Buku Mati yang Kembali Hidup di Kwitang

​Di antara tumpukan lembaran usang Toko Buku Kwitang, fenomena menarik berembus. Di era serba digital, anak-anak muda justru kembali berburu buku fisik, menghidupkan kembali denyut pasar tua sekaligus menyambung asa sang penjual.

Auria Setiarum Cahayani
Buku Mati yang Kembali Hidup di Kwitang
Potret Toko Buku Restu, Kwitang, Jakarta Pusat.

Aroma halaman buku usang mengudara di salah satu sudut Pasar Buku Kwitang, Jakarta Pusat. Hidung anak-anak muda begitu tajam menangkap apa yang menjadi nutrisi otak mereka. Mata menatap lekat, berpindah dari satu bait diksi ke bait lainnya, hingga senyum tipis merekah saat judul yang dicari akhirnya tertangkap mata.

​Bagi anak muda, lembaran kusam itu adalah asupan nutrisi bagi pikiran. Bagi Saiful (54), lembaran kertas merah dari pembeli adalah penyambung napas hidupnya.

​Di toko kecilnya yang menjadi bagian dari Toko Buku Restu, Saiful duduk di antara ribuan tumpukan novel dan buku ilmiah. Pria yang sudah menjajakan buku di Kwitang sejak 1987 ini merekam betul bagaimana zaman berubah.

Dari era kejayaan lapak kaki lima, gempuran serba digital dan e-book, hingga fenomena baru yang belakangan membuatnya tersenyum. Anak muda kembali berburu buku fisik.

​"Dulu pas mulai serba digital emang sempat sepi, tapi sekarang malah terbalik. Anak-anak muda, mahasiswa, sampai anak SMP makin ramai balik cari buku ke sini," kata Pak Saiful saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (2/11)

 

Nostalgia AADC dan Buku Langka

Film Remaja Lawas yang Menggambarkan Kehidupan Anak Muda pada Masanya
Ada Apa dengan Cinta? (IMDb)

Toko Buku Restu tak pernah kehilangan pesonanya. Selain menawarkan bacaan dengan harga miring, sudut lapak ini menyimpan daya tarik tersendiri lewat jejak nostalgia tempat syuting film Ada Apa Dengan Cinta (AADC).

​Nostalgia pop culture ini memang memegang peranan besar. Lapak buku Kwitang yang legendaris pernah menjadi latar ikonik saat karakter Cinta dan Rangga asyik berburu buku tua.

Rekaman visual tersebut rupanya melekat kuat di ingatan generasi muda, memantik dorongan untuk merasakan langsung sensasi thrifting buku bekas di lokasi aslinya.

​Saiful bercerita, pembeli muda yang datang tak hanya warga Jakarta. Tak sedikit pengunjung dari luar daerah yang sengaja mampir karena penasaran usai melihat unggahan yang viral di media sosial, seperti TikTok dan Instagram.

​"Banyak juga mereka dari daerah pada datang ke mari. Soalnya sini kan dulu pernah disyuting film Rangga dan Cinta, kan pernah ada di situ. Sekarang dari kenal di YouTube, di TikTok juga udah banyak," tutur Saiful dengan mengulas senyum.

 

Merawat Literasi di Zaman Kilat

Perjalanan Saiful dan para pedagang di Kwitang bukannya tanpa lekuk. Dia mengenang masa-masa awal tahun 2000-an ketika penataan kota membuat para pedagang kaki lima di pinggir jalan Kwitang harus berpencar dan berpindah tempat. Namun, keputusan bertahan selama puluhan tahun terbayar ketika gelombang minat baca anak muda kembali menguat.

​Di hari-hari ramai seperti akhir pekan, omzet Saiful bisa menyentuh angka Rp 1 juta per hari. Hasil tawar-menawar selembar dua lembar uang kertas dari para pembeli itulah yang menjaga napas tokonya tetap berdenyut.

​Bagi Saiful, kehadiran anak-anak muda di toko bukunya membawa harapan baru. Di tengah gempuran konten serba cepat di media sosial, geliat anak muda yang sudi meluangkan waktu menyusuri Kwitang adalah bukti bahwa buku fisik belum mati.

​

Pengunjung Toko Buku Restu di Kwitang Jakarta Pusat. (merdeka.com/Auria Setiarum Cahayani).
Pengunjung Toko Buku Restu di Kwitang Jakarta Pusat. (merdeka.com/Auria Setiarum Cahayani).

Pengalaman serupa dirasakan oleh Alya, salah satu pengunjung Toko Buku Restu. Bagi Alya, buku fisik masih memegang kendali atas kenyamanan membaca dibanding format digital (e-book). Membaca di layar laptop terasa terlalu ribet, sementara layar ponsel dinilai terlalu sempit untuk menikmati alur cerita dengan leluasa.

​Tak hanya soal kenyamanan mata, alasan berburu buku bekas tentu berpatokan pada harga yang miring serta kesempatan mengamankan buku-buku terbitan lama yang sudah tak lagi dicetak ulang. Sensasi menemukan 'harta karun' berupa buku original langka inilah yang tak bisa digantikan oleh transaksi online.

​"Puas banget kalau dapet buku lama yang sudah enggak terbit lagi, ori, dengan harga miring. Kemarin salah satu buku yang kubeli itu tulisannya St. Takdir Alisjahbana terbitan tahun 1985," tutur Alya.

​Soal pilihan genre, buku sastra, kritik sastra, hingga topik sejarah masih jadi incaran. Urusan kantong, para pembeli muda ini biasanya menyiapkan tenggat budget berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu untuk sekali kunjungan.

​"Paling kisaran 50 sampai 150 ribu, soalnya seringnya kalap kalau sudah nemu buku yang disuka," kata dia.

​Di Kwitang, lembar-lembar usang itu terus menemukan pemilik barunya, menghidupkan pikiran sang pembeli, sekaligus menyambung asa sang penjual.

Rekomendasi