Ada pemandangan unik yang belakangan ini menyita perhatian pejalan kaki di trotoar jalan protokol Jakarta, seperti di kawasan Tugu Tani hingga Gondangdia.
Pagar pembatas (barrier gate) berbahan stainless steel berdiri meliuk-liuk di tengah jalur pedestrian. Pagar tersebut menyerupai labirin mini.
Saking sempit dan likunya, netizen di media sosial sampai berseloroh menjulukinya sebagai 'Selat Hormuz' jalur pedestrian.
Pagar pembatas yang resmi dinamai Portal S ini sebenarnya merupakan ikhtiar terbaru Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga. Tujuannya jelas yakni membentengi hak pejalan kaki dari serbuan pengendara sepeda motor yang hobi menyerobot trotoar saat jalanan macet.
Namun, seberapa efektifkah Portal S ini menghalau aksi pemotor nakal, atau justru malah bikin pejalan kaki yang ketiban ribetnya?
Advertisement
Riwayat Inovasi Penghalau Motor
Hadirnya Portal S berkelok ini sebenarnya bukan eksperimen pertama Pemprov DKI Jakarta dalam membentengi trotoar. Sebelum model pembatas stainless berkelok ini terpasang, area jalur pedestrian sudah berkali-kali ganti 'wajah'.
Di sejumlah titik trotoar, dipasang pula bollard sebagai tiang-tiang pembatas di tepi trotoar yang difungsikan Dinas Bina Marga DKI Jakarta untuk mempertegas batas antara jalur kendaraan dan pejalan kaki.
Menurut Dinas Bina Marga DKI Jakarta, bollard sejatinya hadir sebagai kelengkapan jalan untuk melindungi keselamatan pejalan kaki agar trotoar tetap aman. Namun dalam praktiknya, celah antar-bollard maupun barrier beton kerap masih bisa diselip dan diterobos oleh oknum pengendara sepeda motor.
Alasan itulah yang melatarbelakangi munculnya inovasi terbaru berupa barrier gate berkelok atau Portal S ini. Pagar stainless yang meliuk rapat ini dirancang presisi untuk benar-benar memutus ruang gerak setang sepeda motor, meski pada akhirnya memicu tantangan baru bagi kenyamanan pejalan kaki itu sendiri.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9389761/original/000346500_1793771045-WhatsApp_Image_2026-11-04_at_12.37.58.jpeg)
Advertisement
Kesadaran Pemotor Masih Minim
Pantauan merdeka.com, salah satu portal S di sekitar Tugu Tani, Jakarta Pusat pada Rabu (4/11), menunjukkan kebingungan spontan dari sejumlah pejalan kaki. Pagar yang berdiri meliuk tajam di tengah jalur jalan tak hanya membuat langkah melambat, tetapi juga memancing rasa heran warga yang melintas.
Agus (45), salah seorang pejalan kaki yang melintas di lokasi, sempat menghentikan langkahnya dan memilih berjalan agak berputar saat melihat area pagar tersebut.
"Walah, ini pagar buat apa sebenarnya? Saya kira tadi ada razia atau apa, kok bentuknya meliuk-liuk gini di tengah trotoar," ujar Agus saat berbincang dengan merdeka.com.
Agus sempat kebingungan ketika melintasi pembatas tersebut. Menurutnya, meski niatnya menghalau motor, bentuk fisik yang tidak biasa ini justru membuat pejalan kaki harus ekstra hati-hati agar tidak membentur besi pembatas.
Di sisi lain, efektivitas fisiknya terbukti ampuh membendung pemotor. Pagar besi yang meliuk rapat ini sukses membuat setang dan bodi motor terkunci total, sehingga pemotor nakal tidak lagi bisa menerobos masuk.
Kesaksian dari warga dan pemotor di sekitar Stasiun Gondangdia mengonfirmasi dampak instan dari besi pembatas ini. Seorang driver ojek online (ojol) yang kerap mangkal di sekitar lokasi menyebutkan bahwa penyerobotan trotoar biasanya memuncak saat arus kemacetan sore hari.
