bisa melalui komunikasi kreatif dan melawan hoaks.
Dia menyarankan masyarakat di Sulawesi Selatan untuk membuat kerangka komunikasi yang efektif.
“Misalnya di Makassar banyak yang belum pakai masker. Komunikasinya targetnya satu dulu, supaya semua taat pakai masker dan menggunakannya dengan benar. Jadi kita punya kemenangan kecil demi kemenangan kecil supaya bisa tercapai dan pesan kuncinya yang jelas dulu,” ujarnya.
Menurutnya, memformulasikan pesan itu dengan jelas terlebih dahulu, serta tentukan target audiens yang jelas. Selain itu pilih media yang tepat untuk dapat menyampaikan informasi dengan baik dan benar serta sesuai dengan target audiens di Sulawesi Selatan.
Tidak hanya itu, ia menambahkan, pesan kunci yang didapatkan harus berdasarkan sumber-sumber yang benar.
“Buatlah pesan kunci yang sederhana dan mudah dipahami kalau perlu menggunakan bahasa setempat dan dapat diterjemahkan dalam berbagai format. Misalkan kutbah di masjid atau gereja atau renungan oleh kawan Hindu atau Budha dan sebagainya. Ini bisa diolah lagi dalam bentuk misalnya WhatsApp yang dibuat tulisan dan menarik. Kemudian sumber informasinya dan buatlah itu pesan-pesan yang kuat tapi mudah dipahami,” tuturnya.
Ia mencontohkan, Jawa Timur dan Jawa tengah yang menggunakan bahasa setempat ampuh dalam usaha penyampaian penanggulangan Covid-19.
Reporter Magang: Leony