Palembang Dikepung Asap Berbahaya, Sumsel Hadapi Puncak Suhu Panas

Suhu udara di Sumsel tercatat sangat tinggi seiring memasuki puncak suhu maksimum utama. Suhu tertinggi mencapai 37 derajat celsius, berada di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan.

irwanto
Oleh irwanto - Reporter
Palembang Dikepung Asap Berbahaya, Sumsel Hadapi Puncak Suhu Panas
Tangkapan layar kualitas udara di Palembang berdasarkan situs AQI.

Kualitas udara di Palembang masih masuk level berbahaya akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bulan ini Sumatera Selatan memasuki puncak suhu maksimum utama.

Berdasarkan grafik riwayat konsentrasi partikulat (PM2.5) yang terpantau di Stasiun Talang Betutu Palembang, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), Selasa (13/10), masih masuk dalam level berbahaya. Dalam rentan waktu pukul 00.00-09.00 WIB, PM2.5 berkisar 185,3-453,5 mikrogram meter per kubik.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis menjelaskan, meningkatnya PM2.5 disebabkan masih banyaknya kejadian kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Arah angin menuju Palembang sehingga asap menyelimuti kota itu.

"PM2.5 di Palembang masih masuk level berbahaya," kata Wandayantolis, Selasa (13/10).

Wandayantolis mengatakan, suhu udara di Sumsel tercatat sangat tinggi seiring memasuki puncak suhu maksimum utama. Suhu tertinggi mencapai 37 derajat celsius, berada di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan.

Berdasarkan perkiraan, suhu tertinggi di Sumsel terjadi di Ogan Komering Ilir dan Banyuasin yang berkisar 35-37 derajat celsius. Sementara daerah lainnya seperti di Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Palembang, berkisar 25-35 derajat Celsius dan daerah dataran tinggi, seperti Pagaralam, suhu udara berkisar 15-36 derajat celsius.

"Peningkatan suhu sebagian besar wilayah Sumsel karena pada Oktober 2026 memasuki periode puncak suhu maksimum utama. Rata-rata suhu udara pada periode tersebut dapat mencapai 35-37 derajat celcius," kata dia.

Dia menjelaskan, fenomena ini berkaitan dengan gerak semu tahunan matahari yang telah melintasi ekuator menuju Belahan Bumi Selatan (BBS). Meski penyinaran matahari terus bergeser ke selatan, suhu maksimum tidak langsung mencapai puncaknya pada saat yang sama.

"Permukaan bumi membutuhkan waktu untuk merespons energi matahari yang diterima sehingga puncak suhu dapat terjadi beberapa minggu setelah periode penyinaran maksimum. Jeda ini dikenal sebagai thermal lag," ujar dia.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena musim kemarau masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumsel dan asap masih menjadi perhatian. Suhu tinggi, kelembapan tanah yang rendah, dan vegetasi yang mengering dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

"Jika terjadi penyulutan api, kebakaran dapat lebih mudah berkembang dan memperburuk kondisi asap," kata dia.

Dalam situasi ini, semua pihak diimbau tidak melakukan aktivitas membakar lahan, kebun, maupun sampah. Kemudian menghindari sumber api di area yang kering dan mudah terbakar, serta mengurangi aktivitas fisik berat saat cuaca sangat panas dan mencukupi kebutuhan air minum.

Rekomendasi