"Ini baru banget dibuat. Biasanya kalau sore kan macet banget tuh, kadang motor pada naik-naik ke situ. Tapi sekarang semenjak dipasang ini udah enggak ada lagi yang naik," ujar Ali, pengemudi ojol tersebut saat ditemui di lokasi pada Kamis (5/11).
Meski ampuh menahan pemotor, seorang juru parkir di sekitar kawasan tersebut mengutarakan pandangan tajam soal latar belakang maraknya penyerobotan trotoar sebelum pagar dipasang. Menurutnya, serbuan motor terjadi akibat kombinasi jalanan sempit, desakan pengendara yang mengejar waktu, tiadanya tata tertib, serta pos polisi di sekitar lokasi yang sudah tidak aktif difungsikan.
"Banyak banget pemotor yang naik, istilahnya jalan pintas karena pada buru-buru. Ditambah tata tertibnya belum ada dan pos polisi di dekat sini juga udah nggak dipakai, makanya pada manfaatin trotoar," kata Purwanto, juru parkir setempat.
Advertisement
Dilema Aksesibilitas
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9389633/original/062879200_1793765147-IMG_20261104_094501.jpg)
Meski diniatkan untuk keamanan pejalan kaki, temuan langsung di kawasan Stasiun Gondangdia justru memperlihatkan kontradiksi atas aspek inklusivitas.
Ubin pemandu (guiding block) berwarna kuning yang sejatinya dirancang sebagai panduan bagi penyandang tunanetra terlihat berhenti dan berbelok di luar celah pagar. Garis kuning tersebut seolah terhenti sebelum menyentuh kelokan Portal S.
Kondisi tersebut makin kentara dengan hadirnya traffic cone (kerucut oranye) yang ditempatkan persis di lantai tengah Portal S. Keberadaan kerucut ini praktis mempersempit ruang gerak pejalan kaki, sekaligus menutup total kemungkinan bagi pengguna kursi roda atau orang dengan barang bawaan besar untuk lewat.
Namun, keberadaan kerucut pembatas dan garis yang terputus tersebut rupanya menandakan bahwa pengerjaan fasilitas ini memang belum rampung sepenuhnya. Pengemudi ojol di lokasi menyebutkan, pengerjaan semen dasar serta perapihan akses pagar pembatas ini masih dalam tahap penyelesaian oleh petugas.
"Ini pengerjaannya emang belum kelar total, masih baru banget dibangun dan diarsir semennya. Makanya dikasih kerucut dulu di tengah biar nggak dilewatin orang pas semennya masih basah," jelas Ali.
Meski masih dalam tahap pembangunan, keberadaan pagar yang memblokir alur utama trotoar ini terlanjur membuat pengguna jalan kagok, terutama saat arus pejalan kaki dari arah stasiun sedang padat di jam sibuk.
"Lagian di tengahnya malah dikasih kerucut oranye gitu. Kita yang mau jalan cepat dari stasiun malah bikin kagok. Daripada ribet miring-miringin badan cuma buat ngelewatin besi sama kerucut, ya mending saya muter lewat samping sekalian," kata Rian (28), pejalan kaki yang baru keluar dari arah Stasiun Gondangdia.
Portal S yang berkelok di kawasan Gondangdia hingga Tugu Tani ini berdiri sebagai cermin dilematika tata kota Jakarta. Di satu sisi, dia terbukti ampuh menjadi perisai instan membendung aksi nekat pemotor yang mengejar jalan pintas. Namun di sisi lain, proses pembangunan yang terkesan 'memaksa' serta minim aksesibilitas sementara ini memperlihatkan bahwa ruang aman bagi pejalan kaki masih harus dibayar mahal dengan kenyamanan mereka sendiri.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9389632/original/080322800_1793765146-IMG_20261104_100148.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9391373/original/034047200_1793899373-1f6f9e20-aebf-49d5-8991-358030b7fef3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9391161/original/061259100_1793875111-WhatsApp_Image_2026-11-05_at_16.52.52.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9391334/original/089863100_1793892914-IMG-20261105-WA0055.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2285814/original/023075600_1532022456-IMG_20180719_224813.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9391285/original/031467800_1793884020-c6c2587e-3a37-40e1-ab0c-a7c1c5bab9d4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9391322/original/074659900_1793891407-IMG-20261105-WA0027.jpg)